Apa Benar Perokok Hanya Menguntungkan Pengusaha?

Kebanyakan orang di Indonesia kerap berpikir buruk terhadap rokok. Hal ini, tentu saja, juga berlaku bagi para konsumennya. Kami para perokok selalu dianggap membuang uang kami untuk menghisap barang yang dikatakan tak berguna itu. Kami kemudian diajak berhitung, secara matematis tentu saja, tentang apa yang bisa kami dapatkan andai kami tak merokok.

Kadang kami menganggap lalu persoalan hitung-menghitung yang mereka ajarkan itu. Toh mereka yang tidak merokok dan mengajarkan logika berhitung itu tetap belum mampu membeli rumah atau pun mobil. Lagipula, persoalan ini tak bisa dihitung secara matematis.

Bagi beberapa teman yang menjadi pekerja kreatif, rokok kerap menjadi teman baik untuk mencari inspirasi dan menghasilkan uang. Dengan mengeluarkan uang untuk membeli sebungkus rokok, kami bisa mendapat uang untuk jatah makan tiga hari. Jadi lebih untung kan?

Karena itu persoalan merokok ini sebenarnya menguntungkan bagi kami sendiri. Membuat kami bisa bekerja dengan baik atau malah membuka jaringan yang baik dengan klien. Hal ini membuat kami tak menganggap membeli rokok itu sebagai beban, tapi sebagai modal. Ingat itu.

Selain kebiasaan berpikir tak benar itu, soal hitung-menghitung dan untung-rugi, kami juga kerap dituduh menjadi alat yang cuma memperkaya para pengusaha rokok. Halooo, cuma memperkaya pengusaha? Coba simak baik-baik penjelasan berikut deh.

Dari semua uang yang kami keluarkan untuk membeli sebungkus, sebenarnya hanya ada sebagian kecil dana yang diterima perusahaan rokok. Itu pun tidak semua dihitung sebagai keuntungan, karena harus dikurangi biaya produksi, gaji pekerja, juga biaya distribusi. Ini hal pertama yang perlu Anda tahu.

Lalu, bagian yang lebih besar justru diterima pemerintah berdasar aturan tentang pungutan yang dibebankan pada perokok. Asal tahu saja, dari setiap bungkus rokok pemerintah mengambil sekitar 60-70% uang yang kita bayar. Artinya, jika kita membeli sebungkus rokok dengan harga Rp 18 ribu, pendapatan yang diterima negara mencapai hampir Rp 11 ribu. Jadi hanya Rp 7 ribu rupiah yang didapat industri untuk menutup modal produksi. 

Sebesar itu, memang. Kalau tidak besar mungkin pemerintah bingung mau dapat uang dari mana lagi. Apalagi ada tiga jenis pungutan yang dibebankan dalam urusan rokok ini. Ada cukai, Pajak Pertambahan Nilai, serta Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Ketiga pungutan ini dibebankan langsung pada perokok.

Untuk cukai, Kementerian Keuangan menetapkan tarifnya berdasar golongan produk. Misal untuk Sigaret Kretek Mesin golongan 1, tarif yang dikenakan sebesar Rp 530 perbatang. Jika kita membeli sebungkus rokok isi 16 batang, maka cukai yang kita bayarkan adalah Rp 8.480 perbungkus. Itu baru cukai loh.

Kemudian ada PDRD. Pungutan ini mungkin tidak familiar di telinga masyarakat. Tapi pungutan ini dilakukan oleh pemerintah daerah untuk menambah pendapatan mereka. Untuk tarifnya, jumlah yang diambil adalah 10% dari tarif cukai. Jika cukainya Rp 530 perbatang, maka akan dipungut Rp 53. Jika dihitung sebungkus, kalikan saja 18 batang. Total PDRD menjadi Rp 484.

Nah yang terakhir adalah PPN. Untuk tarif pungutan ini juga ditentukan oleh Kemenkeu. Tarif PPN yang dikenakan pada rokok adalah 9,1% harga jual eceran (HJE). Nah, karena HJE  perbatang SKM Golongan 1 adalah Rp 1.120, maka dikenakan tarif sebesar Rp 102. Untuk sebungkus, menjadi Rp 1.632.

Total, uang yang diterima pemerintah dari sebungkus rokok mencapai angka Rp 10.960. Nilai ini setara dengan 62% dari total uang yang kita keluarkan untuk sebungkus rokok jenis itu. Artinya, apa yang diterima pemerintah dan negara ini jauh lebih besar daripada yang diterima oleh perusahaan. 

Karena hal inilah sebenarnya pemerintah menjadi pihak yang paling berkepentingan terhadap industri hasil tembakau. Coba bayangkan, Anda tidak mengeluarkan modal apa-apa untuk suatu produk, namun mendapat pemasukan yang lebih besar dari pihak yang memberi modal. Kurang baik apa produk ini pada pemerintah.

Atas dasar inilah kami merasa perlu meluruskan pemahaman orang kebanyakan terkait perokok. Bahwa anggapan yang selama ini ada, anggapan kalau kami cuma memperkaya pengusaha rokok saja tidaklah benar. Karena, apa yang kami lakukan sebenarnya hanya berkontribusi bagi negara ini dengan memberi mereka pemasukan yang tidak sedikit. Setidaknya, kontribusi kami bahkan lebih besar dari pajak sektor tambang yang selama ini merusak lingkungan, tapi tak pernah kalian tentang itu.