Penghancuran Kretek oleh Philip Morris

Perusahaan rokok PT HM Sampoerna Tbk akan menutup dua pabrik Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Jember dan Lumajang, 31 Mei 2014. Peristiwa itu bertepatan dengan hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dampak dari penutupan ini, sekitar 4.900 karyawan bakal dirumahkan (PHK).

Maharani Subandhi, Sekretaris Perusahaan PT HM Sampoerna, Jumat, 16 Mei 2014 menyatakan, keputusan PHK terjadi karena turunnya pangsa pasar segmen SKT. Padahal kalau dilihat leih jauh, PHK yang dilakukan Sampoerna ini tidak ada kaitanya dengan menurunnya trend pasar Kretek. Tetapi lebih karena keinginan Sampoerna untuk melakukan efisiensi perusahaan dan juga bagian dari skenario besar dari kepentingan industri rokok asing untuk menghancurkan Kretek Indonesia.

Mengapa demikian? Kalau turunnya pangsa pasar, seharusnya justru tidak Sampoerna yang terimbas. Tetapi perusahaan-perusahaan kretek lain yang akan mati. Karena bagaimana pun brand SKT Sampoerna lebih kuat dibanding perusahaan SKT lainnya. Apalagi, menurut Abhisam, Laporan Tahunan HMS 2013 menunjukkan secara kesuluruhan portofolio HMS mengalami pertumbuhan meskipun SKT Sampoerna mengalami penurunan. Bahkan Sampoerna mengakui, portofolio SKT Sampoerna mempertahan posisi teratas di segmen SKT.

Sampoerna tidak bisa menutup pabrik dengan alasan pasar SKT mengalami penurunan. Bagaimana mungkin Sampoerna menutup pabrik dengan alasan mengalami kerugian padahal dividen tahun 2012 mencapai Rp9,95 triliun?

Lagipula, di antara komsumen kretek selalu terdapat consumer swinging dari konsumsi satu merek kretek ke kretek lainnya. Semua pabrik mengalami perubahan. Setiap tahun selalu ada perubahan, dan itu biasa. Tapi kenapa kali ini sampai menutup pabrik? Tidak heran kalau kemudian ada dugaan dibalik PHK massal ini, yakni adanya skenario Sampoernya untuk mengganti kretek menjadi rokok putih mengingat Sampoerna kini dibawah kendali Philip Morris.

Dugaan ini diperkuat dengan dukungan Sampoerna pada Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 yang memuat aturan mengenai standarisasi tembakau. Dengan standarisasi tembakau itu kan rokok putih makin bebas, dan SKT makin tergerus, tidak heran kalau Sampoerna mulai menutup pabrik SKT. Dan kasusu turunnya konsumsi SKT ini menjadi momentum bagi Sampoerna untuk memulai mengikis kretek.

Philip Morris melalui Sampoerna ingin untuk mengubah produksi SKT menjadi Sigaret Kretek Mesin (SKM) atau rokok putih, yang tidak memerlukan banyak tenaga kerja. Terlebih lagi, Sampoerna berkepentingan untuk memperluas pangsa rokok putih Philip Morris International di Indonesia. Dan kali ini buruh yang menjadi korban dari rencana rencana besar penghancuran Kretek Indonesia, dan kepentinganya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan memproduksi rokok SKM.

Penutupan dua pabrik SKT Sampoerna di Lumajang dan Jember jelas bukan semata karena turunnya pasar. Perubahan selera konsumen penikmat rokok kretek itu wajar, termasuk dari Sigaret Kretek Tangan (SKT) ke Sigaret Kretek Mesin (SKM). Pertanyaannya, apakah penurunan itu memadai untuk diambil kebijakan penutupan pabrik?

Dari kasus penutupan pabrik ini, terlihat sekali bahwa Sampoerna tidak punya keberpihakan terhadap Kretek. SKT adalah indutri rokok padat karya. SKT merupakan warisan budaya. Khusus SKT, harusnya Sampoerna mempertahankannya. Karena SKT banyak menyerap tenaga kerja. Sayangnya Sampoerna hanya mau untungnya saja.

(Visited 658 times, 3 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Opini

Tags: ,,,,,