Standar Ganda Amerika pada Sektor Tembakau

Cukai Rokok
Cukai Rokok

Terbongkarnya upaya penyadapan oleh Badan Keamanan Nasional AS (NSA) dan Australia terkait kretek dan udang dan kretek terhadap Indonesia dikecam berbagai pihak. Menurut penuturan kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Letjen Purnawirawan Marciano Norman, motif Amerika menyadap adalah persaingan bisnis rokok kretek dan udang. Memang, selama ini ada persaingan dagang antara Indonesia dengan Amerika Serikat dan Australia, salah satunya adalah bisnis kretek dan udang.

Pada perdagangan udang, Amerika berkeberatan dengan ekspor udang dari Indonesia dengan alasan, bahwa udang dari Indonesia dijual di bawah harga pasar. Ini jelas aneh, Amerika yang konon mendorong mekanisme pasar, ternyata tidak konsisten. DI luar negraranya Amerika menuntut pemberlakuan mekanisme pasar, tetapi di negaranya ia melindungi habis-habisan produknya dari serangan mekanisme pasar.

Lantas kenapa terjadi sengketa dagang di bisnis rokok antara Amerika dan Indonesia? Kasus ini berawal ketika Amerika mulai khawatir dengan perdagangan Kretek di Amerika. Kretek, rokok asli buatan Indonesia, ini dinilai membahayakan sejumlah produsen rokok putih di Amerika. Akibatnya, industri rokok di negeri Paman Sam ingin menerapkan aturan anti kretek.  Keingina ini difasilitasi oleh Negara. Akhirnya Amerika melarang penjualan rokok Kretek di Amerika.

Konflik dagang antara Amerika dan Indonesia meruncing ketika Amerika Serikat melarang penjualan rokok kretek asal Indonesia selama beberapa tahun. Kretek di larang dengan alasan berbahaya bagi kesehatan. Biasa, alasan basi. Larangan kretek di amerika ini jelas black campaign. Bagaimana bisa, rokok kretek dinilai membahayakan kesehatan sedangkan rokok putihan tidak.

Tentu saja Indonesia keberatan, dan mengadukan hal ini ke Organisasi Perdagangan Dunia (WHO) dengan beralasan bahwa rokok mentol sama saja dengan rokok kretek dan masih dijual bebas di AS. Indonesia memenangkan sengketa dagang ini. Akhirnya WTO menganulir pelarangan impor rokok kretek sebagai bagian dari pelanggaran aturan perdagangan internasional.

Kenapa Amerika begitu khawatir dengan bisnis kretek? Ternyata, nilai ekspor kretek Indonesia ke Amerika sejak 2005-2010 terus meningkat. Total ekspor kretek selama lima tahun  itu mencapai USD 450 juta. Sebesar 60 persen nilai ekspor kretek terkirim ke Amerika. Ini artiya, Kretek sangat disukai oleh masyarakat Amerika. Tetapi karena bisa mengancam industry rokok putih di sana, Amerika akhirnya berusaha menghambat produk kretek.

Namun semenjak diterapkannya UU anti kretek di Amerika pada 2010, ekspor petani dan pelaku industri kretek nasional langsung terhenti. Meminjam istilah salamuddin Daeng, “langsung nihil”. Padahal permintaan kretek di Amerika masih sangat tinggi.

Berkat pengaduan sengketa di WTO, sejak medio 2012-2013 WTO telah melarang regulasi Amerika berlaku. Meskipun kalah, namun rupanya Amerika tidak mau menaati hasil sidang WTO. Tidak hanya itu, Amerika juga mencari cara agar menang dan tetap leluasa menjalankan ketentuan anti kretek di negaranya. Salah satunya menggali informasi lewat penyadapan.

Amerika dibantu Australia melakukan penyadapan melalui firma-firma hukum, pejabat eselon I dan eselon II pemerintahan, seperti di Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, Kementrian Kelautan, dan Kemenko Perekonomian. Salah satu yang disadap adalah biro hukum yang mewakili pemerintah Indonesia dalam sengketa rokok dan udang dengan Negara Abang Sam itu. Seolah-olah, bagi Amerika, pemanfaatan intelijen untuk kepentingan bisnis adalah sah untuk dilakukan. Karenanya Amerika menggunakan intelijen untuk mengantisipasi langkah bisnis kompetitornya. Termasuk menyadap apparatus Negara dan biro hukum asosiasi udang dan rokok Indonesia di Amerika.

Selain kretek, komoditas yang menjadi incaran untuk dijatuhkan adalah udang. Indonesia merupakan negara produsen udang terbesar di dunia. Indonesia menyumbang USD 1,2 milliar atau 40 persen dari total ekspor perikanan. Belakangan ini Indonesia membangun kawasan pembenuran di Bali yang jika produksinya meningkat, dianggap bisa berpengaruh kepada harga pasaran udang di dunia. Tentu saja fakta ini membuat Amerika khawatir. Karena kalau dibiarkan, produsen udang di Amerika bisa terancam.

Bocoran dokumen penyadapan oleh Amerika memantik protes keras dari  tanah air. Australia dan Amerika dikecam. Entah kalau kelompok anti rokok, mungkin malah senang. SIkap dan kelakuan Amerika ternyata tidak semanis bahasa diplomasi yang mereka ucapkan. Australia dan Amerika dengan bodohnya mengatakan, bahwa penyadapan yang mereka lakukan hanyalah menyasar jaringan teroris. Mereka juga berkilah bahwa penyadapan itu, katanya, bukan untuk tujuan komersil, tetapi untuk melindungi rakyat kami dan rakyat negara lain.

Penjelasan ahistoris dari kedua Negara itu tentu saja membuka pintu perdebatan yang panjang. Banyak yang mempertanyakan hubungan sengketa dagang kretek dan udang dengan keamanan Negara. Secara tegas Menlu Indonesia, Marty Natalegawa, mempertanyakan, “Yang sulit saya pahami, bagaimana bisa konflik dagang udang dapat berimbas terhadap keamanan nasional Australia?” sebagaimana dikutib Kompas.

Dari rangkaiana fragmen di atas menunjukkan ketakutan yang besar Amerika terhadap bisnis Kretek dari Indonesia, karena bisa menghancurkan bisnis rokok putih di Amerika. Penyadapan oleh Amerika ke Indonesia yang terjadi akhir-akhir ini merupakan salah satu bentuk usaha Amerika untuk menghancurkan sejumlah komoditas penting nasional agar tidak menguasai perdagangan. Disamping itu, untuk kepentingan bisnisnya, Amerika menggunakan standar ganda. Di negaranya, Amerika menerapkan berbagai proteksi untuk melindungi rokok putih. Sementara di luar negaranya, misalnya di Indonesia, Amerika melarang proteksi kretek dan menuntut berlakunya mekanisme pasar, agar rokok putih bisa tersebar luas. Kasus ini telah membuktikan, bahwa Kretek adalah sektor nasional yang sanagt menjanjikan.