Catatan Kecil dari Sinau Kedaulatan

Ada catatan kecil dari pergelaran Sinau Kedaulatan bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Universitas Diponegoro, Semarang, tanggal 15 April 2015 lalu. Catatan ini bisa jadi tidak penting. Tapi bisa jadi penting juga. Tidak penting karena sebenarnya itu kejadian yang biasa saja, sangat lazim terjadi dalam kultur masyarakat kita. Namun menjadi penting karena kami ingin menyandingkan untuk lalu membandingkannya dengan pemberitaan media yang, menurut kami, lebay.

Pergelaran berlangsung di Auditoriom Soedarto, indoor dan diselimuti penyejuk ruangan. Nyaris semua personil Kiai Kanjeng dan Cak Nun sendiri adalah perokok, bisa dibilang lumayan berat. Tapi pergelaran yang berlangsung berjam-jam itu berlangsung tanpa satu personil pun yang merokok di panggung.

Seperti ditulis oleh Rusdi Mathari di blognya, Cak Nun beberapa kali ke belakang panggung untuk merokok. Begitu pun dengan para personil Kiai Kanjeng. Mereka menghormati hadirin dan siapapun yang berada di situ yang tidak merokok. Kalau mereka ingin merokok, ya ke belakang panggung.

Kami kemudian teringat pemberitaan tentang perokok penumpang KRL yang diingatkan satpam. Dia marah, lalu memukuli si satpam. Beritanya lumayan heboh. Ahok, gubernur DKI yang sangat sibuk itu pun sampai menyempatkan diri ikut berkomentar. Perokok di Indonesia sudah dalam taraf candu sehingga mereka akan lebih galak daripada pihak yang menegur, begitu Ahok.

Kami tidak ingin menganalisa yang rumit-rumit, toh sebenarnya akal sehat kita sudah bisa menilai. Kami hanya ingin menyegarkan kembali ingatan kita pada tanyangan Kick Andy tentang Gus Mus. Waktu itu Gus Mus ditanya, “Sesudah Gus Dur meninggal banyak orang khawatir pluralisme di Indonesia terancam, akibatnya dikhawatirkan juga akan muncul banyak konflik, dan ujungnya Indonesia bercerai-berai. Apakah kekhawtiran itu berlebihan?”

Gus Mus menjawab, “Saya kira berlebihan, tetapi bisa beralasan juga.” Dia menjelaskan lebih lanjut, Gus Dur yang kelihatan muncul di permukaan, sehingga ketika tidak ada Gus Dur seperti tidak ada, tidak kelihatan. Padalah yang seperti Gus Dur banyak sekali di Indonesia ini. Di desa-desa juga masih biasa saja, pergaulan dengan sesama bangsa biasa saja. “Cuma orang itu yang dilihat kota saja,” kata Gus Mus.

Akan lebih banyak, jauh lebih banyak, orang yang masih tetap ingin ber-Bhinneka Tunggal Ika dibanding yang tidak. “Pers kan tidak pernah menayangkan orang-orang di desa, misalnya mereka berdoa bersama, segala agama, kadang di klenteng, kadang di masjid, kadang di gereja, kadang dimana-mana,” tegasnya.

(Visited 923 times, 1 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Editorial