Pegiat Anti-Tembakau Dipertanyakan Nasionalismenya

Masyarakat Pemangku Kepentingan Kretek Indonesia (MPKKI) mempertanyakan kampanye anti-tembakau di Indonesia yang dilakukan kelompok anti-rokok atau tembakau yang berjuang atas dan demi kepentingan nasional.

“Kepentingan nasional yang mana? Untuk siapa dan menguntungan siapa pengatasnamaan kepentingan nasionalis tersebut?” ujar Manajer Riset dan Advokasi MPKKI, Zamhuri di Jakarta, Selasa (14/8).

Zamhuri menegaskan, kepentingan nasionalisme jangan hanya didasarkan pada ide dan gagasan yang justru merugikan dan menimbulkan rasa permusuhan atau pertentangan sesama warga bangsa. Gagasan yang mengklaim nasionalis yang didasarkan pada usaha memusuhi sesama warga, patut diduga dan bisa jadi menyimpan agenda yang bertentangan dengan ideologi nasionalisme.

“Karena Pancasila sebagai dasar dan fondasi membangun kesadaran nasionalisme tidak pernah mengajarkan memusuhi bangsanya sendiri,” ungkapnya.

Menurutnya, soal rokok, kita kembalikan pada semangat untuk mencari jalan keluar bersama. Apalagi rokok sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat sejak Indonesia belum berdiri. “Usianya lebih tua dari Indonesia dan sudah pasti lebih tua dari orang-orang yang memusuhi rokok,” cetus dia.

Logikanya, jika rokok menjadi kambing hitam biang keladi berbagai penyakit yang dituduhkan, maka sudah akan ditinggalkan dan tidak akan berkembang seperti sekarang. Memang di dalam rokok terkandung zat negatif dan positif. Namun, zat yang negatif terlalu dibesar-besarkan. Sementara yang positif sama sekali tidak pernah digali informasinya.

“Karena itu, untuk memperoleh informasi yang seimbang, perlu dikembangkan usaha untuk menggali sisi positif dari rokok,” bebernya.

Zumhuri yang juga Sekretaris Pusat Studi Kretek Indonesia itu mengatakan, janganlah menerima pendapat atau informasi tanpa pernah mengadakan kajian (riset) sendiri yang lebih valid nilai kebenarannya. Gunakan pertimbangan dan logika yang lebih sesuai dengan kepentingan dari berbagai sudut pandang yang berkembang di masyarakat Indonesia.

“Bukan hanya semata karena telah menjadi agenda kepentingan global, tetapi justru bertentangan aspirasi dan kepentingan sebagian masyarakat yang tidak bisa diabaikan nasib dan masa depannya,” tegas dia.

Sedangkan terkait bantuan asing, Zamhuri berpendapat, perlu dipilah dan dipilih mana bantuan asing yang murni bantuan atau tanpa pamrih dengan bantuan yang sarat kepentingan. Pertanyaannya, bantuan untuk berbagai program tobacco control itu termasuk yang mana? Tuan sendiri yang tahu, karena tuanlah yang telah menerima bantuan tersebut dan getol mengkampanyekan rokok sebagai musuh.

“Soal apakah sepak terjang tuan dengan menikmati bantuan asing tersebut mengusik dan mendhzolimi saudara tuan sebangsa, bukan menjadi urusan tuan,“ tukasnya.

Menanggapi nasionalisme dalam pengendalian tembakau yang didengungkan oleh kalangan anti tembakau, aktivis Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK) Zulvan Kurniawan menilai sebagai sesuatu yang hanya berupaya menggiring opini publik untuk berempati kepada gerakan mereka.

“Mana ada bekerja dengan dana asing dan sudah diarahkan program apa yang dikerjakan, kok ngomong nasionalisme?“ ucapnya heran.

Kalau memang mereka berteriak nasionalisme, lanjut Zulvan, ada hal yang harus mereka lakukan, tidak berkampanye menaikkan cukai, menghilangkan standarisasi produk, tidak mengampanyekan diversifikasi tanaman kepada petani tembakau dan tidak memaksakan regulasi yang bertentangan dengan semangat kedaulatan dan keadilan.

“Seharusnya kelompok anti tembakau mengampanyekan nasionalisasi perusahaan kretek yang sudah dikuasai asing dan menolak impor tembakau,” pungkasnya.