Presiden Republik Kretek

merokok budaya
merokok budaya

Tak bisa dipungkiri, bahwasanya agenda nasional yang bertajuk pemilihan umum telah menyita perhatian banyak pihak. Sekalipun seseorang dengan alasan ideologis tidak mempercayai bahwa pemilu akan membawa perubahan, namun banyak juga yang terseret pada arus ini walau mungkin sekedar untuk melihat dan berkomentar.

Terlepas juga dari hasil quick count atau bahkan mungkin nanti hasil real count oleh KPU menunjukan bahwa golput tetap mendapatkan prosentase yang besar, entah dengan berbagai alasan. Namun saya yakin bahwasanya itu tak akan mampu mendelegitimasi hasil pemilu ataupun mendelegitimasi pemerintahan kedepan. Mengingat untuk mengkapitalisasi hasil golput yang besar itu menjadi sebuah proses delegitimasi pemilu dan hasilnya merupakan sebuah perjuangan politik yang amat berat.

Suka atau tidak suka, sebentar lagi rakyat Indonesia akan mendapatkan wakil barunya yang akan duduk manis dengan nyamanya di Senayan. Suka atau tidak suka, sebentar lagi rakyat Indonesia juga akan mendapatkan Presiden baru yang akan bertengger di Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Namun demikian, saya kira kita para kretekus sejati tidak akan membiarkan mereka para elit politik untuk dapat duduk tenang menikmati jabatanya. Suara-suara kritis akan terus dan harus terus kita sampaikan kepada para penguasa negeri ini. Hal ini mengingat bahwasanya para penguasa negeri ini banyak yang menjadi agen dari berbagai kepentingan modal asing, yang pada akhirnya akan menjadikan rakyat Indonesia sebagai korban, dan mereka yang berkuasa menikmati hasil dari kekayaan alam Nusantara. Maka harus kita pastikan, bahwa kita tidak akan pernah tinggal diam melihat hal ini terulang kembali pada lima tahun mendatang. Kita tak ingin momentum pemilu hanya menjadi satu ajang pergantian kekuasaan dan pergantian penikmatan atas kekayaan alam Nusantara.

Tulisan ini saya buat bukan untuk mengajak anda para kretekus untuk memilih salah satu dari calon Presiden yang tersedia sekarang. Juga bukan untuk menjabarkan berbagai teori analisis atas siapa Presiden lima tahun kedepan yang pantas untuk memimpin bangsa ini. Karena siapapun anda, dari golongan manapun anda. Pastilah anda telah memiliki basis teori dan analisis tertentu untuk memilih Presiden yang tepat menurut anda. Karena semua itu adalah hak politik anda, yang telah melekat pada diri anda, termasuk juga hak untuk tidak menggunakan suara anda.

Tulisan ini hanya hendak menyampaikan bahwasanya Presiden terpilih nanti adalah juga Presiden dari Republik Kretek. Presiden yang harus memikirkan jutaan orang yang selama ini telah menggantungkan kehidupannya pada emas hijau, tembakaku. Ini menjadi sangat penting, karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Presiden kedepan harus melindungi para petani tembakau dan cengkeh dari ancaman yang bernama Framework Convention of Tobacoo Control (FCTC), yang dapat merugikan dan menghancurkan cengkeh dan tembakau yang telah menghidupi jutaan petani dan keluarga petani Indonesia.

Presiden kedepan juga harus mampu melindungi industri kretek nasional, khususnya yang berskala kecil menengah dari ancaman dan serangan MNC rokok putih yang hendak menguasai pangsa pasar nasional dengan berbagai caranya. Yang tentunya juga akan melindungi para tenaga kerja di industri rokok kretek dari ancaman PHK dan ketidakpastian kerja akibat penerapapan sistem kerja kontrak dan outsourching. Selain itu juga harus memikirkan satu model penerimaan cukai yang tepat bagi produk tembakau, agar 108 triliun rupiah yang menjadi target pendapatan negara melalui cukai dapat diserap secara maksimal tanpa merugikan industri kecil menengah yang memiliki keterbatasan modal. Lalu menyalurkan dana bagi hasil cukai tembakau yang sebesar 2% itu untuk berbagai program yang bermanfaat bagi para stakeholder pertembakauan nasional, seperti riset dan pengembangan bagi industri tersebut. Bukan malah membiarkan para kelompok anti rokok merampok uang dana bagi hasil cukai tembakau untuk kepentingan kampanye anti rokok yang selama ini telah mereka lakukan.

Presiden terpilih nanti juga harus memilki sikap nasionalisme yang sejati, agar kepentingan industri farmasi asing dengan berbagai projectnya yang terus menggerus dan mendiskreditkan rokok sebagai sebab utama dari berbagai macam penyakit. Serta mendiskriminasikan para konsumen rokok atas berbagai haknya seperti ruang khusus merokok di kawasan tanpa rokok, seperti yang tertuang dalam UU Kesehatan pasal 115. Melarang perokok untuk mendapatkan haknya memperoleh pelayanan kesehatan melalui BPJS, dengan cara menerbitkan Permenkes yang saat ini masih terus dalam penggodokan. Atau juga tidak melibatkan konsumen rokok dalam membuat berbagai kebijakan anti rokok.

Tak cukup sampai disitu. Satu hal yang harus dipahami dengan baik oleh Presiden kedepan adalah tentang kretek yang merupakan penciptaan kebudayaan bangsa ini seperti yang digambarkan oleh alm. WS Rendra, dalam kesaksianya di Makhkamah Konstitusi. Menghapus kretek dengan berbagai macam regulasi, artinya sama dengan menghapus satu pencapaian kreatifitas leluhur dalam membuat kretek dari masa depan negeri ini.

Semua agenda modal asing atas pasar dan produksi tembakau nasional tentu menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi Presiden kedepan. Lihat saja, 10 tahun terakhir ini Pemimpin republik Kretek ini tak mampu berbuat banyak untuk melindungi kepentingan kretek nasional. Terlalu mudah untuk jatuh dalam cengkraman modal asing, sehingga mau menelurkan berbagai kebijakan terkait tembakau yang justru semakin merugikan anak-anak Nusantara. Dan menjadi tanggungjawab kita bersama para stakeholder pertembakuan. Para petani tembakau, para petani cengkeh, para pemilik pabrik, para buruh-buruh pabrik, pada pedagang eceran, dan juga para kretekus Nusantara untuk terus mengawal pemimpin mendatang agar dapat melindungi kretek pusaka nusantara dari ancaman modal asing.

Sumber Foto: Eko Susanto (Flickr)