Pramoedya Ananta Toer dan Kretek

budaya pramoedya merokok
budaya pramoedya merokok

Pram. Lelaki pemberani itu, tentu ia bukan kitab suci yang bebas dari cela. Bukan juga kepala keluarga yang gemar bikin lagu cinta atau keprihatinan palsu. Pram. Ia bukan selebtwit yang jumlah follower-nya bejibun seperti akun-akun pencitraan di twitter. Pram. Lelaki pemberani itu, ia bukan penulis narsis yang didongkrak laris, demi laba, nama, serta ‘mithos pelangi’ beraroma kentut hari ini. Ah, pantat. You aturlah!

Dini hari 30 April yang silam. Pram tutup usia, tetapi bukan berarti tutup sudah buku revolusi bagi kita para pejuang buminya manusia. Kretek adalah kawan senasibnya. Seperti juga nasib jutaan petani, buruh linting, asongan, dan industri rumahan hari ini. Modal dalam negeri selalu saja jadi incaran, dirongrong siasat modal kepentingan asing. Siapa tak kenal rempah-rempah Nusantara. Lada. Kopra. Palawija. Ragam tanaman perdu berdaya guna, seampuh isi bakul jamu yang digendong keliling Mbak Tuti; pewaris cita-cita Kartini yang rajin mampir di teras kontrakan kami saban pagi.

Pram. Ia belajar dari yang dicatatnya, segala yang tumbuh-hilang-berganti dari tanah ini. Diajarinya kita bercocok tanam, merawat tanaman sejurus kebutuhan tubuh kita yang tropis. Bukan untuk difungsikan sebagai taman, tempat perayaan gaya hidup generasi alpa hari ini. Ethos produktif dibonsai oleh ethos konsumtif; perayaan kurikulum Paradoks Global. Haus pengakuan mata. Seperti gedung warna-warni itu. Busana pelangi  kemajuan yang dipertontonkan saban hari di televisi. Sama sekali belum mengubah jeritan buruh dari persoalan upah, dan jaminan sejahtera di hari tua. Tanaman macam apa kamu Inlander. Melawan tetapi mudah dilemahkan oleh umpan-umpan kekuasaan.

Angkatan ke lima adalah angkatan produktif. Buruh. Tani. Nelayan. Apa kabarmu soko guru bangsa. Skenario neolib demikian halus mengkurikulumkan kebutuhan kita, panen curhatan dan umpatan begitu datar timbrenya terdengar. Pram. Lelaki pemberani itu mengajari kita betapa pentingnya menulis dengan nyali dan pikiran terbuka, menyuarakan perlawanan, suara keberanian kita sendiri. Bukan suara-suara curhatan dangkal seperti yang dipertontonkan para pejabat di Republik Katering itu kawan!

Pram. Bagaimana mungkin diceraikan dari aroma kretek saat ia bekerja, seharmoni dengan suara tiktak mesin ketik dalam menunaikan tugas nasionalnya. Bukan lantaran itu semua yang membuat ia terbaring di rumah sakit. Bukan asap bakaran sampah. Pram. Lelaki pemberani itu. Di hari terakhirnya. Ia meminta sebatang kretek kesukaannya untuk disulutkan. Sayang, nikmat terakhir itu digagalkan niat baik sepihak. Di usia yang sepuh, ia masih ingin tetap nyala. Aku jadi ingat Soedirman. Aku jadi ingat Soekarno. Aku jadi ingat Kartosuwiryo. Aku jadi ingat Agus Salim. “Inilah yang membuat moyang Anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami.” Tegasnya di Istana Buckingham Inggris pada sebuah catatan sejarah, “karena kretek tak lain adalah cengkeh, rempah-rempah legendaris yang secara esensi menjadi sumber kolonialisme Eropa atas Asia, termasuk Indonesia. Melalui para saudagar Arab dan Cina yang telah lebih dulu menemukan sumber tanaman itu di kepulauan Maluku. Kemudian para penjajah Eropa latah menguasai dan menjajah Nusantara ini.”

Tercirikan sudah siapa bermetal latah hari ini, mereka tak lain adalah para inlander bergenus kardus; melatah muatan kepentingan politik kemasan. Tak biru tak merah tak kuning tak hijau, tak terkecuali. Jika depedensia ekonomi kita masih diperalat oleh siasat Barat. Seperti juga yang terjadi pada misi di balik pembatasan produk tembakau negeri ini. Pram. Lelaki pemberani itu bukan mengajari kita untuk latah bersuara demi surga di peti wayang sang dalang. Pram. Mengajari kita untuk tetap nyala berbagi bara.

Dalam buku Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir (Depok: Komunitas Bambu, 2008), Pram mengatakan kepada Kees Snoek bahwa sejak berumur 17 tahun, dirinya sudah menolak wayang, karena wayang pada dasarnya hanya omong kosong belaka.  Menurut Pram, masyarakat Jawa dibesarkan oleh kisah Mahabarata dan mendapatkan inspirasi darinya. Dan, klimaks Mahabarata adalah pembantaian yang dilakukan saudaranya sendiri. Jadi, Pram menyimpulkan, pendidikan budaya Jawa terdiri dari perang saudara. “Oleh karena itu, orang Indonesia tidak pernah akan menang melawan bangsa asing,” katanya. Dan apa yang dirayakan kelompok anti rokok hari ini misalnya, pola-pola agitpropnya tak lebih dari copas gaya penjajahan lama; pembelahan dan permusuhan antar sesama. Catat itu kawan !