Mempertahankan Kemerdekaan Kretek

kretekus sehat
kretekus sehat

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Dan oleh sebab itu, maka, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Begitulah penggalan alinea pertama Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang hingga kini masih menjadi dasar konstitusi negara kita. Kalimat di atas menunjukkan bahwa bangsa Indonesia menentang segala bentuk penjajahan dan mengakui kemerdekaan hak asasi bagi setiap manusia. Merdeka bukan hanya untuk individu. Tetapi juga bagi segenap sumber kehidupan: tanah, laut, kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya.

Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia 68 tahun yang lalu. Tahun-tahun berikutnya, Indonesia masih harus berjuang mempertahankan kemerdekaannya. Agresi militer yang datang mengganggu kemerdekaan yang masih sangat hijau harus dipertahankan dengan pertumpahan darah.

Kini, kita tidak lagi mengalami zaman perang militer. Tetapi, penjajahan terhadap bangsa Indonesia masih ada. Wujudnya melalui percobaan pemberangusan budaya asli bangsa Indonesia yaitu kretek. Rezim kesehatan dan korporasi multinasional (MNC) adalah pelaku utamanya. Segala propaganda dan penetrasi mereka lakukan untuk melenyapkan kretek dari gardu warung kelontong, kotak jualan pengasong, dan tangan-tangan lincah buruh linting.

Kita pernah mengenal politik devide et impera yang diperkenalkan oleh seorang orientalis Belanda, Christian Snouck Hurgronje, di masa penjajahan Belanda. Devide et impera adalah strategi memecah belah secara politik, ekonomi, dan militer untuk memudahkan penguasaan suatu daerah. Kita tidak bisa lupa dan hal ini banyak diajarkan dalam buku-buku sejarah, bahwa penjajah yang datang ingin menguasai rempah-rempah dan segala kekayaan alam tanah pertiwi.

Hal yang sama dilakukan Industri Farmasi-Rezim Kesehatan dengan persengkokolan Korporasi Multinasional (MNC). Mereka menebar propaganda “kretek/rokok menyebabkan kematian” sampai “merokok/mengkretek memperpendek umur”. Propaganda itu menjelma menjadi dalil yang tidak sehat dari orang-orang yang mengaku sehat. Arahnya, mendiskriminasi perokok/pengkretek yang kemudian memunculkan sekelompok orang anti-rokok, lalu meluas menjadi anti-tembakau. Parahnya lagi, kelompok tersebut berisikan sesama bangsa kita sendiri. Sejarah pun berulang dengan bentuknya yang berbeda. Padahal tidak ada faktor tunggal yang menjadi penyebab kematian seseorang.

Sayangnya, masih banyak sesama bangsa kita yang tidak mengerti. Ada sebuah rekayasa besar dibalik perang tembakau. Wanda Hamilton telah mengupasnya di dalam buku ‘Nicotine War’ (Yogyakarta: InsistPress, 2010). Bahwasanya, perang tembakau diciptakan semata-mata untuk “…kepentingan besar bisnis perdagangan obat-obat Nicontine Replacement Therapy (NRT) alias obat-obatan penghenti kebiasaan merokok, seperti permen karet nikotin, koyo, semprot hidung, obat hirup, dan zyban. Kampanye kesehatan publik (public health) tentang bahaya tembakau hanyalah kedok bagi kepentingan bisnis: memasarkan produk-produk NRT tersebut.” (Abhisam DM, dkk. “Membunuh Indonesia”, 2012. Halaman 109)

Sementara itu, tembakau telah menjadi budaya dan sumber kehidupan ekonomi puluhan juta rakyat Indonesia. Kretek merupakan karya asli anak Indonesia. Kata kretek pun tidak ada dalam kamus bahasa asing manapun. Perpaduan tembakau, cengkeh, dan saus dari sari buah-buahan merupakan cita rasa tersendiri khas kretek. Kretek banyak juga digunakan dalam banyak tradisi, ritus-ritus keagamaan, dan sebagainya. Saya masih ingat ketika acara pindah rumah yang dilaksanakan di kampung saya di Sulawesi Barat. Kretek menjadi salah satu bahan yang digunakan si pembaca doa sebelum seluruh keluarga memasuki rumah baru. Pun kretek sering menjadi penyambung cerita dan pencair suasana dalam sebuah obrolan ringan di gang maupun lorong-lorong atau di pos ronda.

Dari segi ekonomi, bukan hanya para petani tembakau yang menuai keuntungan ketika panen raya tiba. Menjelang musim panen, banyak tenaga kerja yang diserap pada sektor pertanian ini. Berbondong-bondong, buruh musiman datang membanjiri ladang tembakau. Mereka bekerja sebagai buruh petik, mepe (menjemur daun tembakau) atau buruh ngrajang (memotong daun tembakau yang sudah dikeringkan menjadi irisan tipis-tipis). Dalam proses pascapanen ini, biasanya, seluruh keluarga petani tembakau ikut terlibat. Suasana panen raya juga terasa sampai ke daerah-daerah di luar sentra tembakau. Saat musim mbako (musim panen) tiba, terutama ketika harga tembakau sedang baik, pasar-pasar tradisional dibanjiri pedagang maupun pembeli. Aktivitas perdagangan di pasar-pasar lokal menjadi lebih ramai daripada hari-hari biasanya. Saat-saat inilah para petani tembakau ‘turun gunung’ untuk membelanjakan keuntungan yang mereka peroleh dari hasil panenannya.

Begitu pentingnya tembakau dan kretek bagi perekonomian rakyat Indonesia. Tahun 2012, industri tembakau menyumbang 84 trilyun rupiah kepada APBN, terbesar ketiga setelah pajak dan tambang. Belum lagi kita hitung yang diperoleh oleh pedagang asongan dan warung kelontongan. Artinya, industri ini menyerap tenaga kerja dari hulu sampai hilir. Sebuah kerja yang sangat besar, sambung menyambung, dan melibatkan puluhan juta orang.

Kita pun mudah memahami agresivitas korporasi multinasional (MNC) untuk menguasai pasar tembakau di Indonesia. Akuisi 98% saham PT. H.M. Sampoerna oleh Philip Morris. Kemudian di tahun 2009 bulan Juni, British American Tobacco (BAT) mengakuisisi 85,125% saham Bentoel. Ada apa sebenarnya? Di satu sisi kampanye rezim kesehatan semakin gencar, di sisi lain terjadi penguasaan industri kretek nasional. Apakah kita rela terjerumus dalam propaganda yang hendak membunuh negara ini?

Pahamilah, bahwa ini adalah sebuah bentuk penjajahan terhadap budaya dan ekonomi bangsa Indonesia. Kretek sebagai sumber kehidupan puluhan juta rakyat Indonesia harus dipertahankan dan merdeka dari segala bentuk penjajahan. Penjajahan terhadap kretek berarti penindasan bagi rakyat Indonesia. Mempertahankan kemerdekaan kretek berarti pula mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia!

Sumber Foto: Eko Susanto (Flickr)

(Visited 182 times, 1 visits today)