Kretek Bukan Rokok

rokok kretek
rokok kretek

Masih banyak orang yang tidak dapat membedakan antara rokok dan kretek. Kebanyakan berkecenderungan untuk menyamakan satu produk dengan produk lain hanya karena cara menggunakan produk itu yang sama. Sama-sama di hisap. Dan kemudian mengabaikan kandungan-kandungan didalam produk tersebut.

Tentu tak dapat disamakan antara rokok dengan kretek, atau menyamakan rokok dengan cerutu, atau menyamakan rokok dengan pipa cangklong. Ada bentuk, kandungan dan juga nilai sejarah yang berbeda disetiap produk tersebut. Dan pada kesempatan ini, kita akan mencoba membedah apa yang membedakan antara kretek dengan rokok.

Rokok berasal dari kata roken yang diambil dari bahasa Belanda. Rokok adalah rajangan tembakau yang dibungkus dengan kertas. Tembakau sendiri adalah satu jenis tanaman yang dari benua Amerika yang digunakan oleh bangsa Indian untuk keperluan spiritual dan pengobatan. Bangsa Eropa kemudian membawa kebiasaan merokok dari masyarakat Indian ke Eropa, dan mencoba menanam tembakau tersebut ke berbagai negara jajahannya, dimana salah satunya adalah Indonesia.

Portugislah yang kemudian membahwa tanaman tembakau tersebut ke Nusantara untuk ditanam dan dijual ke Eropa, dimana rokok telah menjadi bagian dari gaya hidup bangsa Eropa pada saat itu. Tembakau dipaksakan ditanam di Indonesia sebagai sebuah bentuk penjajahan yang dilakukan bangsa Eropa.

Kretek diambil dari bunyi produk tersebut ketika dibakar yang menghasilkan bunyi “kretek-kretek”. Bunyi “kretek-kretek” tersebut adalah karena cengkeh yang terbakar. Ya, didalam kretek memang terdapat kandungan cengkeh dan berbagai rempah-rempah lainnya.

Campuran tembakau dan cengkeh didalam kretek juga memiliki satu cerita sejarah tersendiri. Cerita sejarah ini terjadi pada akhir abad ke 19. Alkisah Haji Djamhari, seorang warga Kudus pernah mengalami sakit asma. Dan kemudian merasa semakin baik kondisinya setelah mengoleskan minyak cengkeh didadanya. Dari situlah idenya untuk mencampurkan rajangan cengkeh kedalam tembakau yang dihisapnya.

Cerita lain juga hadir dari Mbok Nasilah pada kisaran tahun 1870 di Kudus. Di warungnya, Mbok Nasilah menyuguhkan rokok temuannya untuk para kusir yang mengunjungi warungnya. Kebiasaan menginang yang dilakukan orang pada masa itu mengakibatkan warungnya yang kotor. Sehingga dia memberikan suguhan lain bagi para kusir berupa tembakau yang dicampur cengkeh. Suguhan ini disukai oleh para kusir. Dimana salah satunya adalah Nitisemito yang kemudian menikahi Mbok Nasilah dan membangun pabrik kretek pertama, dengan merk Bal Tiga.

Bagi seorang budayawan besar Indonesia, WS. Rendra. Kretek adalah sebuah bentuk kreatifitas kebudayaan masyarakat Indonesia. Sebuah tanaman yang bukan asli dari Indonesia, namun dengan kemampuan adaptasi dan kreatifitas bangsa Indonesia yang menemukan kretek.

Kretek adalah sebuah warisan kebudayaan dari bangsa Indonesia dan kemudian berkembang menjadi satu industri yang besar yang mampu menyerap tenaga kerja dan pertanian yang besar, serta sumbangsih pendapatan kas negara yang besar, dan menjadi industri yang mampu membangun kekuatan dari hulu sampai hilir. Satu industri nasional yang mampu bertahan selama berabad-abad dan mampu bertahan ditengah berbagai terpaan krisis ekonomi yang melanda Indonesia.

Sebuah produk kebudayaan yang harusnya juga dihargai oleh bangsa ini, dan bukan justru malah dimusuhi. Akan menjadi satu hal yang ironis, jika sebuah bangsa yang besar namun tidak menghargai warisan kebudayaan dari bangsanya sendiri, bahkan menghujatnya. Suatu bangsa inlander.