Puasa Merokok

Adiktif. Itulah kata yang selalu diulang-ulang dari kampanye anti rokok dibelahan dunia manapun. Dan bagi yang sudah terkena zat adiktif, maka harus masuk rehabilitasi untuk dapat berhenti menjadi adiktif.

Pada bulan puasa ini, para perokok seolah-olah seperti membuktikan bahwa rokok bukanlah sesuatu yang adiktif. Selama kurang lebih 14 jam, perokok tidak mengkonsumsi barang tersebut. Dan nyatanya, biasa saja. Tak ada rasa sakau atau harus membatalkan puasa karena tak tahan ingin merokok. Dan pada bulan puasa ini juga, kelompok anti rokok yang selalu mengatakan bahwa merokok adalah adiktif atau bahkan disebut candu, seperti bisu dan sementara waktu berhenti mengkampanyekan rokok adalah adiktif.

Kenapa mereka menyebutkan bahwa rokok adalah adiktif? Seperti tersebutkan pada aliena pertama, bahwa yang menjadi sasaran berikutnya adalah para perokok datang ke klinik-klinik rehabilitasi untuk melakukan terapi berhenti merokok. Disitulah sisi bisnis dari kampanye yang berbalut kesehatan itu terselubung. Padahal, dengan berpuasa saja perokok sudah dapat membuktikan bahwa bisa tidak merokok dan tak perlu klinik rehabilitasi untuk berhenti merokok.

Ada 65 juta perokok yang akan menjadi pangsa pasar yang menggiurkan bagi klinik-klinik tersebut. Setiap orang yang datang akan diterapi secara rutin. Setiap orang yang datang akan diberikan resep obat-obatan untuk dapat berhenti merokok. Setiap orang yang datang akan diberikan produk-produk pengganti rokok. Dan lain sebagainya. Pada titik inilah, apa yang diucapkan oleh Wanda Hamilton dalam bukunya yang berjudul Nicotine War, terbukti sudah.

Jika rokok adalah adiktif, apakah perokok yang berhenti merokok selama menjalankan ibadah puasa akan merasakan gangguan pada sistem syaraf seperti kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf, dan lain sebagainya?

Jika rokok adalah adiktif, apakah perokok yang berhenti merokok selama menjalankan ibadah puasa akan mengalami kegelisahan, kecerobohan dan kelambanan dalam bekerja, kehilangan kepercayaan diri, penuh kecurigaan, bertingkahlaku yang cenderung brutal, sulit berkonsentrasi, tertekan, merasa tidak nyaman dan mempunyai kecenderungan menyakiti diri sendiri?

Jika rokok adalah adiktif, apakah perokok yang berhenti merokok selama menjalankan ibadah puasa akan mengalami gangguan mental, anti sosial atau asusila, menjadi beban bagi keluarga dan lingkungan, pendidikan yang terganggu dan kemudian bermasa depan suram?

Jika benar rokok adalah adiktif seperti yang disampaikan dalam berbagai kampanye anti rokok, maka hal tersebut diataslah yang akan dialami oleh 65 juta perokok di Indonesia, dalam kurun waktu 14 jam mereka berpuasa. Akan ada satu gelombang massal di Indonesia, dimana 65 juta orang secara bersamaan mengalami problematika tersebut diatas.

Mengerikan jika benar itu terjadi. Bencana nasional jika benar itu terjadi. Dan tentunya, klinik-klinik rehabilitasi berhenti merokok akan kebanjiran pasien, yang tentunya juga akan berujung pada banjirnya pemasukan dari klinik-klinik tersebut, kebanjiran rezeki dari para dokter-dokter, serta akumulasi modal yang melimpah dari industri farmasi. Sayang seribu sayang, hal tersebut tidak terjadi. Tak ada gelombang massal orang sakau secara bersamaan, tak ada bencana nasional.

Dan pada saat adzan Maghrib berkumandang, para perokok dan para non perokok akan tetap berbuka dengan meneguk minuman manis seperti yang dianjurkan oleh Nabi Besar Muhammad SAW. Satu batang tentunya dinikmati dahulu oleh para perokok, lalu mengambil air wudhu dan melanjutkan kewajibannya untuk sholat Maghrib.

 

(Visited 511 times, 3 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Editorial

Tags: