Membongkar Mitos Nafas Rokok

Nafas rokok. Pasti rekan-rekan sering kali mendengar kata-kata tersebut dalam sebuah perbincangan sehari-hari. Yang mungkin diucapkan oleh orang lain, maupun anda sendiri. Entah siapa yang mengatakanya, tapi hal tersebut tidak hanya dikatakan oleh orang yang tidak merokok, bahkan oleh seorang perokok sekalipun. Menjadi sebuah pembenaran bahwasanya ketika kita seorang perokok, maka secara otomatis nafas kita terbatas, mudah lelah dan ‘ngos-ngosan’, atau tidak kuat dalam melakukan berbagai aktifitas yang menunut kekuatan atau ketahanan secara fisik. Seperti olahraga, lari, main bola atau berenang.

Cerita yang ingin saya bagi ini bukanlah sebuah mitos, fiksi atau cita-cita. Cerita ini testimoni dari sebuah pengalaman pribadi, pengalaman empirik.

Saya sudah merokok selama kurang lebih 13 tahun. Waktu yang cukup panjang. Setiap harinya kira-kira saya menghabiskan sebungkus rokok. Dan dahulu pun saya mempercayai, bahwasanya ketika saya bermain bola dan sebentar kemudian nafas saya tersenggah-senggah. Saya mengatakan bahwa ini karena saya kebanyakan merokok. Lalu menyebutnya sebagai “nafas rokok”.

Tapi sekarang ini saya ingin membantah hal tersebut, karena apa yang telah saya alami sendiri. Lima bulan belakangan ini saya cukup aktif berolahraga, khususnya lari dan belakangan juga seminggu sekali bermain futsal. Seminggu sekali paling tidak saya berlari di sore hari mengeliling GBK. Itu saya lakukan rutin setelah bertahun-tahun saya tidak berolahraga. Awalnya hanya mampu mengitari GBK sebanyak 3 kali, di mana satu putaran kira-kira berjarak 0,97 km. Dan sampai saat ini, paling banyak saya mengitari GBK sebanyak 10 kali, dengan istirahat 15 menit ditengah-tengahnya.

Suatu hari saya diberitahu oleh seorang teman, bahwa ada lomba lari 5 km, dengan tajuk “Run to Remember”. Sebuah lomba lari yang dipadukan dengan upaya membangun kesadaran publik, bahwasanya masih banyak pelanggaran HAM yang ada di Indonesia ini. Masih banyak juga orang-orang yang diculik oleh penguasa dimasa lalu, namun belum juga kembali. Mereka mengajak publik, agar tidak mudah melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu, dan terus memperjuangkanya sekarang dan di masa depan.

Tanpa basa-basi saya langsung mendaftar. Tak ada hadiahnya. Namun ternyata pesertanya ada 500 orang. Dan bagi 50 orang pertama yang mencapai garis finish, akan mendapatkan medali. Dalam pikiran saya, mengikuti lomba tersebut bukan hanya sekedar men-support kampanye mereka, namun juga ingin menguji apa yang telah saya lakukan selama ini. Bosan juga kalau hanya berlari-lari memutari GBK, dan sepertinya menarik kalau menguji kemampuan saya berlari dalam sebuah lomba lari jarak menengah tersebut. Dan tentunya harapan besar saya, saya bisa mencapai finish sebagai 50 pelari pertama, dan mendapatkan kalungan medali.

Mengambil rute dari halte busway GBK menuju jalan Imam Bonjol, Bundaran HI. Sekitar 500 orang yang ikut serta. Awalnya saya ragu untuk bisa mencapai 50 pelari pertama, mengingat betis-betis dari peserta yang saya lihat cukup besar. Sesaat sebelum start, saya nyalakan dahulu sebatang rokok. Anggaplah ini sebuah pemanasan.

Saat bendera start dikibarkan, saya memulai lari dengan langkah perlahan. Namun peserta lain berlari dengan cepat. Saya sedikit terprovokasi, kemudian saya sedikit meningkatkan kecapatan saya. Dalam sebuah lomba lari jarak menengah atau jauh, yang diperlukan adalah sebuah ketahanan tubuh, bukan kecepatan. Itu yang saya yakini. Sehingga saya juga tidak berlari dengan kecepatan maksimal, karena saya merasa harus menjaga ketahanan nafas dan fisik saya. Satu persatu, saya mulai melewati peserta lain. Walau saya sedikit mengalami kesialan, dimana saat sampai dibawah jalan layang Semangi, tali sepatu saya terlepas. Terpaksa harus berhenti sejenak untuk mengikatnya, dan merelakan kembali posisi saya untuk dilampaui beberapa orang.

Saya terus berlari dengan kecepatan yang stabil, tidak berhenti, melambat atau mempercepat lari saya. Kira-kira 1 km menjelang finish, saya masih berfikir bahwa saya tidak akan mendapatkan medali, karena saya lihat cukup banyak peserta lain yang ada didepan saya. Namun saat sampai di garis finish, ternyata saya mendapatkan kalungan medali dari panitia. Dan beberapa orang di belakang saya juga masih banyak yang mendapatkan medali. Sayangnya, panitia tidak mengumumkan urutan peserta lari. Walau entah masuk pada urutan ke berapa, saya cukup senang dan bangga bisa mendapatkan medali. Tak terlalu lelah saya rasakan, karena di tiap minggunya saya berlari mengitari GBK lebih dari 5 km.

Dari cerita saya ini, saya hanya mau menyampaikan. Bahwa nafas rokok itu hanya sebuat mitos saja. Nyatanya, saya mampu melewaji tantangan lomba lari 5 km, dan masuk di 50 besar. Dan saya yakin bahwa dibelakang saya banyak peserta lain yang tidak merokok dan tidak mendapatkan medali. Saya kemudian berasumsi bahwa nafas dan fisik yang kuat itu kita rasakan karena kita rajin berolahraga. Merokok atau tidak, itu nomer kesekian. Jika pun anda seorang perokok, saya yakin masih memiliki ketahanan fisik yang prima kalau masih berolahraga. Lihat saja Socrates, pemain bola legendaris Brazil atau Zinedine Zidane, legenda Prancis. Mereka perokok, dan mereka memiliki fisik yang bagus.

Juni nanti, saya berencana mengikutilomba lari 10 km yang biasanya diselenggarakan rutin oleh Pemda DKI menyambut ultah Jakarta. Tak bermimpi mendapatkan medali, karena biasanya di ikuti oleh para atlet. Tapi saya yakin 100%, bahwa saya akan terus berlari tanpa beristirahat sampai garis finish.

IMG-20140202-WA0004