Kretek dan Blantik Asing

rokok budaya chete
rokok budaya chete

Negara ini menista rakyat. Tidak mensubsidi petani tapi malah mendegradasi hasil tani. Konsumsi nasi dikampanyekan berbahaya. Merokok dilarang di mana-mana. Padahal dua itu kekuatan Indonesia. Punya produksi dan punya pasar. Adakah pemimpin kita itu ‘agen asing’ yang menyusup di Indonesia?

Sebenarnya sejak lama kita curiga, kenapa setiap yang diproduksi dan sekaligus dikonsumsi rakyat di negeri ini selalu dicap berbahaya. Beras yang pertama disoal. Dikampanyekan sebagai makanan tidak sehat. Kandungan ‘gula’ tinggi merusak kesehatan. Dan jadilah kita ‘takut’ makan nasi.

Kampanye mengurangi konsumsi beras digalakkan. Slogan ‘sehari tanpa nasi’ ada di mana-mana. Sampai-sampai menteri pertanian yang harusnya melindungi hasil petani itu ikut latah. Pasar roti pun menaik. Berbahan gandum yang 100% impor. Berbagai gerai bertebaran, yang rata-rata adalah merk asing.

Yang lebih kurang ajar, saat harga beras naik, pemerintah menghentikan membeli beras petani. Pemerintah memilih impor beras dari Vietnam, Thailand dan India. Mendekati akhir tahun menambah lagi impor. Dan sebanyak 600.000 ton serta 320.000 ton berdatangan dari Negeri Gajah Putih.

Gula juga idem dito. Harga tebu di tingkat petani direndahkan, membuat petani malas untuk menanam. Ditambah pabrik gula yang padat karya serta bertele-tele saat tebang, menjadikan petani tebu merugi. Dan rasanya memang itu tujuannya. Swasembada gula hanya mimpi, impor digalakkan agar bisa dipatgulipatkan.

Sekarang kita melawan tembakau. Dimana-mana ditebarkan dampak negative rokok sebagai musuh bersama. Padahal peneliti independen seperti Marimont, Levy, Colby maupun Hatton, jelas-jelas menyebut tidak ada hubungan antara penyakit kanker, jantung, dengan rokok. “Itulah junk science yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” kata mereka.

Malah penelitian Monica Study yang dibiayai Badan Kesehatan Dunia (WHO) hasilnya juga sama. Secara sarkastis penelitian ini menyebutkan, orang berhenti merokok tetapi rumahnya disita bank rentan terkena serangan jantung. Namun kenapa WHO tetap ngotot dengan ‘fatwanya’ tembakau sebagai sumber penyakit?

Ternyata ada dua bab yang menjadi alasan. Pertama strategi untuk menguasai pasar nikotin dunia yang dikuasai Indonesia. Kedua dana hibah dari Bloomberg yang mengalir ke badan kesehatan dunia ini, seperti juga yang diterima institusi negeri maupun berbagai lembaga swasta yang ada di Indonesia.

Dan niat buruk itu semakin transparan tatkala pertemuan WHO di Uruguay bulan November 2010 kemarin. Dalam pertemuan itu yang direkomendasikan dilarang bukan seluruh rokok yang berbahan baku tembakau, tapi yang dicampur cengkeh dan menthol. Dan itu adalah rokok kita. Rokok kretek!

Patut diduga negara maju ingin membunuh ‘kekuatan’ ekonomi negeri ini. Pabrik farmasi (Bloomberg) itu menggelontorkan triliunan rupiah pada institusi yang ada seraya menekan agar petani tidak disubsidi negara dengan alasan persaingan fair. Padahal negara-negara lain mensubsidi petaninya sehingga beras, gula, gandum bisa dijual murah di pasar dunia.

Melalui kolom ini saya bertanya, adakah para menteri yang berkompeten itu agen asing yang disusupkan dalam kabinet. Ada kepentingan pribadi yang sedang diperjuangkan. Ataukah memang tidak tahu apa yang barusan diperbuat. Padahal mereka sedang menggantung hidup puluhan juta rakyat. Sedang menggoyang dua kekuatan negeri ini, beras dan tembakau, yang belum mampu dikuasai asing.

Wahai menteri perdagangan dan menteri pertanian, jujurlah menjawab. Ada apa di balik kebijakan anda. Wong cilik, wong alit, wong melarat itu malati. Semoga anda memang tidak tahu apa yang sedang anda perbuat sehingga tidak kuwalat.