22,3 Juta Anak Indonesia Merokok, Percaya?

Kesehatan memang menjadi satu-satunya argumentasi dari berbagai upaya kelompok anti tembakau untuk memusnahkan emas Hijau itu dari bumi Indonesia. Persoalan kehidupan petani, sejarah dan budaya, sumbangsih cukai bagi Negara, lapangan kerja, usaha mandiri para pedagang kelontongan, semua dinafikkan dan tak mau dikompromikan.

Dalam isu anti tembakau yang dibalut dengan kesehatan, memiliki berbagai varian pula di dalamnya. Dan salah satu varian yang belakangan ini muncul adalah anak yang menjadi komoditi kampanye. Dijadikan dalih untuk mencapai berbagai tujuan.

Isu anak memang menjadi hal yang cukup sensitif bagi publik (orang tua), lihat saja respon publik ketika Human Rights Watch mempublikasikan video dengan tema perbudakan anak di ladang tembakau. Penggalan video yang juga menafikan berbagai kultur, cara orang tua mengajarkan anaknya berkebun untuk meneruskan bertani. Atau juga menafikan logika dan akal sehat, bahwa orang tua mereka dahulunya juga diajarkan hal serupa saat masih kanak-kanak, dan sampai saat ini masih bisa bekerja.

Setelah isu itu berlalu, lalu segeralah muncul sebuah data mengejutkan yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Tak tanggung-tanggung, mereka menyebutkan 54% anak di Indonesia adalah perokok.

Data Badan Pusat Statistik menyebutkan jumlah penduduk Indonesia yang masuk dalam kategori anak adalah sebesar 82.600.000 anak. Dan 50% diantaranya adalah usia anak 9 sampai 17 tahun, atau sekitar 41.300.000 juta anak. Kita asumsikan bahwa prosentase anak merokok sebesar 54% itu, adalah yang berusia 9-17 tahun, maka kira-kira 22.302.000 anak yang merokok. Angka yang luar biasa tentunya. Percaya? Cukup gunakan akal sehat saja untuk mempercayainya, tak perlu melakukan sensus.

Angka 22,3 juta itu tentu bukan sedikit jumlahnya. Jika benar, maka dengan mudah kita akan melihat disetiap sudut saat anak berkumpul bermain sepakbola, maka setengahnya lebih mereka bermain bola sambil merokok. Kita juga akan dengan mudah melihat anak yang bermain kelereng atau Play Station, sembari merokok.

Entah apakah itu yang dilihat sehari-hari oleh Menteri Kesehatan, Nila Djuwita F. Moeloek dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yambise. Tapi hal itu tak terlihat di mata saya, dalam keseharian. Entah anda.

Tak dipungkiri memang, bahwa ada anak yang memang telah merokok. Apakah kami dari kelompok yang pro terhadap tembakau, mendukung hal itu atau bahkan menyuruh anak untuk merokok? Tidak! Kami juga tak setuju anak merokok. Dan apakah jumlahnya sedemikian besar?

Namun demikian, cara dan model kampanye yang kami gunakan bukan dengan menyampaikan data ke publik dalam bentuk yang ‘lebay’, atau tak masuk akal. Karena jika hal itu digunakan, maka tak ubahnya bahwa ada pembodohan dan kebohongan publik yang sedang digalakkan untuk sebuah keinginan menghapuskan tembakau. Kami lebih memilih untuk menyampaikan kampanye merokok etis, yang salah satunya adalah tak merokok di depan anak kecil atau tak menjual rokok pada anak.

Apa ujung dari kampanye 22,3 juta anak Indonesia merokok itu? 22,3 juta anak merokok bisa terjadi karena warung-warung rokok masih bisa menjual rokok dengan sistem ‘ketengan’ per bantang, yang dapat diakses oleh anak-anak. Dan sialnya, solusi dari itu semua sepertinya mengarah pada larangan untuk menjual rokok dengan ketengan, di warung-warung atau asongan, dan menaikan harga rokok menjadi mahal.

Satu pilihan pragmatis, atau memang sengaja hanya itu solusinya. Tak ada pilihan solusi untuk melakukan edukasi, padahal pemerintah dengan segala struktur dan kapasitasnya dapat melakukan hal itu. Anak Indonesia, orang tua dan para pedagang di warung-warung sepertinya sedang menjadi dalih untuk tujuan menaikan harga rokok seperti di berbagai negara lain.

Dan yang pasti, dukungan publik diharapkan dapat tercapai, terlepas apakah data itu sebuah kebenaran atau kebohongan.