Konsumen Kretek adalah Pahlawan; Refleksi Hari Konsumen Nasional 2014

konsumen rokok linting
konsumen rokok linting

Dalam rantai komoditas, konsumen menempati posisi yang sangat penting. Produsen dan konsumen bukanlah elemen yang terpisah, yang oleh Durkheim diistilahkan dengan Solidaritas Mekanis. Kini, tidaklah cukup mengggambarkan relasi konsumen dengan produsen, melainkan mesti dilihat juga keterkaitannya dengan Negara. Itulah mengapa, slogan “belilah produk dalam negri” menjadi sangat penting.

Dalam rantai hubungan industrial dalam sebuah Negara, posisi konsumen bukanlah pelengkap. Konsumen adalah stakeholder yang keberadaanya bisa mempengaruhi banyak hal. Posisi dan daya tawar konsumen dalam usaha mendorong kemandirian nasional melalui komoditas produksi, sangatlah perlu dipertimbangkan kuat. Kalau dalam konteks kretek misalnya, bila industri kretek memberikan banyak keuntungan pada Negara berupa lapanga kerja, pajak, dan devisa, konsumen kretek menyumbangkan cukai yang nilainya tak kalah banyak.

Konsumen kretek bahkan bisa dikatakan sebagai satu-satunya konsumen yang paling banyak menyumbang kepada Negara. Nilai penerimaan Negara dari sektor tembakau bahkan setiap tahunnya terus mengalami kenaikan. Tahun 2012, konsumen tembakau menyumbang negara sebesar Rp 84,4 triliun, tahun 2013 cukai dapat menembus Rp 103,73 triliun. Tidak ada konsumen produk lain yang bisa menyumbang pada Negara sejumlah itu. Bahkan di sektor kesehatan yang harga produknya selangit, yang harganya sangat membebani konsumen, ternyata tidak banyak memberikan keuntungan pada Negara. Keuntungan dari sektor kesehatan yang sangat besar itu, hanya masuk ke kantung korporasi farmasi, dan para dokter yang sekaligus berprofesi sebagai distributor obat.

Itulah mengapa, sebetulnya, konsumen kretek berperan besar dalam memperkuat keuangan Negara. Kalau Tenaga Kerja Indonesia adalah Pahlawan Devisa, konsumen kretek bisa dikatakan sebagai pahlawan pendapatan Negara. Sayangnya, tidak banyak pihak-pihak yang menyadari peran konsumen kretek ini, termasuk pemerintah. Buktinya, ketika pemerintah tengah membuat regulasi pertembakauan, konsumen tidak diikutsertakan dalam membicarakan.

Pengebirian konsumen kretek tidak hanya dalam proses pembentukan regulasi pertembakauan. Tetapi dalam pengaturan cukan itu sendiri. Sebagaimana kita ketahui, bahwa penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) adalah untuk kepentingan stakeholder yang berkaitan dengan produk kena cukai. Dengan demikian, semestinya konsumen juga mendapat bagian dari DBHCHT. Penggunaannya bisa bermacam-macam, bisa pengadaan ruang merokok di berbagai instansi dan tuang publik, bisa dengan cara lain seperti jaminan kesehatan khusus konsumen rokok. Tetapi faktanya tidaklan demikian.

Selama ini, penggunaan DBHCHT diarahkan untuk mendanai kegiatan tertentu sebagaimana diatur dalam Pasal 66A UU Nomor 39 tahun 2007 ayat (1) yaitu untuk mendanai peningkatan kualitas bahan baku, pembinaan industri, pembinaan lingkungan sosial, Sosialisasi ketentuan di bidang cukai, dan pemberantasan barang kena cukai illegal. Dalam alokasi penggnaan itu, posisi konsumen kretek dikebiri.

Di Hari Konsumen Nasional (HKN) 2014 ini, saya kira perspektif kita tentang konsumen rokok mestilah kita jernihkan. Kalau ada pendapat yang mengatakan konsumen rokok sebagai sampah Negara, tentu saja itu adalah pendapat yang sangat keliru. Kalau ada yang mengatakan konsumen rokok harus dibatasi dan dikekang, ini juga pendapat yang salah kaprah. Lebih jauh itu adalah pendapat ahistoris, alias tidak punya dasar. Bagaimana mungkin penyumbang Negara dikekang? Lebih jauh, bagaimana mungkin pahlawan dikekang?

Kontribusi konsumen kretek tidak hanya terletak pada relasinya dengan Negara, tetapi juga kepada sesame warga Negara. Kalau anda menggunakan produk mie instan nasional, anda sekaligus sedang membesarkan juga insustri nasional dan petani gandum asing (karena pertanian gandum di Indonesia sangat kecil). Kalau anda menggunakan produk impor, anda sebetulnya tengah membesarkan korporasi asing dan penyuplai bahan baku yang juga orang asing. Tetapi dalam konteks kretek, kasusnya menjadi berbeda. Kalau anda sedang menkonsumsi kretek, sebetulnya anda telah memperkuat basis industri nasional dan pertanian nasional. Karena seluruh proses produksi kretek dari hulu ke hilir, mulai dari bahan baku—tembakau dan cengkeh—sampai produk akhir—kretek—dikerjakan di dalam negeri.

Beberapa poin yang saya jabarkan di atas hanyalah sebagian dari sumbangan konsumen kretek kepada negeri ini. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk tidak memberikan predikat “pahlawan“ kepada para konsumen kretek. Kalaulah ada konsumen produk lain yang secara signifikan lebih memberikan dampak  positif kepada nagara, pendapat ini bisa gugur. Tetapi, hingga saat ini, tidak ada.

Sumber Foto: Eko Susanto (Flickr)

(Visited 190 times, 1 visits today)