Rokok Kretek Warisan Budaya Nusantara

Bagi para penikmatnya, rokok kretek dirasa lebih nikmat dibanding rokok biasa, tanpa cengkeh (putihan).

Pasalnya, kandungan cengkeh yang terdapat dalam rokok kretek, dianggap sebagai obat sebagaimana pertama kali ditemukan pada 1880-an.

“Itulah kenapa kretek dianggap warisan budaya nusantara,” jelas Sekjen Komunitas Kretek (Komtek), Alfa Gumilang kepada Okezone, di Jakarta, Minggu (31/5/2015).

Penemuan kretek tak bisa dilepaskan dari sosok Haji Jamhari, seorang petani tembakau asal Kudus, Jawa Tengah. Saat itu, ia yang mengidap penyakit asma, bereksperimen dengan mencampurkan potongan cengkeh kedalam lintingan tembakau sebelum akhirnya dibakar.

Singkat cerita, penyakitnya hilang lantaran ia rutin melakukan pengobatan dengan cara tersebut.

“Kisah Haji Jamhari diabadikan di museum kretek di Kudus, makanya saya heran kenapa kretek sekarang dianggap pembawa penyakit,” imbuhnya.

Saat ini, di Indonesia terdapat sekira 600 ribu hingga sejuta petani tembakau. Sementara petani cengkeh, tercatat sekira 300 ribu yang umumnya tersebar di wilayah Indonesia timur.

Namun, melalui Perarturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif, pemerintah terkesan melakukan standarisasi produksi olahan tembakau, termasuk rokok.

“Peraturan tersebut menghilangkan cita rasa kretek, dan ada kesan pemaksaan selera rokok (putih),” sambungnya.

Tercatat, hingga saat ini, tiga perusahaan rokok asing telah mengakuisisi industri lokal.

Alhasil, rokok kretek selain diserang melalui peringatan melalui kampanye hari antitembakau, juga digempur oleh industri rokok itu sendiri melalui perubahan campuran yang menghilangkan kekhasannya.

“Itulah kenapa kita kampanyekan selamatkan kretek, karena dari hulu ke hilir lokal semua,” pungkasnya.

Sumber: Okezone

(Visited 357 times, 2 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Berita