Tribute to Kretek, Terima Kasih Tembakau

Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan. Begitu tulis Pramoedya dalam roman legendarisnya, Bumi Manusia. Sesuatu yang memberikan kehidupan bagi rakyat banyak tentu harus disyukuri, begitu pula dengan tembakau yang menghidupi jutaan rakyat Indonesia.

Di Indonesia, tembakau dan masyarakat telah lama hidup berdampingan. Juga tidak sedikit orang yang menggantungkan hidupnya pada tembakau. Ingat, jutaan orang hidup dari hulu ke hilir industri tembakau, mulai dari petani, buruh, hingga pedagang asongan. Kretek, produk olahan hasil tembakau, juga telah menjadi budaya dalam kehidupan masyarakat. Sederhananya, kretek telah menjadi bagian hidup bangsa ini.

Karena itulah, Tribute to Kretek, sebuah perayaan kecil untuk berterima kasih pada segala yang memberi kehidupan diadakan. Di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, lokasi diselenggarakannya acara ini, ratusan orang tumpah, memeriahkan perayaan ini. Semua tertawa, gembira, dan bahagia merayakan kretek sebagai budaya Indonesia.

Pada hari yang dikatakan sebagai hari tanpa tembakau, mereka yang hadir di Teater Kecil tak berani menafikan anugerah Tuhan. Dalam acara ini tidak ada hal yang dirusak, tidak ada yang ditolak, dan tak ada yang berkoar-koar menyatakan tidak kepada anugerah Tuhan. Semua menerima keberadaan yang lain, yang tidak merokok tak menolak perokok, dan yang merokok menghargai yang tidak merokok.

Negeri ini lebih butuh peringatan Hari Terima Kasih Tembakau Indonesia sebagai simbol perlawanan terhadap neoliberalisme asing yang ingin membunuh budaya kretek dan meruntuhkan kekuatan ekonomi nasional. Melawan mereka yang bakal mematikan jutaan petani, buruh, dan pedagang asongan yang menggantungkan hidup dari tembakau.

Karena itu, marilah bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan tembakau sehingga banyak orang dianugerahi kretek dan bisa menghisapnya dengan nikmat, berterimakasih kepada puluhan juta petani tembakau dan buruh pabrik kretek, berterimakasih pada segala yang memberi kehidupan.