Mari Mengucapkan Terima Kasih di Hari Kretek 2017

Dirgahayu Hari Kretek 2017
Dirgahayu Hari Kretek 2017

Menghisap kretek masih dan akan tetap menjadi barang konsumsi yang digandrungi masyarakat Indonesia. Sejak abad ke-19, kretek menjadi trend ketika seorang pribumi bernama Haji Djamhari dengan pengetahuan yang dimilikinya meracik tembakau dan cengkeh, lalu menghasilkan satu barang konsumsi yang kemudian menjadi bagian dari identitas bangsa Indonesia. Sebagai sebuah produk local indigenous, kretek telah melewati berbagai dinamika sejarah yang cukup panjang. Ia tak lekang oleh waktu. Karena kretek hidup dalam urat nadi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat.

Kretek acapkali pula dicap sebagai barang konsumsi yang kontroversial akibat kampanye antitembakau yang kian hari kian keras, massif, dan terorganisir. Meski demikian, kretek yang telah berdampingan hidup bersama masyarakat Indonesia berbilang abad, telah membentuk satu siklus kehidupan ekonomi yang tidak mudah untuk dihancurkan dengan dalih-dalih kesehatan dan stigma negatif.

Melihat mata rantai di hulu kretek, jutaan petani tembakau dan cengkeh yang berabad-abad lamanya menanam bukan hanya untuk menggantungkan penghidupan, namun juga mewariskan budaya bercocok tanam kepada anak-cucu di masa yang akan datang. Agar kelak bertani bukan hanya sekadar dongeng yang menghiasi buku-buku dan pengetahuan bangsa Indonesia.

Tak kalah penting, prosesi kebudayaan yang hadir dalam proses menanam tembakau dan cengkeh. Di Demak salah satunya, khususnya warga Dusun Girikusumo, Desa Banyumeneng menjelang musim tanam, para petani biasanya akan mengadakan mayoran dengan para santri Girikusumo pimpinan Kyai Munif Zuhri. Di situ, para petani dan santri akan mengadakan makan dan doa bersama untuk kelancaran tanaman mereka hingga musim panen tiba.

Atau lihatlah para petani tembakau di Temanggung, kehidupan mereka erat bertalian dengan spirit bertani, mereka meyakini satu hal: setiap memulai suatu pekerjaan seperti mencangkul, menanam, memanen, dimulai dengan perhitungan hari. Perhitungan hari dalam hal ini adalah perpaduan dari kalender Jawa dan Masehi. Ada hari-hari baik yang diyakini sebagai hari yang cocok berdasarkan hari neptu-nya.

Para petani cengkeh juga memiliki tradisi dan budaya. Di pulau Simeulue, Aceh, terdapat nilai-nilai adat yang diyakini bersama, masyarakat kerap mengaitkannya sebagai sebuah “kewajiban” untuk dijalankan secara bertanggungjawab. Dalam aturan tersebut mengisyaratkan bagi setiap pemuda yang ingin menikah, wajib menanam pohon cengkeh minimal sebanyak 25 pohon. Jika hal itu tak dilakukan, hukum masyarakat setempat akan memberikan sanksi tak menikahkan, dan surat keterangan menikah tak akan dikeluarkan.

Hadirnya tradisi dan budaya di sektor hulu Industri kretek, menandakan jika kretek hancur maka hancur pula kehidupan dan nilai-nilai kebudayaan masyarakat yang sudah sekian abad lamanya tumbuh bersama kretek.

Mata rantai di sektor hilir terdapat jutaan masyarakat yang menggantungkan hidup dari kretek. Industri kretek menghidupi ribuan buruh yang bekerja melinting dan memproduksi kretek sebagai produk konsumsi. Bahkan buruh industri kretek ada yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya bekerja di sektor produksi.

Lalu, jangan lupakan sektor distribusi dan perdagangan yang di dalamnya ada jasa angkutan, marketing, advertising, hingga pedagang eceran. Mereka juga hidup bersama kretek.

Tentu kita dapat membayangkan jika kretek dan industrinya hancur, nasib masyarakat yang menggantungkan hidupnya di sektor hilir terancam putus mata rantainya. Akan ada jutaan orang tak bekerja, karena sektor industri yang padat karya ini akan memukul sektor ketenagakerjaan.

Melihat betapa luar biasanya kretek dalam memberikan penghidupan bagi negara ini, sudah menjadi kewajiban bagi kami perokok sebagai konsumen kretek untuk mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang hidup berdampingan dengan kretek. Tanpa mereka, niscaya kretek tak akan bisa bertahan sebagai warisan budaya bangsa Indonesia. Dan tentunya perokok tak dapat menikmati barang konsumsi yang memiliki cita rasa khas Indonesia.

Tahun-tahun yang berat ke depannya bagi kretek dan industrinya akan menanti. Tetapi jika semua elemen dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen bergandengan tangan untuk menjaga kelestarian kretek dan keberlangsungan industrinya, maka tak ada yang sulit untuk dilewati.

Dirgahayu kretek Indonesia!