Siapa Merekayasa Film Pekerja Anak?

Dua film dokumenter tentang pekerja anak tayang di Youtube dalam waktu yang berbeda. Satu video dibuat Human Rights Watch (HRW), satu lagi dibuat Narasi Indonesia.

Berjudul Hazardous Child Labor on Indonesian Tobacco Farms, video HRW diunggah ke YouTube pada 24 Mei 2016. Sampai pukul 22.00 WIB, Kamis (10/112016) video itu telah ditonton oleh 24.160 pengunjung. Adapun film buatan Narasi yang berjudul TABAYYUN: Hazardous Child Labor on Indonesian Tobacco Farms Documentary, diunggah pada 8 November 2016. Dalam dua hari, video buatan Narasi diklik oleh 8.351 pengungjung.

Dalam keterangan videonya, Narasi menjelaskan bahwa HRW lewat film dokumenternya telah menuding terjadi perburuhan anak di perkebunan tembakau. Mereka menilai, tudingan itu merupakan tuduhan serius khususnya bagi para petani tembakau dan kepada para petani secara umum, dan bisa menghambat regenerasi petani dan bisa berujung embargo terhadap produk berkaitan.

Narasi juga menyebut, filmnya dipersembahkan untuk para petani, yang mereka nilai sebagai manusia mulia, berbudi dan berdaya, yang mewariskan nilai-nilai dan pengetahuan yang baik kepada anak-anak mereka. Bukan menjadikan anak-anak mereka sebagai budak seperti yang digambarkan dalam film buatan HRW.

Apa tanggapan peneliti HRW, Andreas Harsono yang ikut terlibat pembuatan film HRW?

Menjawab pertanyaan Rimanews yang dikirim lewat SMS, Andreas menilai film yang dibuat oleh Narasi hanyalah pengalihan isu.

“Kami menilai video tersebut hanya pengalihan isu terhadap upaya melindungi anak-anak dari keracunan tembakau saat membantu orangtua mereka di pertanian tembakau,” jawab Andreas, juga lewat pesan SMS.

Dia tidak menjawab pertanyaan Rimanews selanjutnya tentang dugaan merekayasa adegan-adegan film dokumenter yang diproduksi HRW yang melibatkan anak-anak, seperti yang terlihat di film buatan Narasi.

Dari Bandung, sutradara film dari Narasi, Darwin Nugraha menepis ada kepentingan di balik filmnya. “Kami melihatnya dari sisi film saja, karena film HRW itu film dengan perspektif Barat. Jadi pendekatannya adalah perspektif bukan investigasi. Saya juga tidak pernah menyebut HRW merekayasa. Lihat saja di filmnya,” katanya.

Menurut Darwin, dia terinspirasi membuat film dokumenter “tandingan” setelah selesai menonton film dokumenter buatan HRW yang secara visual dinilainya cukup aneh.

“Film HRW masif ditayangkan di televisi-televisi. Mirip kampanye. Kami melacak lokasi-lokasi shooting film HRW lewat Google Earth. Dari sana kelihatan, (film HRW) diambil di Probolinggo, Wonosobo,” katanya.

Selama proses pengambil gambar di lokasi-lokasi yang sama dengan tokoh yang juga sama dengan yang dilakukan oleh HRW, Darwin mengaku menemukan fakta-fakta yang berlainan dengan yang ditemukan oleh HRW.

“Kami tidak merekayasa tapi lihat saja faktanya, dan bandingkan,” kata Darwin.

Sumber: Rimanews

(Visited 91 times, 7 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Berita