Menyelamatkan Kretek

merokok budaya
merokok budaya

Komunitas Kretek menyosialisasikan kretek tidak secara umum sebagai rokok, tapi lebih dari itu, kretek sebagai identitas dan simbol kebudayaan Indonesia.

JIKA Kuba dikenal di dunia internasional dengan cerutunya, Indonesia seharusnya juga dikenal melalui kreteknya, sebagai rokok asli khazanah Nusantara. Tetapi, pada kenyataanya banyak terjadi kesalahan umum dalam mempersepsikan kretek.

Dari latar belakang sejarah dan kultural, kretek yang terdiri atas ramuan tembakau, cengkeh, kapu laga dan lain-lain, sebenarnya bebeda dengan rokok putih yang hanya berbahan tembakau saja. Pada kretek juga dikenal tidak ada filter dan tidak diragukan lagi keabsahannya sebagai produk asli Indonesia.

Bahkan di Nusantara sejak abad ke-16, dari mulai kaum priyayi, orang Belanda, hingga rakyat jelata mengenal kretek melalui tradisi menginang sebagai cikal bakal persentuhan orang Indonesia dengan kretek secara merakyat, dengan mencampurkan kapur (injet), gambir, dan tembakau. Saat ini, kita mengenal Kudus sebagai Kota yang identik sebagai penghasil kretek dengan basis produksi industri rumahan hingga industri besar.

Atas dasar pentingnya kretek sebagai pintu masuk untuk berbicara tentang identitas, prinsip, kedaulatan dan mengadvokasi orang-orang yang berada di balik kretek –di mana kretek dikapitalisasi oleh industri besar– maka lahirlah Komunitas Kretek pada Oktober 2010, di salah satu kota yang terkenal sebagai sentra tembakau bermutu internasional, Jember.

Tidak main-main, komunitas yang berdasarkan asas paguyuban itu memiliki struktur memiliki satu Sekretariat Nasional dan 7 Sekretariat Wilayah. Adapun ketujuh wilayah tersebut adalah Medan, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Jember, dan Makassar.

Dilansir dari laman www.komunitaskretek.or.id, advokasi Komunitas Kretek terhadap tembakau dan rokok kretek berlangsung di dua lini besar. Pertama, bahwa sumber-sumber ekonomi yang menjadi sumber penghidupan orang banyak harus tetap berada di tangan rakyat. Kedua, dalam operasi dagangnya, industri-industri asing (dalam hal ini industri rokok putih dan farmasi internasional) sekaligus melakukan penggrojokan wacana harus dibongkar oleh wacana tandingan. Selain alasan pertama di atas, wacana tandingan ini penting sebagai perlindungan dari jumud dan bekunya kesadaran dan kekritisan khalayak dalam memandang persoalan tembakau dan rokok kretek.

“Konsen Komunitas Kretek pada advokasi konsumen, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tidak punya keberpihakan, kretek kita diakuisasi oleh pihak besar. Kretek saat ini hanya perusahaan-perusahaan kecil,” tutur Jibal Windiaz, pendiri Komunitas Kretek Jakarta saat ditemui Selasa (30/4) di acara Haul 7 Tahun Kepergian Pramoedya Ananta Toer, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jibal menambahkan, “Terlalu naif jika kita membicarakan rokok/kretek sebagai satu-satunya pemicu kanker, banyak tuduhan buruk pada merokok yang kita patahkan.”

Dalam gelaran memeringati figur sastrawan besar itu, Jibal juga memberikan orasi budaya berjuluk “Pram dan Kretek”. Menurutnya, Pram dan kretek sebagai kesatuan tanda, seperti dia dengan mesin tulis tak bisa dipisahkan. Tidak berjarak. Kretek bagi Pram selain sebagai alat pemantik inspirasi, juga jamu relaksasi.

“Dini hari 30 April silam. Pram tutup usia, tetapi bukan berarti tutup sudah buku revolusi bagi kita para pejuang buminya manusia. Kretek adalah kawan senasibnya. Seperti juga nasib jutaan petani, buruh linting, asongan, dan isndustri rumahan hari ini,” ujar Jibal dalam salah satu orasinya, yang juga menyiratkan perjuangan kaum buruh.

Nyatanya, kita tak bisa menutup mata bahwa kretek merupakan komoditas menarik sebagai incaran kepentingan asing. Seperti rempah-rempah Nusantara yang menjadikan negeri ini pernah terjajah. Secara interpretasi simbol, kretek tak bisa lepas dari relasi kekuasaan, juga manipulasi medis. Sehingga, perjuangan kawan-kawan muda kita layak diapresiasi melalui Komunitas Kretek. Melalui diskusi-diskusi kecil forum kretekus, media yang bisa diakses melalui jejaring sosial, hingga ikut mendeklarasikan Koalisi Nasional Penyelamatan Tembakau (KNPK).

Dalam waktu dekat Mei-Juni, Komunitas Kretek akan melaksaknakan kegiatan kreatif yang menarik, yaitu “Nyethe” (membatik rokok bersama-sama dengan memakai kopi sebagai bahan tinta batik). Selain itu, penting juga jika kita memperlakukan kretek seperti kita mengakui dan mengagungkan batik.

Wacana tentang kretek ini menjadi isu yang tidak sekadar seksi, namun krusial. Komunitas ini sama sekali bukan mengajak -orang untuk merokok. Namun, memberikan sebuah kesadaran kritis menyoal humanisme. Mau dikemanakankah para buruh industri rokok linting bila sumber nafkah yang mengepulkan asap dapur mereka ditutup?