Rokok Kretek sebagai Propaganda Politik Anti Jepang

rokok kretek
rokok kretek

Persis satu tahun sesudah bala tentara Jepang dibawah pimpinan Mayor Jenderal Hitoshi Imamura mendarat di Eretan Wetan (Teluk Banten) dan menumbangkan kekuasaan kolonial Belanda di nusantara, pemerintah fasis Jepang mengeluarkan berbagai peraturan untuk melanggengkan kekuasaannya. Beberapa di antara peraturan itu adalah mengganti bahasa percakapan dan tulis di Indonesia dari bahasa Belanda atau Inggris menjadi bahasa Jepang atau Melayu. Sebagai turunan dari kebijakan penggusuran bahasa kolonialis lama itu, penguasa Jepang juga memutuskan mengganti semua nama yang berbau Belanda atau Eropa dengan nama Jepang atau Melayu. Toko, perusahaan, produk kebutuhan hidup sehari-hari, bioskop, sampai jalan harus diganti namanya dengan nama-nama Jepang dan Melayu. Tujuannya jelas: sebagai media propaganda politik guna melanggengkan kekuasaan mereka.

Salah satu perusahaan dan produk-produk usaha yang terkena dampak ini adalah perusahaan dan produk rokok. Seperti apakah peta besar politik rokok di jaman pendudukan Jepang? Di Yogyakarta, sebuah perusahaan rokok besar yang produknya banyak disukai di Eropa, Negresco NV, oleh intervensi langsung penguasa Jepang harus rela berganti nama baru menjadi Jawa Tobacco Kojo. Produk cerutunya berganti nama menjadi Momo Taro. Perusahaan ini juga memproduksi dua jenis sigaret yang di masa pendudukan Jepang sangat terkenal, yaitu Kooa dan Mizuho. Selain diproduksi oleh pabrik rokok di Yogya, merk Kooa juga diproduksi oleh perusahaan rokok Faroka di Malang, sementara merk Mizuho diproduksi oleh pabrik Davros di Cirebon. Di jaman Belanda, merk Kooa ini dikenal dengan sebutan “Mascot,” sementara Mizuho dikenal dengan merk “Davros.” Rokok dengan merk Double Ace oleh penguasa Jepang diganti namanya menjadi “Sekidoo” atau :Khatulistiwa.

Untuk memuluskan penggusuran merk-merk berbau Belanda atau Eropa dengan merk yang lebih ke-Jepang-Jepang-an atau berbau Melayu, penguasa Jepang lewat produsen-produsen rokoknya sampai menyelenggarakan sayembara penciptaan nama merk atas produk rokok mereka. Sayembara ini konon diikuti sampai 1889 orang. Dari sayembara itulah lahir merk-merk rokok yang menjadi media propaganda Jepang: Kooa, Mizuho, Siraho, Sekidoo, dan Semangat. Di antara semua merk rokok itu, barangkali merk Kooa dan Mizuho-lah yang paling banyak dikenal masyarakat luas.

Terhitung sejak 1 Maret 1943, penguasa Jepang berhasil meluncurkan produk rokok itu dan melancarkan propaganda politik yang halus lewat rokok pada penduduk Hindia Belanda. Semua toko yang menjual rokok harus menyediakan berbagai merk rokok yang telah direstui oleh penguasa fasis Jepang. Guna memuluskan rencana propaganda lewat rokok itu pula, pemerintah kolonial Jepang mengeluarkan sebuah peraturan aneh di masa itu: toko-toko harus buka di hari minggu untuk melayani pegawai negeri dan orang-orang yang hanya punya waku luang di hari itu. Sebelumnya, di jaman Belanda, toko-toko biasanya mengambil libur di hari minggu.

Produk propaganda berupa rokok menghasilkan produk propaganda turunan lainnya. Entah siapa yang mengarangnya, dalam ingatan Suparto Brata, anak-anak Surabaya menciptakan ungkapan penyemangat bagi mereka dalam bahasa Jawa untuk melawan musuh: “Sira Semangata, Musuha, tak kooaplok!” (Kalian semua semangatlah. Karena musuh sekalipun akan kupukul!). kalimat dalam bahasa Jawa itu adalah penggabungan dari beberapa merk rokok pada masa itu: Siraho, Semangat, Mizuho, dan Kooa!

Ketika  memutuskan pembentukan Jugun Ianfu atau barisan wanita penghibur tentara Jepang, penguasa Jepang bahkan membekali para perempuan itu dengan satu setengah bungkus rokok Kooa setiap harinya! Begitulah, para perempuan yang telah ditipu oleh penguasa Jepang dengan iming-iming pekerjaan yang enak itu setiap harinya harus menghabiskan satu setengah bungkus rokok Kooa untuk menghibur serdadu Jepang saat mereka tak berada di medan laga.

Apa yang dilakukan oleh kaum pergerakan untuk melawan propaganda Jepang lewat rokok itu? Sebagian besar di antara mereka juga perokok aktif. Menghadapi manuver Jepang, mereka berusaha melawannya dengan tetap mengkonsumsi rokok kretek. Para penduduk dan orang-orang yang anti fasisme Jepang melawan propaganda tersebut dengan menghisap rokok kretek cap tempel, klobot, dan rokok kretek tingwe yang merupakan industri rumah tangga di daerah-daerah seperti Cirebon, Kudus, Malang, Kediri, dan Yogyakarta. Salah satu rokok kretek yang terkenal di Jawa masa itu adalah rokok kretek tali satu dan rokok kretek tali dua. Di Jakarta sendiri, dalam ingatan budayawan Betawi, Alwi Shahab, rakyat umumnya mengisap rokok kawung yang terbuat dari daun nira dengan tembakau berbentuk lempengan yang harus dicubit tembakaunya terlebih dahulu sebelum dilinting dengan daun kawung.

Sebagaimana anak-anak Surabaya menciptakan ungkapan penyemangat dalam menghadapi musuh dari merk-merk rokok itu, orang-orang yang tak menyukai kekuasaan fasis Jepang juga menciptakan lagu-lagu yang menunjukkan ketidaksukaan mereka pada penguasa. Di Yogyakarta dan sekitarnya, misalnya, beredar lagu senggakan dalam bahasa Jawa unik kalau diikuti liriknya merupakan pembandingan antara produk rokok dari pabrikan besar dan produk rokok rumah tangga:

Misuho misuho, Koa/Fajar semangat, Srutu Momotaru/Rokok kretek taline ijo/Isih enak rokok tali loro/Paling enak, klobote mbako… (Memaki, memakilah, Kau/Fajar semangat, Cerutu Momo aru/Rokok kretek bertali hijau/Masih enak rokok klobot tembakau…)

Tentu saja orang menyanyikan lagu senggakan ini tidak secara terang-terangan di depan pasukan atau penguasa sipil Jepang. Namun lagu senggakan itu beredar luas di masyarakat sebagai sebuah ekspresi ketidaksukaan sebagian besar penduduk Indonesia atas kekuasaan Jepang yang ingin mengatur hidup mereka hampir dalam segala hal. Bagaimana pun juga, penguasa fasis Jepang tak akan mampu melawan produksi dan pemasaran rokok kretek rumah tangga yang jumlahnya jauh lebih banyak dan operasinya jauh lebih rumit daripada produksi dan pemasaran produk-produk rokok yang mereka restui.

Kalau pemerintah sekarang ingin belajar dari masa lalu, mereka tak akan mengulangi kebodohan yang dilakukan oleh rezim Jepang di masa lalu. Kalau saja…

Sumber Foto: Eko Susanto (Flickr)