Potensi Kemandirian Nasional yang Terabaikan

rokok
rokok

Tembakau juga menjadi salah satu produk Indonesia. Aroma yang berasal dari tembakau Indonesia ini berbeda-beda dari satu daerah dengan daerah lainnya. Di daerah Deli Serdang Sumatera Utara misalnya, terkenal istilah angin bahorok yang terkait dengan kerusakan tanaman tembakau. Apabila angin bahorok berhembus lalu orang-orang ingat tanaman tembakau yang dilintasinya. Sedangkan di daerah Jawa juga ada fenomena tembakau srintil hanya ada satu-satunya di Indonesia, bahkan dunia. Lebih menyempit lagi, tembakau srintil hanya terdapat di sisi utara Gunung Sindoro dan Sumbing. Sebuah analogi yang sederhana, tembakau Srintil di ibaratkan Candi Borobudur. Sebuah candi di bangun dari sebuah kerangka dasar, lalu berundak dan bertingkat dari susunan bebatuan yang dibentuk sedemikian rupa, sehingga menjadi bangunan utuh. Demikian juga dengan tembakau srintil, memiliki fragmen-fragmen tersendiri untuk menjadi sebuah tembakau yang istimewa.

Sebagai bahan baku, tembakau kemudian dikembangkan menjadi bagian produk yang lain, antara lain rokok kretek. Bisa dikatakan kretek adalah warisan budaya Indonesia yang sama nilainya dengan keris atau batik. Seluruh bahan pembuatan kretek menggunakan bahan-bahan asli Indonesia. Para penghayat budaya kretek, termasuk di dalamnya pelaku industri kretek dari hulu ke hilir, konsumen kretek, pemerhati kretek, kalangan akademisi, dan pecinta budaya kretek lainnya adalah bagian dari kebudayaan kretek di Indonesia.

Industri rokok kretek menggerakkan roda perekonomian Indonesia karena mendominasi penerimaan cukai kepada negara selama ini. Saat dunia bisnis dan ekonomi lesu sehingga sulit diandalkan, industri kretek di Tanah Air menunjukkan kinerja positif di pasar domestik maupun internasional. Sektor bisnis kretek telah mewujudkan apa yang tampaknya tak mungkin menjadi mungkin.

Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan sektor industri kretek karena menyumbang cukai sangat besar ke kas negara. Bahkan industri ini mengalahkan setoran kas negara dari sektor pertambangan misalnya dari perusahaan pertambangan asing seperti Freeport dan lainnya.  ”Kalau Freeport sekitar Rp 20 triliun, industri kretek cuma dari cukai saja sampai Rp 66 triliun. Padahal Freeport dampaknya luar biasa terhadap lingkungan. Sedangkan industri kretek itu dampak ekonominya besar dari hulu ke hilir mulai dari petani, pabrikan, sampai ke pedagang asongan”.

Jika dibandingkan dengan sektor swasta lainnya, industri rokok tak ada lawannya dari sisi setoran ke negara maupun penciptaan lapangan kerja.Sepantasnya pemerintah melindungi industri kretek dari pihak-pihak yang ingin menjatuhkan industri kretek termasuk dari asing. Kontribusi Kretek semakin hari semakin tinggi, Misalnya 2010 target cukai Rp 60,1 triliun tapi realisasi Rp 66 triliun dibandingkan setoran industri rokok dengan Freeport. Selama ini sektor pertambangan terlalu dibesarbesarkan sebagai penyumbang penerimaan negara sangat besar namun kenyataannya tak sepenuhnya benar. Sektor pertambangan sebagai income terbesar terkesan terlalu dibesar-besarkan serta mendapat fasilitas luar biasa sementara industri kretek yang mencakup kedaulatan politik, kemandirian ekonomi bangsa, dan kearifan lokal, sampai detik ini pemerintah terkesan setengah hati membantu perkembangan industri kretek.

Padahal melihat sisi permintaan, potensi pasar dalam negeri masih tergolong subur untuk pemasaran berbagai produk rokok. Bahkan badai krisis ekonomi nyaris tidak menggoyahkan industri kretek. Pada saat krisis memuncak, produksi rokok malah naik 2,7 persen. Sedangkan potensi ekspor pun cukup besar, karena Indonesia dikenal sebagai salah satu negara pengekspor tembakau di dunia. Mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor tembakau untuk periode Januari-November 2011 mencapai Rp 5,9 triliun naik 4,59% dibandingkan tahun 2010 yang hanya Rp 5,6 triliun.

Melihat begitu besarnya potensi Industri kretek nasional sangat disayangkan kurangnya dukungan pemerintah atas potensi Industri kretek. Padahal sudah sejak lama investor asing mengincar industri kretek nasional. Pasalnya, asing tidak bisa mengalahkan kretek yang merajai pasar dalam negeri. Selama ini, asing hanya bermain di pasar rokok putih, tetapi pasarnya terus mengecil dari 70% menjadi hanya 8% dalam 30 tahun terakhir.

Karena itulah perusahaan asing makin agresif mengakuisisi produsen rokok kretek di Indonesia karena sejumlah keuntungan. Maka tak heran tahun 2005, 98% saham PT HM Sampoerna Tbk diakuisisi Philip Morris. Menyusul tahun 2009, 85% saham PT Bentoel Internasional Investama Tbk diakuisisi  British American Tobacco (BAT) dan tahun 2011, 60% saham PT Trisakti Purwosari Makmur,produsen rokok kretek lokal, oleh KT&G Corporation,produsen rokok terbesar di Korea Selatan.

Pemerintah seringkali bersemangat mengundang investor asing sehingga semakin panjang daftar industri kretek nasional yang berpindah ke tangan asing. Apalagi, kretek merupakan produk asli Indonesia. Berbagai kemudahan yang dituntut mereka, seperti menuntut pembebasan pajak, pengendalian buruh dan,kemudahan mengimpor bahan baku tembakau. Di sisi lain, ratusan industri kecil kretek gulung tikar karena kenaikan cukai.

Bila negara terlalu menuruti tuntutan investor asing, misalnya dengan memberikan kemudahan dalam mengimpor bahan baku tembakau yang sebenarnya telah dihasilkan para petani di dalam negeri, maka petani tembakau pasti “gulung tikar” alias bangkrut, Seolah-olah para pengusaha rokok asing menjadi “Raja” di negeri ini.

Hal ini dapat dilihat pada tahun 2003 impor tembakau sebanyak 29.579 ton, meningkat di tahun 2004 jadi 35.171 ton, terus bertambah di tahun 2005 jadi 48.142 ton, dan di tahun 2007 mencapai 69.742 ton. Bahkan data terakhir 2011, impor tembakau dan olahan tembakau mencapai 180 ribu ton di atas Produksi Nasional Tembakau yang hanya 140 ribu ton. Ini sangat ironis, devisa negara yang terkuras untuk impor tembakau sangat besar, yang sebenarnya bisa dinikmati petani tembakau di Indonesia,”

Belum lagi dunia berlomba diarahkan untuk menghujat rokok. Isu kesehatan jadi senjata.  WHO telah menginisiasi sebuah kerangka kerja pengendalian tembakau secara global atau yang kita kenal sebagai FCTC, yang menyatakan tembakau dan produk turunannya (rokok, cerutu, dll) adalah produk konsumsi yang berbahaya bagi kesehatan, penyebab kanker dan berbagai penyakit lainnya, bahkan telah menjelma sebagai epidemic penyebab kematian utama manusia.

Ironinya, RUU dan RPP tembakau yang tengah disusun DPR dan Pemerintah ikut-ikutan menghadang laju kretek. Salah satu pasal dalam draft itu menyebutkan, rokok tidak diperkenankan dicampur bahan-bahan tambahan. Padahal itu adalah ciri khas dari kretek. Dengan mengatasnamakan kesehatan,pemerintah menetapkan tembakau dan produk tembakau sebagai jenis benda yang berbahaya bagi kesehatan. Namun bukan berarti obsesi memenuhi tuntutan WHO terus melupakan keberadaan rakyat yang menggantungkan hidup pada industri kretek dari hulu sampai hilir. Memang keduanya perlu perhatian dan keseimbangan, Tapi Pemerintah tidak memiliki kepercayaan diri untuk melawan aturan yang secara substansial diimpor dari negara asing. Apalagi, aturan tersebut mematikan industri kretek sebagai produk dan warisan lokal.

Pemerintah semestinya tidak mudah tunduk pada tekanan-tekanan asing, serta menyelamatkan industri-industri dalam negeri yang jelas-jelas mempunyai muatan lokal, kekayaan hayati Indonesia. Bisa kita lihat Indomie dicekal di Taiwan, CPO dicekal di Amerika dan Eropa, Kretek dicekal di Amerika, Ironisnya produk mereka merajalela di Indonesia, bagaimana nasib rakyat negeri ini nantinya..apakah hanya jadi lahan pasar mereka saja, jika produk-produk asli indonesia tidak bertuan di negeri ini. Potensi kemandirian ekonomi nasional hanya akan menjadi mimpi. “Kolonialisme” baru yang bertopeng globalisasi dan globalisme dengan turbo kapitalis asing sebagai aktor utama merupakan suatu living reality. Indonesia kembali menjadi tempat yang empuk bagi penghisapan surplus ekonomi oleh pihak asing. Perekonomian seharusnya tidak hanya menegaskan kita sebagai bagian dari mata rantai ekonomi dunia melainkan memiliki identitas ke-Indonesiaan yang jelas.