Menafsirkan Uskup Soegija Merokok

uskup soegija merokok budaya
uskup soegija merokok budaya

Tak sedikit umat Katolik protes setelah menyaksikan film dokumenter ”Soegija”. Salah satu sekuel film besutan Garin Nugroho itu menampilkan sosok uskup pribumi pertama Indonesia, Mgr Soegijapranata, menikmati rokok yang diisapnya secara presisi. Mereka protes mendasarkan pertimbangan bahwa tubuh manusia adalah tahta Tuhan, tak boleh dicemari rokok. Mengapa Uskup Soegija dalam kapasitas sebagai pemimpin umat Katolik melakukan hal itu?

Soegija merokok berarti melanggar spirit pro-life sebagaimana berlaku bagi agamanya. Salahkah itu? Rasanya tidak bisa hitam putih untuk menyalahkan atau membenarkan. Tapi dari sisi film dokumentatif, memang seharusnya apa adanya. Di negara Barat merokok di tempat umum dilarang, iklan jauh lebih ketat namun kita begitu mudah melihat film Barat yang sering sekali menampilkan orang merokok.

Stigma buruk terhadap rokok, khususnya keretek, lebih sebagai strategi agenda pengendalian tembakau lewat regulasi tembakau Indonesia, menyusul momentum kampanye global antitembakau. Gerakan ini melibatkan tokoh internasional yang juga Wali Kota New York Michael Bloomberg melalui program Bloomberg Initiative to Reduce Tobacco Use.

Tahun 2006 Bloomberg mengucurkan dana 125 juta dolar AS mendukung WHO dan gerakan antitembakau lain, untuk mendesakkan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) di seluruh dunia. Dua tahun kemudian, 250 juta dolar AS kembali digelontorkan, dan mendapat sokongan 125 juta dolar dari Bill Gates, mengalir ke berbagai kelompok dan lembaga di Indonesia, di antaranya Indonesian Forum of Parliamentarians on Population and Development (IFPPD).

Ratifikasi FCTC adalah amunisi perang global antitembakau untuk menggoyang industri rokok Indonesia guna menurunkan tingkat kompetisi dan membuka peluang baru bagi gerakan konsolidasi industri tembakau global yang diwakili kekuatan tertentu, seperti Philip Morris International, British American Tobacco, Imperials Tobacco, Japan Tobacco, dan Korea Tobacco & Ginseng (KT&G).

Propaganda antitembakau yang dimotori AS, ditujukan untuk pengendalian industri keretek. Kampanye ini tak lebih retorika memanfaatkan ketergantungan publik terhadap otoritas kesehatan. Tujuannya menciptakan rasa takut dari teror bahaya rokok terhadap kesehatan. Teror menciptakan peluang memassalkan produk Nicotine Replacement Therapy (NRT) seperti nikotin sintetis secara masif lewat industri transnasional farmasi/ MNC. Tujuannya, menciptakan kendali potensi keuntungan miliaran dolar per tahun dari industri tembakau kita.

Cagar Budaya

Gambarannya jelas. Indonesia termasuk 10 besar negara produsen tembakau, dengan produksi 120 ribu ton per tahun, dan peringkat 1 produsen cengkih dunia dengan 50 ribu ton per tahun, menguasai 60% pasokan dunia. Tradisi ramuan cengkih dan tembakau hanya ditemukan di Indonesia sehingga menjadikan rokok kretek sebagai produk khas. Dengan kata lain, keretek sebagai salah satu identitas khas Indonesia bukan saja merupakan hak sejarah melainkan juga hak alam. Keretek telah menjadi cagar budaya (heritage) bangsa kita, keberadaannya harus dijaga.

Sebanyak 90% pendapatan cukai diperoleh dari rokok. Cukai tahun 2011 mencapai Rp 62,759 triliun, menyumbang lebih dari 6% APBN 2011 yang dipatok Rp 1.169,9 triliun, jauh lebih besar ketimbang sumbangan dari industri pertambangan yang cuma Rp 13,77 triliun. Sebanyak 11 juta tenaga kerja dari hulu hingga hilir bekerja pada sektor produk rokok keretek.

Seandainya Romo Soegija hidup pada zaman sekarang, saya berpikir Beliau tetap mempertahankan kebiasaan merokok, tak peduli popularitasnya redup di kalangan umat yang kadung terkontaminasi pikiran bahwa rokok menodai tahta Tuhan.

Bukan saja Beliau siap bertukar nyawa melainkan lebih rela meninggalkan surga memilih mati dalam hening mengawal kedaulatan kretek dari nafsu serakah kapitalis dan pribumi pengkhianat, yang lupa bahwa keretek adalah identitas khas ibu pertiwi

(Visited 118 times, 1 visits today)