Mari Menjadi Bangsa yang Merdeka

panjatpinang
source: www.wego.co.id

Sepekan sudah semarak merayakan peringatan kemerdekaan Indonesia ke-72 dilaksanakan. Berbagai lomba digelar, kampung-kampung dipasangi gapura merah putih, begitupun di pekarangan rumah-rumah bendera merah putih berkibar. Tak perduli tua, muda, suku, agama, dan dari golongan mana anda berasal, merayakan peringatan kemerdekaan Indonesia adalah hak bagi seluruh rakyat Indonesia.

Meskipun ada yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia belum sepenuhnya merdeka, tapi lihatlah semarak perayaan kemerdekaan yang meriah ini. Mulai dari urunan dana warga (kalau tidak urunan biasanya akan menyumbangkan hal yang lain), gotong-royong untuk persiapan pelaksanaan perayaan, hingga gelora semangat yang dimunculkan bak pahlawan yang berjuang di medan perang merebut kemerdekaan.

Lihatlah, bukankah ketika rakyat berbahagia itu juga bagian dari kemerdekaan? Senyum sumringah orang-orang Indonesia ketika mengikuti dan menyaksikan perlombaan macam balap karung, makan kerupuk, atau tarik tambang, merupakan kemerdekaan tersendiri bagi rakyat Indonesia.

Kita boleh berdebat mengenai persepsi kemerdekaan, tapi untuk peringatan kemerdekaan atau yang biasa disebut ‘17 Agustusan’, di dalamnya terselip hal-hal yang tidak bisa diukur dengan teori kesejahteraan atau rumus matematika apapun. Karena disana terdapat suatu kondisi sosial-budaya masyarakat, tradisi, dan semangat kemerdekaan.

Menyoal kemerdekaan yang terdapat di dalam semarak ‘17 Agustusan’, sama halnya dengan menghisap kretek. Banyak perdebatan mengenainya. Kretek seringkali disebut sebagai produk yang berbahaya bagi kesehatan, tapi kemudian para sepuh menghisap kretek dengan kondisi yang sehat. Kretek juga sering disebut bukan warisan budaya bangsa Indonesia, tapi berbagai literatur dan sumber sejarah menyebutkan kretek ada jauh sebelum bangsa Indonesia merdeka dengan rempah-rempah asli Indonesia sebagai bahan baku utamanya. Masih banyak perdebatan-perdebatan lainnya.

Kretek tumbuh berdasarkan kondisi sosial-budaya masyarakat, tradisi, dan nilai-nilai kesehatan yang sudah hidup jauh sebelum industri kesehatan modern membawa kepentingan dagangnya. Kretek bahkan menjadi sarana kebahagiaan yang merakyat bagi bangsa Indonesia.

Kemerdekaan dalam isi kepala manusia tidaklah bisa diseragamkan, ia bisa saja berbeda persepsi, tetapi sesungguhnya ia akan tetap satu jua dalam tujuan yang dicapai. Menjadi bangsa yang merdeka dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana, seperti menghargai perbedaan antar sesama, saling membantu satu sama lain, menghargai hak orang lain tanpa lalai dengan kewajibannya. Hal-hal tersebut sangat sederhana dan berulang-ulang kali diingatkan, tapi memang sangat sulit untuk dilakukan.

Turut meramaikan semarak ’17 Agustusan’ di tempat tinggal kita salah satu perwujudan menjadi bangsa yang merdeka, terserah perayaan yang seperti apa, tapi lebih baik turut serta dengan masyarakat ketimbang cemberut seharian di rumah sambil mencibir persoalan kemerdekaan yang belum selesai. Seperti halnya dengan menikmati kretek, berguyub ria dengan sesama perokok, tanpa harus mengganggu hak orang yang tidak merokok. Begitupun dengan yang menentang keberadaan kretek, sudah sepatutnya menghargai pula hak para penghisap kretek selama masih menjunjung etika. Dari situ kita akan belajar bagaimana menjadi bangsa yang merdeka.

(Visited 1 times, 1 visits today)