Merokok Menjaga Kemanusiaan: Bercermin pada Tingwe

konsumen rokok linting
konsumen rokok linting

Tingwe berbeda dari rokok. Keduanya sama-sama dihisap, namun berbeda jalan. Tingwe, alias nglinting dhewe, memerlukan beberapa tahap dari mengambil tembakau, menaruhnya pada selembar papir, melinting, memilinnya agar lintingan rata, lalu menyulut. Sedangkan pada rokok kita tinggal tinggal ambil dan sulut. Di sini mau disampaikan bahwa pada rokok mengabsenkan waktu yang digunakan untuk melinting. Bukan hanya itu, pada rokok ia menyeragamkan takaran tembakau, sedangkan pada tingwe kita sendiri yang menentukan banyak sedikitnya takaran tembakau yang dimaui. Pada tingwe hampir berlaku do it yourself, sedangkan pada rokok it has be done. Pada tingwe kita sebagai ukuran, pada rokok ukuran tersebut sudah ditentukan diluar diri kita.

Tulisan di atas bukan bermaksud menyampaikan bahwa tingwe lebih bijak dibanding rokok, terutama kretek. Rokok kretek tetap memerlukan tukanng linting. Ia tetap membutuhkan kehadiran manusia sebagai pelinting. Kehadiran manusia tersebut dapat dijumpai pada tidak sama persis hasil lintingan rokok kretek satu dengan yang lain, terutama pada rokok kretek tanpa filter. Berbeda dengan rokok kretek filter terutama rokok putih yang proses melinting dikerjakan secara mesinal. Artinya, meski ia rokok namun masih melibatkan kehadiran manusia sebagai si pelinting. Lebih jauh ia merupakan industri padat karya. Namun jika yang padat karya lama-lama digantikan mesin, bentuk perlawanan dapat dikerjakan dengan kembali melinting dhewe. Sialnya, ramainya gerakan anti tembakau menutup fakta human sebagai bagian dari proses jadi sebuah rokok.

Perseteruan antara yang pro dan kontra sebatas pada soal kesehatan, kehalalan, hingga petani yang nantinya bakal kehilangan mata pencaharian. Ringkasnya, perseteruan tersebut tidak melibatkan budaya rokok yang salah satunya yaitu tingwe. Jelas, jika tingwe populer maka yang bakal bangkrut yaitu industri rokok beserta segala tenaga kerja yang terlibat di dalamnya. Namun, jangan lupa bahwa para pelinting rokok bisa saja kian tergantikan mesin. Salah satu cara  mengembalikan para pelinting yaitu melalui cermin tingwe yaitu dengan menghayati tiap batang rokok. Ia perlu dihayati manakala di sana tersimpan jejak kerja seseorang, bahwa di sana terdapat unsur ketidakseragaman dalam ukuran yang telah ditentukan. Jika bekerja dimaknai sebagai cara manusia menghadirkan dirinya, maka seperti apapun ketidaksamaan rokok kretek ia patut diterima. Kita tinggal sulut dan kebal kebul agar semua mendapatkan kebahagiaann: bahagia merokok, dan bahagia bagi yang bekerja melintingkan rokok tersebut.

Tingwe pun memiliki kelucuan-kelucuan. Misalkan, ada tembakau rasa Dji Sam Su, ada tembakau rasa Djarum, bahkan ada tembakau rasa Malboro. “Rasa” tersebut bisa saja menggambarkan bahwa tembakau tingwe merupakan representasi kelas bawah dimana ia meniscaya kelas atas (rokok bermerek dan terutama penguasa pasar) agar tembakau laku. Lebih jauhnya rasa tembakau tingwe ditentukan oleh rasa tembakau bermerek yang diacu. Kenyataan tersebut boleh jadi menggambarkan suatu kenyataan bahwa batas kelas atas dengan kelas bawah ditentukan melalui fenomena kemiripan. Bagi saya hal tersebut sangat lucu. Ia lucu karena dalam fenomena kemiripan tersebut menyimpan kontestasi gaya hidup, bahwa merokok identik dengan kelas tertentu sampai-sampai tingwe mesti mengkonteskan dirinya ke dalam arena gaya hidup. Nah pada soal gaya hidup inilah rokok menjelaskan dirinya tidak sebatas aktivitas kebal kebul tetapi aktivitas memapankan suatu nilai tertentu seperti modern, elegan, maskulin, hingga sehat (rokok mild).

Kembali kepada tingwe yang mestinya do it yourself. Rupanya tidak bisa, beberapa tembakau tingwe pun mengikonkan dirinya kepada rokok bermerk sebagai siasat laku. Kalaupun berhasil proses memerekkan tersebut tetap menyimpan jejak si pelinting: aku melinting agar aku ada seperti rokok yang lain, tentu dalam representasi yang manusiawi seperti lintingan yang tidak rata, takaran yang berbeda-beda. Dalam belepotan sebuah citra tersimpan jejak-jejak kelucuan manusia. Pada mesin, kelucuan absen, yang hadir keseragaman. Mari melinting agar tetap lucu dan tidak seragam.

 

Sumber Foto: Eko Susanto (Flickr)