Menghargai Keberagaman dalam Kebersamaan Hari Kemenangan

ketupat
ketupat

Setelah tiga puluh hari bertarung dengan hawa nafsu manusia, datanglah akhirnya hari kemenangan yang dijanjikan. Ya, hari kemenangan bagi seluruh umat manusia. Hari raya Idul Fitri mungkin adalah hari raya bagi umat muslim. Namun di Indonesia, hari kemenangan ini dirayakan oleh seluruh lapisan rakyat. Tanpa terkecuali.

Merayakan lebaran di Indonesia adalah merayakan kebersamaan. Kemenangan mungkin saja dikatakan sebagai milik umat muslim, tapi kebersamaan adalah milik semua. Yap, perayaan lebaran setiap tahunnya selalu penuh kebahagiaan. Apapun agama yang dianut, lebaran tetap membawa kebahagiaan bagi seluruh masyarakat.

Pada momen ini, tak terlihat sekat antar agama. Pada setiap Salat Id di mesjid Istiqlal, pengelola Katedral Jakarta selalu membantu pengamanan berjalannya ibadah tersebut. Pun pada perayaan tahun ini yang jatuh pada hari minggu, pihak Katedral dan kebanyakan gereja di Indonesia mengubah jadwal ibadah Minggu agar tak mengganggu prosesi shalat Ied tersebut.

Sekilas hal itu tampak biasa saja. Tapi bagi masyarakat Indonesia yang penuh keberagaman, hal itu adalah marwah penting yang harus selalu dijaga. Keberagaman bagi beberapa pihak adalah sesuatu yang selalu ditentang. Hingga saat ini masih saja ada pihak-pihak yang menginginkan kita semua seragam. Tanpa memandang hak orang lain, semua harus mengikuti apa yang pihaknya jalani.

Begitulah kemudian kita memaknai lebaran setiap tahunnya. Merayakan momen di saat semua orang melupakan perbedaan dan saling membahu melancarkan jalannya perayaan. Memaknai keberagaman sebagai satu hal yang perlu dan harus kita jaga dari ancaman pihak yang getol merayakan keseragaman.

Kebersamaan yang hangat selalu hadir pada momen ini. Entah muslim, hindu, katolik, budha, protestan, atau kong huchu semua ikut merayakan kebersamaan yang mulai dirampas kejamnya pekerjaan. Entah perokok ataupun mereka yang tidak merokok, semua ikut merayakan hari lebaran.

Tak pernah ada upaya membeda-bedakan orang yang boleh merayakan lebaran. Merokok ataupun tidak, semua ikut riuh dalam kegembiraan. Dalam kebersamaan.

Menikmati libur lebaran sembari bercengkerama dengan tetangga juga keluarga. Berkumpul bersama kerabat dan sahabat jauh. Sembari menikmati opor ayam juga ketupat, menikmati sajian sembari ngobrol dan udud bersama.

Inilah perayaan paling hakiki dalam hari raya. Merayakan kemenangan atas hilangnya pembedaan yang biasa dilakukan sehari-hari. Tak ada lagi diskriminasi terhadap orang yang berbeda. Baik merokok ataupun tidak, semua boleh ikut. Mau dia berbeda agama ataupun suku bangsa, semua tetap mengucap maaf sembari juga memberi maaf.

Semoga setelah semua kebersamaan dan keceriaan tanpa sekat dalam hari kemenangan ini, masyarakat kita tidak lantas melupakan indahnya hari raya. Semoga nantinya tak ada lagi diskriminasi pada semua orang, tak ada lagi keributan yang ditimbulkan karena perbedaan. Dan semoga masyarakat tetap teguh menghargai keberagaman dan tak lagi menghakimi mereka yang berbeda.

Selamat hari lebaran untuk semua masyarakat Indonesia. Mohon maaf lahir dan batin tidak hanya kepada kretekus, tapi juga semua yang tidak merokok.

(Visited 41 times, 1 visits today)