Rapuhnya Pandangan Bahaya Rokok

Djoko Pekik Merokok
Djoko Pekik Merokok

Ia memiliki kebiasaan merokok paling sedikit satu bungkus setiap hari. Dia tak pernah sakit sejak tahun 1951. Merokok sejak berumur 11 tahun sampai tahun 2012 ini, maka dia merokok sudah 61 tahun. Kondisi fisik Sumiati dengan usianya yang sudah lanjut, cukup baik. Dia masih kuat berjalan, bicaranya jelas, ingatannya lumayan kuat, dan giginya masih cukup utuh. Demikian kira-kira ulasan Kompas (Kamis, 12 Juli 2012) tentang Sumiati (72), warga RT 2 RW 1 Jl Patemon Sidomukti Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur.

Fragmen semacam itu banyak pula kita temukan dalam film “Mereka Yang Melampaui Waktu” karya Darwin Nugraha (2013). Film apik yang memotret rangkaian kisah inspiratif tentang orang-orang yang sehat, bahagia, berumur panjang dan tetap produktif ini menjelaskan kepada kita secara sederhana, tentang konsep daya hidup yang seharusnya kita pahami. Menjadi sehat adalah dambaan setiap orang. Ini harapan paling manusiawi dari setiap orang. Dengan memiliki raga yang sehat, manusia dapat berumur panjang dan memiliki banyak waktu untuk melakukan banyak hal di hidupnya.

Tokoh-tokoh dalam film Mereka yang Melampaui Waktu adalah mereka yang memiliki usia di atas 70 tahun, dan tetap produktif. Mereka adalah para perokok yang berpegang pada kearifan hidup. Para kakek dan nenek itu menolak satu wacana khusus yang dibentuk pemerintah mengenai kesehatan, yakni bahwa merokok dapat mengganggu kesehatan bahkan menyebabkan kematin. Dan tentu bukan omong kosong. Mereka telah membuktikan.

Kebiasaan mengkonsumsi tembakau di Indonesia sudah sangat lazim, mulai dari penggunaannya untuk konsumsi sehari-hari sampai pada penggunaannya untuk acara adat. Dan kebiasaan merokok pun bukan hal yang baru. Film Mereka yang Melampaui Waktu hanya menggambarkan sedikit dari sekian banyak orang-orang yang merokok sampai usia tua, dan tetap sehat.

Ini artinya, pandangan dan stigma bahwa kebiasan merokok adalah kebiasan paling buruk yang bisa membunuh, tentu saja kurang benar. Sebagai hasil kajian kelimuan ia kurang benar secara empiris. Sebagai pandangan ia kurang benar karena menutup mata dan terlalu menghakimi. Tapi celakanya, inilah yang sedang terjadi di lingkungan sosial kita. Mereka tentu tidak salah, mereka juga korban dari fasisme pengetahuan.

Orang berpandangan bahwa merokok adalah kebiasan yang membunuh dan rokok adalah barang yang membunuh, biasanya kekeuh dengan pandangannya.  Meskipun sangat banyak orang yang berpandangan demikian, faktanya mereka adalah orang yang tidak yakin dengan pandangannya. Tidak sulit untuk membuktikannya. Tunjukkan saja fakta Sumiati di atas, atau salah satu fagmen kisah dari film Mereka yang Melampaui Waktu. Secara cepat mereka akan merevisi pandangannya.

Merevisi bukan berarti pandangannya langsung pudar. Karena tentu saja anggapan bahaya rokok telah melekat. Barangkali lebih tepatnya akan mengelak. Mengelak bahwa bukan hanya rokok yang mempengaruhi usia dan kesehatan seseorang, ada faktor gaya hidup, polusi, dan lain-lain. Tetapi argumentasi ini justru menegasikan, pandangannya sendiri. Namun bila bertemu dengan orang berusia muda yang merokok, pandangan yang sama akan menguat kembali. Bisa jadi justru akan menyalahkan, dan menyuruhnya untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Tetapi kalau melihat orang berusia lanjut yang merokok dan tetap sehat, ia kembali merevisi pendapatnya.

Hal itu sekaligus menunjukkan kepada kita, bahwa pandangan bahaya rokok telah menguat tetapi tetap rapuh, tidak konsisten, dibenar-benarkan, dan cenderung bias umur. Saya kira tidak saatnya lagi kita mengutuk para perokok karena menganggap mereka telah menyebarkan bibit penyakit bernama asap rokok. Apalagi kalau sampai mendakwah bahwa rokok adalah penyebab utama segala masalah kesehatan. Karena dengan berpendapat demikian, kita secara sadar telah memperlakukan pikiran kita sendiri secara tidak adil.

(Visited 281 times, 3 visits today)