Menolak Menafikan Tembakau

Berterimakasihlah pada semua yang memberi kehidupan. Begitu Pramoedya berkata. Pram, penulis agung itu, pernah merasakan segala pahit dalam hidupnya. Hidup dari penjara ke penjara, dihancurkan karya-karyanya, hingga dibuang dan kelaparan pernah Ia alami. Karenanya, persoalan “berterimakasih kepada segala yang memberi kehidupan” bukanlah hal yang sederhana bagi Pram.

Persoalan berterimakasih ini juga yang membuat Komunitas Kretek beserta stakeholder gerakan advokasi kretek lainnya menolak perayaan hari tanpa tembakau sedunia. Bagi kami, perayaan itu adalah sebuah pengingkaran atas nikmat, rezeki, dan kehidupan yang jutaan masyarakat Indonesia dapatkan dari kretek dan tembakau. Upaya penafikan tembakau tentu saja membuat marah kami yang hidup bersama tanaman ini.

Suka ataupun tidak, tembakau dan kretek telah memberi banyak manfaat bagi masyarakat Indonesia. Dari tanaman ini, jutaan petani menggantungkan hidupnya. Puluhan tahun mereka telah menanam tembakau. Hidup dan sejahtera mereka hadir bersama panen tembakau yang berkualitas.

Lalu dari industri hasil tembakau, para buruh kretek bisa menghidupi keluarganya. Industri yang satu ini terbilang padat karya, menyerap cukup banyak tenaga kerja. Sudah membuat banyak orang bisa mendapatkan pekerjaan, industri ini juga membantu pemerintah mengentaskan pengangguran yang merajalela.

Dan dari barang konsumsi inilah pemerintah mendapatkan pemasukan besar untuk negara. Jutaan konsumen kretek membayarkan cukai dan pajak dari setiap batang kretek yang mereka hisap. Dalam setahun negara bisa meraup pendapatan hingga 160 triliun dari cukai dan pajak pertambahan nilai dari kretek. Jumlahnya berkisar 5% dari APBN 2017.

Kretek dan tembakau memang telah lama hidup bersama masyarakat Indonesia. Kehadirannya telah menjadi bagian dari laku masyarakat. Menjadi budaya dan bagian dari adat. Bukan hanya sekadar menghidupi secara ekonomi, tapi juga mengisi relung hidup masyarakat.

Maka, ketika ada pihak-pihak yang dengan sengaja berupaya mengerdilkan nilai tembakau di Indonesia, pantaslah banyak orang yang marah dengan kelompok tersebut. Nilai kretek bagi sebagian masyarakat Indonesia tidak pantas diingkari. Kretek dan tembakau bagi mereka tak layak dikerdilkan.

Merayakan hari tanpa tembakau sedunia adalah sebuah penafian yang tak patut dilakukan. Merokok ataupun tidak, kretek tetap memberi manfaat pada semua orang. Jadi tidak sepantasnya hari tanpa tembakau dirayakan di negara yang punya kepentingan teramat besar terhadap tembakau.

Boleh saja ada masyarakat yang tidak menyukai kretek dan tembakau. Itu adalah hak mereka sebagai warga negara. Tapi berkehendak mematikan penghidupan jutaan rakyat Indonesia, menafikan manfaat suatu komoditas karena ketidaksukaan, tentu itu adalah hal yang mengerdilkan kemanusiaan.

(Visited 72 times, 2 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Editorial