Merah Putih yang Lusuh

Tanggal 17 Agustus. sejak paling tidak seminggu sebelum itu Merah Putih berjejal dimana-mana. Di jalan besar, gapura, gang, kampung, komplek perumahan, instansi pemerintah/swasta, dan lain sebagainya. Marak. Bangsa ini seperti benar-benar telah merdeka, dan merayakannya dengan penuh suka cita.

Soal apakah kita benar-benar telah merdeka, tidak pernah jadi bahasan di acara-acara yang digelar hampir di setiap desa di seluruh pelosok Nusantara. Paling-paling yang keluar hanya ajakan, himbuan, slogan: kemerdekaan harus diisi dengan kerja keras, harus diisi dengan disiplin, dengan kejujuran, keikhlasan, begitu-begitu itu.

Sementara konsumsi pribadi kita sehari didominasi produk asing. Sabun, odol, sikat gigi, shampoo, air kemasan, cemilan, sampai ke telepon selular, komputer, kendaraan bermotor, bahkan lebih jauh lagi sampai ke perbankan, lembaga pembiayaan dan asuransi.

Modal asing begitu dominan di negeri yang katanya berdaulat ini. Ada modal asing tentu tidak masalah. Tapi begitu kita telisik sedikit lebih dalam saja, dominasinya luar biasa. Agak ‘tidak pantas’ untuk ukuran bangsa yang berdaulat. Apalagi jika mengingat pesan Sang Proklamator. Sejak jauh hari Bung Karno telah memperingatkan bahaya imperialisme modal asing.

Dalam risalah “Mentjapai Indonesia Merdeka” yang ditulis tahun 1933, Bung Karno membaca kemunculan imperialisme internasioal sejak opendeur-politiek tahun 1905, dimana sejak itu modal yang masuk ke Indonesia bukan hanya modal Belanda saja, tapi juga modal Inggris, Amerika, Jepang, Jerman, Perancis, Italia dan lain-lain. Imperialisme internasional itu, lanjut Bung Karno, merubah raksasa “biasa” menjadi raksasa Rahwana Dasamuka yang bermulut sepuluh.

Cerita pun berlanjut. Kedaulatan legislator negeri ini digerogoti pula oleh modal asing. Puluhan, bahkan mungkin sampai ratusan, Undang-undang yang ditetapkan pasca reformasi dikonsultani asing. UU itu umumnya yang mengatur sektor strategis. Soal ini mari ambil contoh UU Migas yang dikonsultani USAID, World Bank, dan ADB. USAID dan ADB bekerjasama membuat draftingnya, World Bank memberi pinjaman untuk sektor reformasi energi.

Penjajahan termuktakhir tidak melulu berbentuk fisik. Tidak harus mendatangkan ribuan atau bahkan puluhan ribu pasukan. Tidak harus membawa senapan, meriam, sampai bom atom. Sang Proklamator, lagi-lagi, telah memperingatkan dari dulu: Nekolim.

“Apakah neo-kolonialisme itu? Neo-kolonialisme adalah kolonialisme ‘model baru’. Di depan hakim kolonial Bandung, tatkala atas nama Bangsa Indonesia aku menelandjangi kolonialisme, aku berkata sebagai berikut: Imperialisme bukan sadja sistem atau nafsu menaklukkan negeri dan bangsa lain, tapi imperialism bisa djuga hanya nafsu atau sistem mempengaruhi ekonomi negeri dan bangsa lain. Ia ta’ usah didjalankan dengan perang atau bedil atau meriam atau kapal perang, ta’ usah berupa perluasan daerah negeri denga kekerasan sendjata sebagai jang diartikan oleh van Kol, -tetapi ia bisa djuga berdjalan hanja dengan ‘putar lidah’ atau tjara ‘halus-halusan’ sadja, bisa juga berdjalan dengan tjara ‘penetration pacifique’.” (Pidato Genta Suara Republik Indonesia. Amanat Presiden Soekarno pada Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1963 di Jakarta)

***

Merah Putih, lambing kemuliaan bangsa ini, telah lusuh. Dalam beberapa konteks bahkan telah tercabik-cabik. Untuk kesekian kalinya kami kembali menegaskan, persoalan merokok (mengkretek) bukan semata urusan konsumsi/kesenangan pribadi. Ia adalah juga cermin lusuhnya Merah Putih. Ia adalah juga lubang kunci untuk mengintip persoalan Indonesia lebih luas.

Merah Putih boleh lusuh. Tapi Iwan Fals berkata, “Lusuhnya kain bendera di halaman rumah kita, bukan satu alasan untuk kita tinggalkan.”

Selamat ulang tahun ke-70.