Cukai Membunuhmu

Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Republik Indonesia, telah menetapkan target baru penerimaan cukai hasil tembakau pada tahun 2016 sebesar 148,9 triliun rupiah. Kenaikan cukai memang selalu terjadi ditiap tahunnya, namun kenaikan cukai tahun ini dianggap cukup signifikan besarnnya. Sementara pada tahun 2015 pemerintah mentargetkan sebesar 126 triliun rupiah. Angka yang tidak kecil tentunya ditengah situasi ekonomi Indonesia yang sedang tidak menentu seperti sekarang ini.

Cukai rokok memang sasaran empuk dari pemerintah untuk mengumpulkan pundi-pundi uang guna masuk ke dalam kas negara. Ide lain penerimaan cukai oleh negara banyak dimunculkan, namun hal tersebut seperti tak digubris. Mulai dari anggota DPR sampai para pakar ekonomi juga mengusulkan agar pemerintah memanfaatkan dan memaksimalkan penerimaan cukai diluar produk tembakau, seperti alkohol. Atau bahkan mengenakan cukai pada minuman bersoda, junkfood atau produk-produk lainnya.

Industri tembakau yang diolah menjadi rokok memang telah dikenal mempunyai kontribusi yang besar bagi penerimaan negara, bahkan ditengah krisis sekalipun seperti pada tahun 1998. Industri rokok dan alkohol adalah yang mampu bertahan dari terpaan krisis ekonomi yang luar biasa tersebut. Dan pada ancaman krisis sekarang ini, sepertinya pemerintah benar-benar belajar dari masa lalu, dengan mencoba menguras uang dari industri hasil tembakau.

Persoalanya adalah bukan sekedar industri yang akan terkena imbas dari kenaikan cukai tersebut. Tapi adalah para petani tembakau, para petani cengkeh, para konsumen rokok, atau juga industri rokok dalam skala kecil menengah.

Fakta menunjukan bahwa tingginya kenaikan cukai membuat sebagian besar pabrik rokok di skala kecil menengah di tanah air gulung tikar. Pada tahun 2009, jumlah pabrik rokok sebanyak 4.900-an, dan kini tinggal 600-an pabrik saja. Akibat dari gulung tikarnya pabrik rokok tersebut, maka imbasnya adalah banyak buruh yang kehilangan pekerjaannya. Tahun 2014 cukai naik sebesar 12%, akibatnya ada sekitar hampir 10 ribu pekerja yang kehilangan mata pencahariannya.

Lalu kenapa ketika banyak orang yang menjadi korban dari kenaikan cukai hasil tembakau tersebut, pemerintah masih tetap ngotot untuk menaikan cukai yang tinggi?

Betul memang bahwa negara juga membutuhkan uang untuk anggarannya, namun hal ini menunjukan bahwa pemerintah seperti tidak mempunyai kemampuan lain untuk mencari pendapatan negara selain dari kenaikan cukai.

Perlu diketahui, bahwa industri hasil tembakau yang totalnya senilai 248 triliun rupiah, pada tahun lalu memberikan kontribusi berupa pajak dan cukai sebesar 154 trilliun rupiah, atau kurang lebih 52,7% dari total nilai industri tersebut. Angka tersebut jauh sekali dari jumlah sumbangan yang diberikan oleh industri farmasi, yang selama ini juga berada dibalik kampanye anti rokok. Nilai total dari industri farmasi adalah sebesar 307 triliun rupiah, namun pada tahun lalu hanya memberikan kontribusi sebesar 3 triliun saja kepada negara. Atau hanya sekitar 0,9%.

Belum lagi kontribusi industri hasil tembakau kepada sosial masyarakat seperti beasiswa pendidikan bagi ribuan anak didik, apresiasi kebudayaan indonesia, dukungan kepada olahraga nasional, dan lain sebagainya. Lalu apakah kita pernah melihat adanya bantuan atau sponsor dari industri farmasi yang menaggung-agungkan kesehatan itu kepada olahgara tanah air? Ataukah industri tersebut juga memberikan beasiswa pendidikan sebesar yang diberikan oleh industri hasil tembakau yang selama ini dicap sebagai industri yang membuat kesehatan masyrakat menjadi buruk.

Kembali lagi kepada persoalan orang-orang yang terancam kehilangan pekerjaan karena pabrik tempat bekerjanya tutup, atau orang-orang yang kehilangan kesempatannya untuk membangun usaha di industri hasil tembakau. Jika puluhan ribu buruh pabrik rokok di PHK, mereka kehilangan pekerjaan, kehilangan mata pencaharian, maka sebenarnya mereka seperti orang yang dibunuh oleh sebuah kebijakan. Begitu pula dengan gulung tikarnya pabrikan rokok kecil dari kenaikan cukai yang terlampau tinggi.

Jika selama ini kita melihat dalam kemasan rokok dan juga dalam berbagai kampanye anti tembakau bahwa rokok itu membunuhmu, nyatanya dan faktanya justru kebijakan pengendalian tembakau melalui cukai telah menunjukan diri sebagai algojo dari matinya orang-orang yang selama ini hidup dari pertembakauan.

Lalu siapakah yang kemudian akan terkekeh riang karena berhasil membunuh puluhan ribu orang dalam waktu sekejap? Ya, mereka kelompok anti rokok yang selama ini berteriak lantang dan rajin me-lobby pemerintah serta menikmati uang dari industri farmasilah yang terkekeh riang dan bangga karena telah berhasil membunuh puluhan ribu orang dalam waktu sekejap.