Rokok Putih dan Pemanasan Global

Ketika kita membeli sebuah produk impor, apa yang kita rasakan? Seringkali yang muncul di benak kita tak lebih dari soal intrinsik pada barang itu sendiri. Mutu barang yang terjaga, gengsi yang lebih, dan ujung-ujungnya adalah harga yang juga super.

Di samping itu, sebenarnya sangat perlu diketahui, bahwa barang yang tergenggam di tangan kita itu mesti melalui perjalanan ribuan kilometer terlebih dulu untuk sampai ke tangan kita. Dan artinya ia harus melewati satu fase: pengapalan.

Kemudian, tahukah Anda bahwa kapal, bersama pesawat udara, menyumbangkan emisi gas rumah kaca yang amat besar? Inilah fakta yang selama ini seolah luput dari meja-meja konferensi tentang pemanasan global. Bahkan, soal perkapalan sama sekali belum sempat dibahas. Padahal, menurut Badan Energi Internasional (IEA), baik transportasi dengan kapal maupun pesawat udara secara keseluruhan mengemisikan sekitar 2,9 persen total gas rumah kaca.

The Guardian, pada Februari 2008, menyebutkan bahwa dari kapal dagang saja diperkirakan jumlah emisi total dalam setahun mencapai 1,12 miliar ton, atau hampir 4,5 persen dari total emisi gas rumah kaca global.

Fakta senada pun diakui oleh Intertanko, Asosiasi Internasional Independen Pemilik Kapal Tanker. “Gas rumah kaca dari industri pelayaran bisa jauh lebih buruk dari dugaan,” tegas mereka. Selama ini, Organisasi Maritim Internasional telah mengasumsikan bahwa antara 200 dan 250 juta ton bahan bakar telah digunakan setiap tahun untuk industri perkapalan dan pelayaran. Tetapi ternyata temuan Intertanko menunjukkan angka minimal 350 juta ton!

Menyambut fakta-fakta tersebut, kebijakan-kebijakan dalam skala global telah mulai dinegosiasikan. Namun dalam skala personal, kita bisa bersikap dengan tetap memilih pada produk-produk lokal, atau dengan meminimalisasi bahan impor. Misalnya dengan bersetia pada kretek yang menggunakan bahan baku lokal, alih-alih rokok dengan tembakau impor sebagai bahan dasarnya.