Berpuasalah, dan Buktikan Bahwa Rokok Bukan Zat Adiktif

kretekus sehat
kretekus sehat

Apabila Anda seorang perokok, dan Anda dapat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini secara lancar, maka Anda sudah membuktikan satu hal; yaitu rokok bukanlah zat adiktif. Apa itu zat adiktif? Zat adiktif adalah obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi dapat menyebabkan kerja biologi tertentu pada tubuh serta menimbulkan ketergantungan yang sulit dihentikan. Jika penggunaannya dihentikan, maka dapat memberi efek lelah atau sakit luar biasa pada orang yang terbiasa mengonsumsinya.

Apakah selama lebih dari 14 jam Anda tidak merokok, Anda merasakan sakit atau lelah luar biasa pada tubuh Anda sebab tidak mendapat asupan nikotin? Jika badan Anda tidak merasakan sakit atau lelah yang luar biasa, itu wajar. Sebab senyatanya rokok atau nikotin bukanlah zat adiktif. Anda sudah membuktikannya sendiri ketika berpuasa.

Merokok memang memberikan kenikmatan dan kenyamanan. Sementara itu, hasrat untuk ingin mendapat kenikmatan itu lagi, tidak selalu manifestasi dari ketergantungan. Tetapi itu sesuatu yang naluriah, dan lumrah terjadi pada manusia. Tidak peduli siapapun dia. Sebagaimana halnya dengan seks. Siapapun yang pernah merasakan kenikmatannya, maka dia cenderung ingin mengulang kenikmatan itu. Jadi tidak ada yang salah dengan hasrat untuk mendapatkan kenikmatan itu lagi.

Adiktif berasal dari kata addict, yang artinya ketergantungan. Kenapa seseorang bisa jadi tergantung dengan suatu zat? Orang yang mengonsumsi zat adiktif dalam jangka waktu lama, akan merasakan sakit yang luar biasa jika tidak mendapatkan zat itu. Karenanya dia jadi tergantung terhadap zat tertentu tersebut, bukan semata untuk mendapatkan kenikmatan tetapi juga untuk membunuh rasa sakit yang dideritanya. Situasi ini, dalam istilah pengguna narkoba disebut dengan sakaw atau ketagihan.

Esensi dari adiktif adalah timbulnya rasa sakit yang luar biasa jika tidak mengonsumsinya. Jadi jika Anda mengonsumsi sesuatu untuk mendapat kenikmatan, dan tidak merasakan sakit apa-apa ketika tidak mengonsumsinya, maka bisa dipastikan bahwa apa yang Anda konsumsi tersebut bukanlah zat adiktif. Demikian pula halnya dengan Anda yang rutin mengonsumsi rokok setiap hari, selama bertahun-tahun. Nyatanya Anda tidak merasakan sakit yang luar biasa ketika tidak merokok selama menjalani ibadah puasa.

Tudingan rokok sebagai zat adiktif akan membawa konsekuensi hukum, di mana dia akan dikategorikan masuk dalam golongan Napza yang selanjutnya harus dilarang peredarannya. Memang sangat tidak mungkin untuk memenjarakan perokok yang jumlahnya sangat besar itu. Tetapi akan jadi peluang bisnis farmasi jika Negara memerintahkan perokok menjalani rehabilitasi. Jika menolak menjalani rehabilitasi, maka perokok akan dipenjarakan karena mengonsumsi zat yang dianggap “adiktif”.

Itu kepentingan utama dari isu kalangan kesehatan yang menyebut rokok sebagai zat adiktif, ada kepentingan bisnis farmasi untuk menjual obat-obatan tertentu yang diklaim mampu menghentikan kebiasaan merokok seseorang. Padahal obat-obatan ini sejatinya adalah nikotin dari ekstraksi tembakau yang dikemas dalam bentuk permen, pil dan koyok.

Kepentingan berikutnya, dengan dimasukkannya rokok sebagai zat adiktif yang hukumnya wajib dilarang itu. Industri farmasi berharap bisa mendapat legalitas untuk memonopoli bisnis tembakau, sebagaimana dia mendapat legalitas untuk memproduksi berbagai macam jenis narkoba. Padahal sebagaimana yang kita tahu, obat-obatan daftar “G” yang beredar secara bebas dimasyarakat, kesemuanya diproduksi oleh industry farmasi yang mendapat legalitas itu. Pengedar dan penggunanya telah banyak yang ditangkap. Namun tidak pernah ada investigasi bagaimana perjalanan obatan-obatan tersebut dari gudang pabrik farmasi hingga ke masyarakat.

Sumber Foto: Eko Susanto (Flickr)