Melawan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Menanam Kehidupan

Merayakan tanggal 31 Mei sebagai hari tanpa tembakau sedunia adalah sesat pikir. Sesungguhnya hari tanpa tembakau adalah sebuah upaya mengerdilkan tanaman yang memberi manfaat bagi banyak orang. Sebuah upaya mematikan komoditas yang menghidupi jutaan masyarakat Indonesia.

Perayaan semacam ini tak ubahnya ucapan “bakar, bakar, dan bakar” atau “bunuh, bunuh, dan bunuh” yang kerap dilontarkan kelompok intoleran. Mereka menolak keberadaan kelompok lain karena tidak senang atau tidak suka. Mengupayakan pemusnahan terhadap hal yang tak mereka suka.

Keinginan-keinginan semacam inilah yang dapat merusak tatanan kehidupan bangsa. Rasa benci dan tidak suka, upaya untuk memaksakan kehendak terhadap orang lain akan membuat mereka terintimidasi. Tidak menutup kemungkinan perkara ini bisa saja menjadi hal yang tak baik bagi bangsa ini. Karena itu, perayaan semacam ini harusnya dihentikan apapun alasannya.

Sudah beberapa tahun terakhir Komunitas Kretek berjuang melawan keberadaan hari yang katanya tanpa tembakau tersebut. Melawan yang kami lakukan dalam konteks untuk menghentikan hari yang menafikan komoditas bermanfaat bagi bangsa dan negara. Melawan dengan niatan menyadarkan mereka akan manfaat yang diberikan kretek pada bangsa ini.

Pada gelaran Tribute to Kretek tahun ini, kami mengajak berbagai pihak untuk bekerja bersama untuk melestarikan alam raya yang memberikan kita penghidupan. Mengangkat tema “Menanam adalah Melawan”, kami mengajak semua kelompok untuk berterimakasih kepada semua yang telah memberi kita kehidupan.

Kami menyadari betul, tahun ini memang menjadi tahun yang berat bagi gerakan advokasi lingkungan. Banyak kasus perusakan alam mencuat, memakan korban rakyat yang tergusur penghidupannya. Dalih pembangunan yang diagungkan ternyata membuat roda kehidupan tidak berputar. Alam raya dirusak, hidup rakyat terancam.

Karenanya kami mengadakan sebuah aksi bersama menanam 1000 bibit pohon di pinggiran Kali Pesanggrahan Jakarta Selatan. Satu dari sedikit kali yang daerah aliran sungainya masih bisa kita selamatkan. Selain itu, kami juga mengundang beberapa tokoh yang lebih dulu melakukan perjuangan pada pelestarian alam dalam sebuah sarasehan.

Acara ini tidak ada hal yang dirusak, tidak ada yang ditolak, dan tak ada yang berkoar-koar menyatakan tidak kepada anugerah Tuhan. Semua menerima keberadaan yang lain, yang tidak merokok tak menolak perokok, dan yang merokok menghargai yang tidak merokok.

Karena itu, mari bersama melawan pengerdilan terhadap komoditas berharga bagi banyak rakyat Indonesia. Melawan mereka yang bakal mematikan jutaan petani, buruh, dan pedagang asongan yang menggantungkan hidup dari kretek. Dan marilah berterimakasih kepada alam raya dan segala yang memberikan kehidupan.