RUU Anti Tembakau Mengancam Hidup Petani Cengkeh

petani tembakau temanggung
petani tembakau temanggung

Tanaman cengkeh di Minahasa merupakan tanaman ‘harapan’ bagi banyak orang. Harapan untuk meraih kesejahteraan sebagai sebuah keluarga petani, harapan akan pekerjaan, dan tentu saja harapan terciptanya keramaian sosial yang dilandaskan pada rasa suka cita dan berbagi rezeki ke sesama manusia. Kebun Cengkeh produktif di Minahasa menghampar dalam areal yang luas hingga 15.357 hektar. Berdasarkan informasi dari banyak petani di sana, jumlah pohon ditanam dalam area satu hektar paling baik berisi 144 pohon (umumnya 150) dan masih dapat diisi hingga 200 pohon namun dengan resiko kualitas produksi yang kurang maksimal dan biaya perawatan yang relatif tinggi.

Bila panen tiba, setiap pohon akan menghasilkan 50–100 liter bunga cengkeh dan dari setiap 6 liternya akan senilai satu kg cengkeh kering. Artinya setiap pohon akan menghasilkan 10 kilogram bila jumlah produksinya sebanyak 60 liter. Bila harga cengkeh masih pada angka lima puluh ribu (sekarang), maka satu pohon cengkeh akan menghasilkan uang Rp. 500,000,-. Jadi, bila seorang petani kecil berlahan satu hektar dengan 144 pohon saja, maka ia akan memperoleh uang senilai 72 juta rupiah. Jadi, bila Minahasa yang menjadi sentra cengkeh di provinsi Sulawesi Utara berhasil menikmati panen raya mereka tahun ini, akan ada uang Rp. 1.105.704.000.000,- (Satu triliun seratus lima milyar tujuh ratus empat juta rupiah) beredar di sana dan menghidupi banyak orang hingga sekian tahun ke depan!

— Hitungan ini dari mana?

Ada 19 kecamatan dengan total lahan produktif 15.357 ha (Data BPS Minahasa 2008). Bila setiap hektar terdapat 144 pohon maka jumlah seluruh pohon yang akan berbunga adalah 2.211.408 pohon dengan jumlah produksi cengkeh kering sebanyak 22,114,080 kg. Maka, dengan harga beli dari agen sebesar Rp. 50.000,- akan menunjuk pada nilai di atas.

 — Dengan uang sebesar itu, siapa saja yang dapat menikmatinya?

Satu bibit pohon cengkeh yang berusia dua tahun akan di tanam untuk pertama kalinya di lahan yang tersedia. Usia produktifnya mulai di tahun ke lima dan seterusnya akan stabil berbunga hingga lebih 50 liter setiap panen. Dalam menunggu masa panen tiba (2 hingga 3 tahun), petani akan membersihkan rumput dan merawat cengkehnya selama 3 – 4 kali dalam setahun (6 – 12 kali dalam 2 atau 3 tahun). Banyak petani mempercayakan pekerjaan ini kepada pekerja tani (buruh baparas) yang akan memangkas rumput di sekitar pohon atau menyemprot dengan racun rumput dengan sangat hati-hati. Biasanya dalam satu hektar lahan akan dikerjakan oleh 20-30 orang dengan biaya perhari Rp. 50.000,- persekali kerja. Ada pula pekerjaan yang tidak semua orang mampu, yaitu mencari ulat cengkeh (gai) oleh tukang bacari gai, yang dibayar berdasar jumlah kepala ulat yang berhasil dipatahkan senilai Rp. 2.000,- perkepala. Dalam satu pohon (yang terkena) bisa 5 hingga 10 ulat bersarang dan sangat berpotensi membunuh pohon cengkeh bila berhasil menembus inti batang.

Bila panen tiba. Maka akan ada serentetan aktifitas panen yang dimulai dari persiapan hingga penjualan. Orang-orang yang dibutuhkan untuk memenuhi panggilan panen ini meliputi pemetik (tukang pete), pemisah bunga dari tangkainya (tukang cude), pemungut cengkeh (tukang bapunggu), penjemur (tukang bajumur), juru masak (tukang momasa)mandor kelompok, mandor kerja (mandor kapala), pencari ulat (tukang cari gai), dan supir angkut. Dengan hitungan sederhana, misalnya dalam area seluas 1 hektar dengan jumlah pohon 150 perhektarnya maka akan menyerap tenaga kerja saat panen sebanyak 30 pekerja dengan durasi waktu kerja 1 bulan. Maka bila pada saat panen raya berlangsung bersamaan di satu kecamatan semisal kecamatan Sonder, dengan luas lahan perkebunan cengkeh 1,577 ha maka diperkirakan menyerap tenaga kerja minimal sebanyak 1,577 ha dikali 30 orang sama dengan 47,310 orang!

Dengan membeludaknya pendatang, membuat roda ekonomi berjalan kencang karena secara spontan banyak keluarga setempat (bahkan pendatang sendiri) yang membuka warung makan, kedai minum, dan aneka jualan lainnya seperti pakaian, handphone, motor, dsb. Hal ini bisa berlangsung selama 1–3 bulan. Untuk hitungan yang lebih fantastik, di kabupaten Minahasa dengan total area lahan cengkeh produktif 15,357 ha total akan menyerap tenaga kerja 460,710 orang! Angka ini melebihi jumlah total penduduk Minahasa yang berkisar 300,000 orang. Itu di Minahasa, bagaimana di kabupaten lain? di provinsi lain? di mana cengkeh adalah komoditas utama mereka.

— Dari mana orang-orang ini datang?

Orang-orang ini umumnya datang dari desa yang tidak memiliki kebun cengkeh atau desa dengan ketinggian di atas 700 meter d.p.l. Salah satu contoh, di desa Masarang, kecamatan Tondano Barat, penduduknya adalah pemasok tenaga kerja. Bila panen raya tiba maka desa ini nyaris kosong! Karena berkisar 500 penduduknya (dari total 800 penduduk) akan pergi selama 3 bulan untuk bapete cingke. Ini juga berlaku di banyak desa di kecamatan yang rendah produksi cengkehnya seperti Gorontalo, Sanger, dan Manado sendiri sekalipun, seperti para mahasiswa dan para pemuda atau kepala keluarga yang bekerja di sektor informal.

Dengan jumlah uang yang besar ini, sebagai orang yang suka menyumbang, Orang-orang Minahasa adalah orang yang suka menyumbang. Mereka bahkan ada tradisi pengucapan syukur di mana mereka juga menyumbang kepada gereja dan mengundang orang makan dihari tertentu dan siapa saja bisa menikmatinya. Bisa dibayangkan, di masa panen, dengan budaya menyumbang yang tinggi, akan banyak infrastruktur desa yang akan dibangun secara mandiri oleh warga (dan memang telah banyak infrastruktur yang mereka bangun sendiri) tanpa terlalu banyak tergantung pada pemerintah. Ingat, Indeks Pembangunan Manusia orang Sulawesi Utara adalah kedua setelah Jakarta.

Demikianlah, Menurut banyak orang Minahasa, cengkeh bagi mereka merupakan ‘Harapan’ (dengan H besar). Makanya, saat Presiden Abdurrahman Wahid menggulirkan kebijakan ekonomi yang berpihak pada petani cengkeh, maka terbukalah harapan itu. Bila, RUU tentang Pengendalian dampak produk tembakau terhadap kesehatan disahkan dan berbagai perlawanan terhadap industri rokok terus dilakukan oleh perusahaan farmasi yang memperoduksiNicotine Replacement Therapy (NRT) melalui berbagai bentuk pengharaman dan kampanye anti tembakau, bagaimanakah nasib petani cengkeh dan pekerja tani lainnya ini? Bukan hanya basis ekonomi yang akan terancam, namun juga budaya dan suka cita orang-orang ini akan lenyap seperti yang pernah dilakukan oleh VOC dengan monopoli cengkehnya  dan Rezim Soeharto melalui kendaraan anaknya Hutomo Manadala Putra, BPPC..