Koboi-Koboi Berkulit Coklat

Kretek Ekonomi Bangsa
Kretek Ekonomi Bangsa

Bayangkan ada Koboi datang dan berkata, “Hey orang Indonesia, hisaplah ini… enak skali!” Orang Indonesianya menghisap lalu berkata, “wah benar enak sekali, anda suka juga?” “Ooh saya tidak suka, karena tidak baik untuk kesehatan saya..” jawab si koboi sambil berlalu dengan kudanya.

Kenapa harus “koboi”?

Beberapa hari lalu, seorang teman membagikan tautan sebuah artikel berjudul “Jawab si koboi sambil berlalu dengan kudanya…” milik Pandji Pragiwaksono. Tulisan tersebut menyajikan data-data statistik tentang rokok yang sebagian diambil dari YLKI. Sebelum jauh membaca tulisan ini, akan lebih baik bila membaca tulisan Pandji terlebih dulu (di sini).

Ya, kutipan di atas adalah paragraf terakhir dari tulisan tersebut, yang entah diniatkan sebagai provokasi halus atau sekadar anekdot satir sebagai pamungkas manis pelengkap opininya–kalau tidak boleh disebut sebagai esei semi-ilmiah. Menarik ketika Pandji menggunakan kata “koboi”, tentu ini bukan tanpa maksud. Jadi saya ingin membahas kata “koboi” terlebih dahulu sebelum membahas data-data yang ditawarkan Pandji dalam artikelnya tersebut.

“Koboi” adalah sebutan yang disematkan kepada gembala peternakan di Amerika Utara. Secara tradisional mereka menggunakan kuda dan terbiasa melakukan berbagai pekerjaan di kawasan peternakan. “Koboi” Amerika pada akhir abad ke-19 menjadi figur yang melegenda. Kata “koboi” juga kerap digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sembrono atau mengabaikan risiko potensial, tidak bertanggungjawab atau melakukan pekerjaan berbahaya dengan tidak berhati-hati. Sebagai contoh, majalah TIME pernah menerbitkan sampul artikel yang merujuk kebijakan luar negeri Presiden George W. Bush sebagai “Diplomasi Koboi”. Tapi menurut saya, “koboi” yang dimaksudkan Pandji bukan yang demikian itu, melainkan suatu metafor untuk menggambarkan perusahaan-perusahaan rokok (di mana hanya sebagian saja yang berasal) dari luar Indonesia. Kata “koboi” ini, menurut saya, bersayap dan tendensius. Pesan apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Pandji dengan pemakaian kata “koboi”? Apakah Pandji ingin menyampaikan bahwa rokok adalah sesuatu yang “sangat tidak Indonesia”? Atau mungkin, lebih tegas lagi, bahwa rokok sangat bertentangan dengan budaya asli Indonesia, kearifan lokal Indonesia, nasionalisme bangsa atau apalah itu namanya?

Rokok, secara umum kita mengenal adanya rokok kretek dan rokok non-kretek. Rokok kretek adalah rokok dengan campuran rempah-rempah, yang terdiri dari cengkeh dan saus lainnya, untuk menambah kekayaan cita rasa rokok. Kelebihan rokok kretek itulah yang menjadi ciri khas, sekaligus pembeda dengan rokok non-kretek. Orang sering salah kaprah mengartikan bahwa kretek adalah rokok tanpa filter, sedangkan rokok berfilter adalah non-kretek. Yang benar adalah, rokok kretek terdiri dari kretek dengan filter dan kretek tanpa filter. Sedangkan rokok non-kretek dewasa ini, sejauh yang saya temui di pasaran Indonesia, semuanya telah menggunakan filter. Kenapa saya menyinggung tetek-bengek kretek dan non-kretek? Selain untuk meluruskan kesalahkaprahan, juga untuk mengingatkanbahwa kretek adalah produk asli budaya nusantara. Ya, nusantara, karena kretek sudah lebih dulu ada sebelum negara yang bernama Indonesia ini didirikan. Saya ragu kalau Pandji tidak tahu tentang hal-hal tersebut. Sebenarnya juga terlalu lancang, tapi harus saya akui bahwa artikel Pandji tersebut benar-benar membuat orang tergelitik untuk mempertanyakan apakah Pandji lupa bahwa kretek adalah produk asli budaya nusantara, sampai-sampai harus menggunakan kata  “koboi” dalam artikelnya?


Yayasan Lembaga “Konsumen” Indonesia

Setelah membaca tulisan Pandji, saya iseng share link artikel tersebut pada beberapa teman untuk mendapat komentar. Salah seorang teman yang juga aktivis pembela kretek menyebut bahwa validitas data YLKI yang dipakai Pandji ternyata pernah mendapat bantahan keras dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Temanggung. Tetapi di sini saya tidak akan membahas validitas data YLKI atau pun perselisihan antara YLKI vs APTI.

Terlepas dari polemik tentang data YLKI, saya ingin menyoroti “sikap” YLKI, yang juga berarti “sikap” Pandji, dalam melihat industri rokok. Kiranya perlu saya sampaikan terlebih dahulu bahwa tulisan ini dibuat dari sudut pandang seorang konsumen. Saya bukan pemilik pabrik rokok, bukan buruh yang kerja di industri rokok, bukan aktivis pembela rokok, bukan anggota LSM rokok, bukan orang bayaran perusahaan rokok, bukan pedagang rokok, bukan juga petani tembakau atau cengkeh. Posisi saya 100% murni sebagai “konsumen” rokok. Dan sebagai “konsumen”, dalam konteks ini, sangat pantas rasanya kalau saya menanyakan “sikap” dan komitmen YLKI.

Pertanyaan-pertanyaan saya sebagai “konsumen” kepada YLKI adalah sebagai berikut, di manakah posisi YLKI dalam kasus ini? “Konsumen” rokok manakah yang hak dan tanggung jawabnya mereka bela? Karena sebagaimana yang tertulis pada situs resminya, tujuan berdirinya YLKI adalah untuk meningkatkan kesadaran kritis konsumen tentang hak dan tanggung jawabnya sehingga dapat melindungi dirinya sendiri dan lingkungannya. Alih-alih sejalan dengan tujuan tersebut, kesan yang saya lihat justru data-data yang mendiskreditkan industri produsen rokok belaka. Lantas di mana letak upaya “meningkatkan kesadaran kritis konsumen (rokok) akan tanggung jawab” itu? Di mana pula upaya “meningkatkan kesadaran kritis konsumen (rokok) akan hak” itu? Tidak ada kan? Apakah salah kalau saya menyimpulkan bahwa dengan data-data tersebut, justru ada upaya YLKI untuk mematikan rokok, yang berarti juga memberangus hak “konsumen” untuk menikmati rokok? Logika macam apa yang dipakai YLKI untuk memandang “konsumen” rokok? Bukannya justru YLKI membela hak “konsumen” untuk merokok?


Statistics, a pack of beautiful lie

Data-data YLKI yang dikutib Pandji menyebutkan bahwa sumbangan terhadap lapangan kerja pada tahun 2007, industri rokok “hanya” menduduki peringkat ke-48, sedangkan pertanian tembakau menduduki peringkat ke-30 diantara 66 sektor. Secara nasional, jumlah tenaga kerja industri tembakau dan petani cengkeh adalah kurang dari dua persen  dari jumlah pekerja di semua sektor. Apa yang bisa kita baca dari data tersebut? Dengan gegabah, orang pasti menyimpulkan betapa tidak terlalu signifikan andil industri rokok pada perekonomian Indonesia. Tapi bukan itu. Kalau kita cermati lebih jauh, ada semacam over-simplifikasi atau “penyepelean” yang dilakukan oleh YLKI. Bagaimana tidak? YLKI (dan Pandji) menyebutkan industri rokok menduduki peringkat 48, pertanian tembakau peringkat 30, jumlah tenaga kerja keduanya ditambah dengan petani cengkeh kurang dari dua persen, dan semuanya ditampilkan dengan kata “hanya”. Bagaimana bila yang “hanya” dua persen itu ditampilkan dalam jumlah per-kepala? Apakah masih pantas memberi embel-embel kata “hanya”? Dan “penyepelean” ini kian diperparah dengan diambilnya jumlah dari sektor hulu saja. Kalau memang mau fair, kenapa tidak jumlah tenaga kerja dari hulu sampai ke hilir? Lantas iseng-iseng saya coba mencari data alternatif, ternyata ada yang menyebut bahwa industri kretek menghidupi 30,5 juta jiwa. Seandainya kita ingat dengan jumlah pengangguran di Indonesia saat ini, apakah yang 30,5 juta jiwa tenaga kerja yang diserap industri rokok ini masih layak ditampilkan dengan kata “hanya”?

Sedangkan dari upah yang diterima, pekerja industri tembakau menduduki peringkat ke-37 dengan rata-rata upah Rp 662.000 perbulan. Upah buruh tersebut sama sekali tidak menjamin mobilitas vertikal ekonomi para buruh, karena hanya cukup untuk biaya makan. Seharusnya terdapat studi lebih lanjut untuk melihat berapa belanja iklan perusahaan dibandingkan dengan biaya untuk upah buruh. Komparasi ini akan menjadi penting guna melihat bagaimana industri rokok membelanjakan pendapatannya.

Dalam tulisan di atas, Pandji tampak serampangan, komparasi antara rata-rata upah buruh dengan belanja iklan perusahaan apakah relevan? Apakah YLKI (dan Pandji) pernah juga sebegitu isengnya mencari komparasi yang sama pada industri lain? Apakah hasilnya berbeda? Bagi yang pernah belajar ekonomi atau akuntansi, upah buruh dan belanja iklan masuk ke dalam cost. Adalah sangat wajar dan hampir selalu, dalam sistem ekonomi kapitalis, korporasi menekan cost dan expense serendah mungkin untuk memaksimalkan profit, termasuk menekan upah buruh serendah mungkin (dalam hal ini adalah UMR). Dan negara mengijinkan hal itu. Bukankah begitu rendahnya upah buruh tidak bisa terlepas dari UMR? Bukankah UMR adalah kebijakan pemerintah? Lantas siapa yang salah bila upah buruh industri rokok sedemikian rendah? Saya rasa komparasi tersebut sangat tidak relevan.

Sementara petani tembakau pendapatannya lebih rendah lagi, yaitu Rp 81.397 per bulan. Dari upah yang sangat rendah tersebut dapat diketahui bahwa petani tembakau dari jaman Belanda hingga sekarang relatif stagnan status ekonominya, selalu dalam kemiskinan struktural.

Bicara petani, kita harus bisa bedakan antara petani pemilik tanah pertanian dan buruh tani. Ini yang tidak dijelaskan oleh angka statistik di atas. Sekali lagi, “penyepelean”. Apakah Rp 81.397 perbulan itu rata-rata penghasilan dari semua jenis petani secara hantam kromo? Petani pemilik tanah? Atau petani yang buruh tani? Bila jumlah tersebut adalah penghasilan dari, baik semua jenis petani atau cuma petani pemilik tanah, kenapa mereka tidak banting setir ke usaha lain yang lebih menjanjikan? Kalau yang di maksud adalah penghasilan buruh tani, apakah ini hanya terjadi kepada petani tembakau saja? Apakah petani tanaman selain tembakau berpenghasilan lebih dari Rp 81.397 perbulan? Ataukah memang rokok semata-mata yang menjadi biang kerok? Bagaimana dengan sistem ekonomi yang tidak banyak berpihak kepada petani yang buruh tani? Dengan banyaknya ketidakjelasan data–kalau tidak boleh disebut dangkal–apakah tidak terlalu gegabah mengatakan status ekonomi “petani tembakau” sejak jaman Belanda hingga sekarang relatif stagnan? Bagaimana dengan petani yang bukan tembakau?

Selain itu, nilai kompetitif tembakau dengan produk pertanian lainnya juga dipertanyakan, karena sekarang ini hasil pertanian produk pangan seperti beras, jagung dan kedelai, sawit, kopi dan sebagainya sedang tinggi-tingginya di pasar dunia.

“Penyepelean” lagi-lagi terjadi untuk kesekian kali, membandingkan nilai kompetitif antara tembakau dengan beras, jagung, kedelai, sawit, kopi dan sebagainya? Saya tak hendak pula untuk menyimpulkan bahwa “penyepelean” orang-orang YLKI atau Pandji ini lantaran kekurangtahuannya akan dunia pertanian.

Setiap tanaman memiliki karakteristik yang berbeda-beda, begitu pula dengan syarat hidupnya. Temanggung misalnya, dengan kondisi tanah, iklim dan ketinggian datarannya sangat cocok untuk tembakau. Apa jadinya bila tembakau diganti dengan sawit? Saya belum pernah mendengar ada sawit yang bisa hidup di Temanggung. Kalaupun diganti tanaman lain, apakah tanaman itu bisa menghasilkan lebih baik dari tembakau bila ditanam di Temanggung? Betapa “penyepelean” bisa menjadi sangat konyol, bukan? Tentang ini, saya jadi ingat dosen mata kuliah statistika saya dulu. Pernah suatu hari, dengan bahasa Inggris yang sangat terbatas, beliau mengakhiri kuliah dengan sebuah kalimat, “Statistics is no more than a pack of beautiful lie.


Koboi dan sebatang rokok

Hari masih terasa panas di Amerika sore itu, meski matahari sudah hampir tenggelam. Sesekali dia mengelap keringat di ujung hidungnya yang mancung, sesekali menggaruk kepala yang sebetulnya tidak gatal, sambil terus menatap nanar pada tumpukan dagangan di gudang yang semakin sulit dijual. Koboi jaman sekarang bukan lagi koboi yang mengejar sapi atau saling baku tembak, koboi jaman sekarang adalah koboi yang gila berdagang. Pasar dagangannya pun tak sebatas Amerika, tapi dunia. Sayang, akhir-akhir ini dagangannya kurang laku lantaran ada saingan berat, orang menyebutnya “kretek”. Setelah lama berpikir, si koboi tua mendapat ide. Dia akan merekrut orang-orang kulit coklat dari Indonesia, negeri tempat kretek diproduksi, meski si koboi harus mengeluarkan biaya besar untuk itu. “Orang-orang kulit coklat itu kembali ke Indonesia. Dengan topi koboi, kemeja kotak-kotak, celana jins belel, dan sepatu bergerigi, tapi tanpa kuda, koboi-koboi baru berkulit coklat itu berteriak-teriak kepada orang-orang sebangsanya, bahwa mereka akan mati bila terus merokok, rokok tak akan laku di Indonesia, kretek pun mati. Tak apalah bila daganganku juga ikut tak laku, paling tidak cuma di Indonesia, di tingkat dunia aku tetap jadi raja,” koboi tua itu bergumam sambil menutup pintu gudang, meludah sekali, lalu sebuah senyum aneh menghiasi wajahnya yang keriput. Matahari tenggelam, Amerika telah sepenuhnya malam saat si koboi berlalu dengan kudanya.