Kretek: Living Heritage bukan Fascist Heritage

budaya pramoedya merokok
budaya pramoedya merokok

Harder to establish is the contribution of heritage to the job of rebuilding communities whose foundations have been destroyed – usually by the collapse of heavy industries. (Liz Forgan – Chair of Art Council England)

Malam ini terasa dingin sangat, angin berhembus sangat kencang. Kata seorang kawan ini efek dari global warming. Hmm…entahlah, yang ku tahu malam ini dingin deras menusuk tulang. Ku pungut bungkus kretek dari laci rak televisi, ah..ternyata masih tersisa dua batang di dalam. Perlahan aku nyalakan kretekku dan kuhisap perlahan untuk sekedar menemani malam. Angan ku berlarian mengingat sebuah perdebatan di sebuah social media beberapa hari ini.

Kretek, begitulah kita menyebutnya. Tidak perduli menggunakan filter atau tidak, dan arena itulah kretek berbeda dengan rokok putih. “Perpaduan antara tembakau lokal dan cengkeh, itu prinsipnya”, kata seorang kawan. Hmm…sebuah penamaan yang konsisten dengan bunyinya ketika kita mengkonsumsinya, kretek…kretek.

“Inilah Warisan Kebudayaan yang sedang dihancurkan!!”, gumamku dengan geram. Kemarahan membawaku pada masa lalu. Kudus, akhir abad 19. Haji Djamhari tengah didera sesak napas, biasanya dia mengoleskan minyak cengkeh pada dadanya. Cengkeh, sebuah tanaman asli kepulauan Nusantara yang konon telah di kenal sejak zaman Mesir Kuno. Alkisah, 4000 tahun yang lalu ketika Mesir dikuasai Dynasty 18 mereka  menjalin sebuah hubungan khusus dengan Kerajaan Punt di Selatan.

Mereka mengirimkan rombongan dengan masing-masing kapal memiliki panjang sampai dengan 70 kaki itu, bisa berisi sampai dengan 210 orang. Mereka mengirimkan misi dagang untuk mencari sumber dari rempah-rempah, emas dan perak. Dalam misinya mereka juga membawa pulang pohon-pohon wewangian yang masih hidup. Namun, pikiranku kembali melayang kepada sebuah perdebatan dimana sebenarnya Kerajaan Punt itu berada. Ah, mungkin tak terlalu penting, yang penting bagiku sekarang adalah cengkeh telah dikenal bangsa mesir melalui catatan hieroglyph mereka.

Kembali pada Haji Djamhari, kali ini dia mencoba mencampurkan cengkeh dalam kebiasaannya mengisap tembakau. Walhasil, penyakit sesak napasnya menjadi sembuh. Cerita tentang rokok cengkeh Haji Djamhari pun segera menyebar luas. Tak pelak, orang-orang segera mengikuti Haji Djamhari dengan mencampurkan cengkeh dalam rokok mereka. Rokok cengkeh semakin tersohor, rokok cengkeh yang kini lebih dikenal dengan nama kretek. Adalah Nitisemito, orang yang pertama kali memberikan label pada kretek yang diproduksinya. Kerja keras Nitisemito rupanya tak sia-sia, Rokok merek Bal Tiga meledak di pasar. Tahun 1924 Nitisemito telah mempekerjakan sampai dengan 15.000 orang. Melalui Bal Tiga, Nitisemito bukan saja telah membangun sebuah pondasi Industri Kretek, namun juga membagun sebuah pondasi Industri Nasional yang kuat.

Kali ini aku terbangun dari anganku tentang masa lalu. Perlahan, aku amati bungkus kretek yang tergeletak di samping cangkir kopi yang juga ikut menemaniku malam ini. “Sebuah karya luar biasa dari masa lalu bangsaku”, kebanggaan terlintas dalam pikiranku kali ini. Sebuah perjuampaan kebudayaan yang menyatu dalam batang kretek. Campuran berbagai macam tembakau yang ditanam di berbagai daerah di Indonesia, ditambah dengan cengkeh yang juga ditanam di tanah ini. Menciptakan cita rasa khas Indonesia. Dalam batang ini, aku melihat dari Surabaya, keringat saudara-saudaraku di Madura, Temanggung, Jember,  Probolinggo, Tuban, Maluku, Kudus, dan masih banyak daerah lain.

Mungkin Haji Djamhari tidak pernah menyangka bahwa kretek temuannya telah berkembang menjadi sebuah Industri nasional yang tangguh. Sebuah industri yang mampu menembus zaman dan kokoh menghadapi serangkaian krisis. Industri kretek saat ini telah menyerap lebih dari 30,5 juta tenaga kerja di Indonesia. Aku mengandaikan jika dalam satu keluarga terdiri dari ayah, ibu dan dua orang anak maka industri kretek telah menghidupi lebih dari 150 juta manusia Indonesia. Itu artinya hampir separoh dari jumlah penduduk Indonesia yang saat ini mencapai angka 230 juta jiwa. Melihat begitu besarnya Kretek menghidupi manusia-manusia Indonesia, tanpa ragu, kutundukkan kepala, hormatku pada kalian wahai Djamhari dan Nitisemito. Maka, tidak ragu lagi aku mengatakan bahwa kretek bukan saja warisan masa lalu namun sebuah warisan kebudayaan yang hidup, sebuah Living Heritage.

Lembar-lembar memory yang hampir saja usang itu muncul kembali. Melintas dalam otakku definisi-definisi yang rumit, yang terus membatasi pikiran untuk mengkreasi. Bagiku cukup sederhana, Living Heritage merupakan sebuah kebudayaan – artefak, aktivitas dan ide – yang hidup ditengah masyarakat dan dia bisa mengidupi masyarakat pendukungnya. Artinya, dia tidak berdiri dengan pongah, menegasikan daur hidup lingkungannya. Teringat aku pada paparan seorang kawan tentang sebuah terminology yang berkembang pada gerakan lingkungan. Disana dikenal apa yang disebut eko-fasis. Sebuah terminology pelestarian lingkungan hidup yang menegasikan manusia-manusia yang tinggal dalam wilayah tersebut.

Otak nakal mulai tergelitik. Aku teringat akan perdebatan-perdebatan tentang pelestarian cagar budaya. Ironis, terkadang atas nama pelestarian cagar budaya, mereka alpa terhadap manusia-manusia yang telah hidup disekitarnya. Atas nama pelestarian cagar budaya, masyarakat yang telah mendiami suatu tempat harus tergusur. Dengan meminjam terminology gerakan lingkungan, maka proses tersebut aku kategorikan sebagai bentuk Fascist Heritage. Sebuah cagar budaya yang berdiri pongah dan tidak memberikan nilai apaun bagi masyarakat.

Contoh lain, ada juga suatu proses pelestarian cagar budaya yang mengatasnamakan Living Heritage, namun tanpa melibatkan masyarakatnya. Walaupun, mereka tidak memindahkan masyarakat dari wilayah tinggalnya. Bagiku contoh kedua tersebut tidaklah bisa dikategorikan sebagai Living Heritage. Hal tersebut aku sebut sebagai development heritage. Dimana, sentrum pelestarian kebudayaan hanya ada pada orang-orang tertentu, ataupun sekelompok kecil orang saja.

Disinilah aku melihat bahwa Kretek adalah sebuah Living Heritage. Kretek, bukan saja sebuah benda konsumsi.  “Kretek lahir dari sebuah hasil kerja osmosis kebudayaan”, ujar Waskito Giri yang megutip Denys Lombard dalam makalahnya Kretek Sebagai Kritik Kebudayaan. Sangat masuk akal, karena kretek merupakan sebuah pertemuan antara tembakau dan cengkeh. Kretek memadukan antara apa yang diterima kenal dari luar yaitu tembakau dengan cengkeh sebuah kekayaan lokal yang ada di Nusantara.

Lebih dari itu, kretek hidup dan menghidupi jutaan masyarakat Indonesia. Lihat saja, industri kretek menggantungkan pasokan tembakau dari enam juta petani kita. Kretek juga bergantung pada 1,5 juta petani cengkeh. Itu hanya dari sektor pertanian. Dari sisi industri, kretek telah menghidupi lebih dari 600 ribu buruh linting. Bukan saja itu, jutaan orang lainya bergantung pada industri kretek ini, mulai dari pedagang asongan, percetakan, industri kreatif seperti advertaiising dan entertainment.

Otak terus berputar dan tidak aku temukan celah untuk tidak mengatakan bahwa kretek adalah warisan kebudayaan. Kretek lahir dari sebuah proses osmosis kebudayaan, dan ada sebagai sebuah benda konsumsi. Sebagai sebuah aktivitas, kretek melibatkan puluhan juta orang dalam proses produksi hingga konsumsinya. Kretek hadir secara utuh sebagai kebudayaan.

Tanpa sadar, malam telah berganti pagi. Kunyalakan batang kretek terakhirku. Ku hisapnya dalam-dalam. Pada titik ini, semakin teguh  keyakinan bahwa kretek bukan Fascist Heritage yang pongah berdiri diatas penderitaan rakyat. Kretek adalah Living Heritage yang hidup dan menghidupi Rakyat Indonesia.