Tukang Bentor Menyoal Mati

rokok gambar
rokok gambar

Senin, 17 Februari 2014, saya berkunjung ke Dinas Kesehatan Kota Makassar data jumlah perokok. Saya tiba pukul setengah dua siang. Saya memberitahukan maksud kedatangan saya kepada pegawai resepsionis. Kantor sedang jam istirahat.

Petugas resepsionis menanyakan apakah saya membawa surat pengantar atau tidak. Saya tidak membawa surat. Saya menceritakan alasan tidak membawa surat. Dia mengerti cerita saya. Dia menyuruh saya ke sebuah ruangan, tempat meminta izin jika ingin memperoleh data. Saya ke ruangan itu.

Pegawai laki-laki di ruangan itu menyuruh saya menunggu. Sebab, orang yang berwenang mengeluarkan data tidak berada di kantor.

***

Waktu istirahat belum selesai. Para pegawai berlalu lalang. Saya tidak tahu apa yang mereka urus. Bosan menunggu, saya ingin merokok. Di kantor itu tidak disediakan ruangan merokok. Kantor Dinas Kesehatan melarang orang merokok, jelas tanda peringatan di pintu masuk dan beberapa di dinding. Saya keluar untuk merokok.

Di gerbang kantor dinas kesehatan, seorang tukang bentor (becak motor) duduk di atas tunggangannya. Dia lelaki, umurnya sekisar 50-an tahun. Dia memakai baju kaos berkerah, putih, dan lusuh. Kulitnya coklat dan keriput. Dia memakai celana panjang putih. Saya tersenyum kepadanya. Dia tidak membalas senyum saya. Barangkali cuaca panas hari itu, membuatnya terlalu lelah untuk membalas senyuman. Saya berjongkok di samping bentornya, di atas bekas tebangan pohon mangga. Saya mengeluarkan bungkus kretek, membakarnya sebatang, dan menghisapnya.

Berhadapan dengan tukang bentor, “Tidak bisaki merokok di dalam.” Saya membuka percakapan.

“Iya. Karena mereka anggap rokok itu bikin mati,” kata tukang bentor.

“Iye,” tanggapan saya sekenanya dan tersenyum sambil asap kretek mengalir keluar dari bibir.

“Mereka bilang merokok itu bikin mati,” lanjut si tukang bentor. “Kah kita ini pastimi mati. Merokok atau tidak pasti matiki. Biarki nda merokok matiki juga. Tapi, mereka selalu bilang rokok bikin mati. Biar presiden mati juga.

“Yang masalah itu bagaimana kita pertanggungjawabkan nyawata.”

Saya terus memperhatikannya. Dia tidak pernah menatap saya. Pandangannya selalu dia lempar ke kiri dan ke kanan. Dia sedang memperhatikan sekitar, kalau-kalau ada penumpang.

Satuji nyawata (hanya satu nyawa kita) ini. Tidak ada toko penjual nyawa,” lelaki itu terus bercerita. “Yang masalah sekarang, banyak pejabat nda tahu kalau mati nanti. Mereka korupsimi, apami, nda natau (mereka seolah tidak tahu) kalau satuji nyawanya.”

“Hehehe,” saya tertawa.

“Sekarang itu, bagaimana kita hidup,” dia masih bersemangat. “Hidup sekarang juga semakin susah. Itu anakku kalau pergi ke sekolah, nda maumi dikasih uang ta’seribu, limaribupi.” Dia mengeluh. “Sementara kita ini banyak juga kebutuhan. Mauki merokok dan segala macam.”

“Berapa bungkus kita’ rokok satu hari, om?” Saya bertanya.

“Biasa satu bungkus. Biasa juga sampai dua bungkus,” jawabnya. “Kau ini masih muda cukupmi itu satu bungkus satu hari.” Dia menceramahi saya. “Tapi, itu tongmi kalau ada teman, tidak berhentimi itu. Kayak kereta apimi. Ya, cukupmi kalau kau sudah makan merokok.” Kecuali kalau adami kerjamu.”

Saya tertawa dalam hati.

Dua orang perempuan datang dan naik ke bentor lelaki itu. “Pergika pale (saya pergi) dulu,” kata si tukang bentor. Saya membalasnya dengan senyum.

***

Batang kretek kedua saya belum habis. Saya masih terbayang perkataan si tukang bentor tadi soal kematian. Peringatan baru di bungkus rokok, ROKOK MEMBUNUHMU, muncul dalam pikiran saya.

Si tukang bentor  tadi pasti sudah tahu peringatan baru itu. Dari ceritanya, dia tidak memedulikan peringatan baru tersebut. Jelas dari kalimatnya yang mengatakan bahwa merokok atau tidak kita pasti mati. Bagi dia, bukan mati yang harus dipikirkan. Melainkan, bagaimana kita menggunakan satu nyawa yang diberikan Tuhan. Karena, nyawa itu yang akan manusia pertanggungjawabkan, tidak pandang bulu, presiden maupun tukang bentor.

Dari cerita tukang bentor itu juga, peringatan baru bungkus rokok tidak lebih penting dari persoalan ekonomi sehari-hari. Jelas dari keluhannya terhadap uang jajan anaknya. Lelaki itu hendak menyampaikan bahwa persoalan ekonomi rakyat harus mendapat perhatian lebih pemerintah ketimbang peringatan di bungkus rokok.

Lelaki itu juga memegang teguh etika merokok. “Saya, kalau ada penumpangku perempuan, ibu hamil, atau anak-anak, nda merokokka (saya tidak merokok),” kata dia.

***

Setelah menghabiskan tiga batang kretek filter mild, saya kembali masuk ke kantor Dinas Kesehatan. Saya bertanya kepada seorang pagawai laki-laki perihal keberadaan orang yang berwenang mengeluarkan data. Dia menjawab orang itu belum datang. Dia menyuruh saya melihat kantor orang yang berwenang itu. Saya tidak tahu, apakah orang itu kepala dinas atau bukan. Tidak ada tanda di pintu ruangannya. Saya menunggu.

Saya duduk di bangku tunggu. Beberapa pegawai pulang. Dari percakapan mereka, saya tahu ada seorang pegawai meninggal dunia. Saya menunggu dengan cemas. Pantat saya terasa panas. Saya berdiri sebentar, lalu duduk kembali.

Tampaknya, tidak ada kejelasan keberadaan orang itu. Saya bertanya lagi kepada pegawai resepsionis. Dia tidak tahu ke mana dan kapan datangnya orang yang saya tunggu. Mengherankan, tak satupun pegawai mengetahui ke mana perginya orang penting itu.

Hingga pukul tiga sore saya berada di kantor Dinas Kesehatan. Saya kecewa. Saya masih ada urusan lain di kampus. Saya meninggalkan kantor itu menuju kampus.

Dari Dinas Kesehatan, saya tidak mendapat apa-apa. Dari tukang bentor saya mendapat pengetahuan lain.

(Visited 164 times, 1 visits today)