Selamat Musim Tanam Tembakau

Musim tanam tembakau telah tiba. Sebagian daerah penghasil telah mulai menanam tembakau. Belum merata dan banyak memang, baru sebagian kecil saja. Pastilah harap-harap cemas menyesaki dada para petani tembakau, terutama yang ada di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, dan Nusa Tenggara Barat. Bukan hanya soal cuaca dan harga, namun juga regulasi yang belakangan terasa semakin menekan.

Faktor regulasi menjadi pembeda penting, setidaknya dalam satu dekade terakhir. Apalagi bagi daerah-daerah yang tembakaunya terkenal mahal. Dan regulasi bukan hanya soal tembakau impor maupun standarisasi kadar tar dan nikotin saja, tetapi sampai bagaimana tembakau dan produk olahannya dianggap sebagai ‘setan’. Ketakutan itu lumayan menghantui para petani tembakau, khususnya para petani tembakau di Temanggung, Jawa Tengah.

Barangkali atas pertimbangan itu mereka menggelar acara “Menyambut Musim Tanam Tembakau: Sinau Kedaulatan Bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng”. Musim tanam, sebagaimana musim panen, telah memiliki ritualnya sendiri-sendiri, sebab tembakau telah menyatu dalam kehidupan, bukan urusan ekonomi semata. Hadirnya Cak Nun dan Kiai Kanjeng, menjadi semacam penegas atas ketakutan yang berbeda itu: regulasi.

Beberapa perwakilan petani tembakau mengeluh kepada Cak Nun soal bagaimana regulasi terus menekan mereka, tetapi di sisi lain regulasi justru melakukan pembiaran terhadap impor tembakau. Ada petani tembakau yang bahkan meminta Cak Nun untuk tampil lagi sebagaimana saat reformasi ’98 dulu, kali ini membela petani tembakau. Ada banyak keluh kesah dan harapan disampaikan.

Cak Nun menyatakan dukungannya terhadap tembakau. Ia menjelaskan lebih lanjut, bahwa tembakau tidak jelek, hanya dijelek-jelekkan. Ada kepentingan raksasa dari luar, kepentingan bisnis yang besar, dibalik semua itu. Jika menyangkut regulasi, tidak bisa diselesaikan segera malam itu. Persoalan regulasi menuntut perubahan besar di level pemerintahan nasional, dan akan melibatkan buto-buto tadi.

Malam itu memang tidak ada solusi konkret bagi persoalan para petani tembakau. Tentu saja. Cak Nun bukan presiden, bukan pejabat negara, dan tidak menjabat apa-apa. Tapi para petani tembakau mendapat suntikan moril yang dahsyat. “Teruslah menanam tembakau. Jika Anda senantiasa bersama Allah, bersama Kanjeng Nabi, dan bersama para malaikat Allah, maka tidak ada yang bisa melawan Anda,” pesan Cak Nun disambut gemuruh ribuan petani tembakau.

Dan satu doa yang memupuk keyakinan para petani tembakau mengalir dari bibir Cak Nun: “Ya Allah, Engkau tidak main-main menumbuhkan segala tumbuhan. Engkau tidak main-main menumbuhkan tembakau bagi para petani. Barang siapa yang mempermainkan nasib petani dan tembakau, mereka akan mendapat murka-Mu. Barang siapa bermain-main dengan nasib banyak orang, mereka akan mendapat azab-Mu.”

Semoga, hal ini menular ke dalam keyakinan para petani tembakau di daerah lain, juga ke semua petani di Indonesia. Selamat menyambut musim tanam bagi petani tembakau di seluruh Indonesia!

(Visited 269 times, 1 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Editorial

Tags: ,