Sebagian besar masyarakat mengenal batik berasal dari Pekalongan, Yogyakarta, Solo, ataupun Cirebon. Namun, tak banyak orang mengetahui jenis batik dari Kudus, kota pesisir pantai utara Jawa Tengah.

Hampir punah, batik Kudus kini mulai bangkit melalui pemberdayaan masyarakat setempat. Seorang pemerhati batik Kudus, Miranti Serad Ginanjar menuangkan pencarian dan usahanya dalam mendokumentasi batik dengan motif detil ini ke dalam sebuah buku, ‘Batik Kudus the Heritage’.

“Inspirasinya datang ketika saya bertemu dengan kurator Jerman, Mr Rudolfman, ternyata sebuah museum di Jerman mengoleksi sebuah batik Kudus yang dibuat sejak 1930, dan ia mengatakan kepada saya bahwa batik Kudus ini sangat dicari oleh dunia, harganya mencapai US$20 ribu,” kata Miranti dalam peluncuran bukunya, beberapa waktu lalu.

Tak menyangka bahwa batik yang berasal dari kampung halamannya sendiri ternyata menjadi primadona di luar negeri, Miranti pun mulai memperhatikan keberadaan batik ini.

Di Kudus sendiri, keberadaan batik Kudus hampir punah karena minimnya pengrajin dan pelestari batik.Tapi sejak 2008, pengrajin batik Kudus mulai kembali bergeliat setelah puluhan tahun tertidur pulas.

Ia pun bertemu salah seorang pembuat batik Kudus, Yuli Astuti. Bersama dengan teman-temannya, Miranti memulai perjalanan mendokumentasikan batik Kudus ini ke berbagai museum di dunia.Buku ini sendiri termasuk merekam perjalanan lima tahun mengembangkan batik Kudus bersama pengrajin lokal yang dibantu oleh Djarum Foundation.

Dalam perjalanan itu dan proses pendokumentasian, Miranti berhasil mengumpulkan berbagai motif batik Kudusan.Batik Kudus the Heritage tardiri dari enam bagian, mulai dari sejarah, variasi motif dan maknanya, hingga proyeksi masa depan batik Kudus.

Dari buku setebal 272 halaman ini, dapat ditemukan berbagai macam pola batik Kudus lengkap dengan identitasnya pula.Batik Kudus memiliki beberapa ciri seperti motif yang detil dan sering menggunakan motif titik-titik yang terinspirasi dari bulir beras, sebagai hasil pertanian utama daerah utara Jawa.

Hampir sama dengan kebanyakan batik yang berasal dari Jawa Tengah, batik Kudus menggambarkan tanaman dan hewan.Motif pada batik Kudus hampir mirip dengan batik pesisir lainnya seperti batik Pekalongan, Semarang, dan juga Batik Lasem. Namun pengaruh Islam, Tionghoa, dan juga Belanda ikut mempengaruhi perkembangan batik Kudus.

Batik Kudus berasal dari sebuah kampung di Kudus bernama Kampung Langgar Dalem di sekitaran Menara Kudus. Di kampung ini, tinggal keturunan para pengikut Sunan Kudus. Sehari-hari, para wanita di kampung ini kerap membatik sebagai pengisi kegiatan mereka. Batik yang berasal dari kawasan ini memiliki ciri warna khusus yaitu Babaran Langgar Dalem dan Babaran Kerjasan, yang senada dengan warna Menara Kudus, yaitu soga tembelekan atau coklat kehijauan.

Pada masa penyebaran Islam oleh Sunan Kudus, batik merupakan salah satu media yang digunakan anggota wali songo itu dalam berdakwah. Sehingga, dalam beberapa motif, menceritakan kisah dalam ajaran Islam, ataupun oranamen yang bersinggungan dengan agama Islam, seperti motif Kaligrafi.

Dalam perkembangannya, Batik Kudus juga dipengaruhi oleh status Kudus sebagai rumah bagi beberapa produsen rokok. Beberapa motif batik Kudus menggambarkan alat pembuat kretek, logo perusahaan rokok, ataupun seragam karyawan rokok. Pengaruh ini sebagai timbal balik terhadap perusahaan rokok di Kudus yang menggunakan batik Kudus sebagai bahan promosi.

Kolaborasi ini dirasa menguntungkan bagi para pengrajin batik Kudus, dengan berkembangnya industri kretek maka para pengrajin batik mendapatkan pesanan melimpah.Namun kini, beragam motif batik Kudus sudah bermunculan. Mulai dari motif kisah laksamana Cheng Ho dalam Kapal Kandas, buah berkhasiat seperti Parijotho, Sekar Jagad, hingga berbagai modifkasi gambar merak.

SUmber: CNN Indonesia