Kretek, Sebuah Telaah Pasar

industri rokok jemur tembakau
industri rokok jemur tembakau

Not only can kretek be seen as a symbol of Indonesia society and culture –a smoke that capture the soul of the nation—but it is also something that brings Indonesian people together…Indeed, onbe might even forgiven for saying that kretek is the lowest common denominator of contemporary Indonesian culture, more widespread and unifying than even the national language, –Mark Hanusz-

Kretek telah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia sejak lama. Merujuk pada catatan Thomas Stamford Raffles, kretek telah dikenal secara luas dan menjadi salah satu komoditas utama khususnya ditanah Jawa pada kurun 1600-an. Disisi lain, kretek telah menjadi bagian tersendiri dari kebudayaan negeri ini. Masyarakat kita menjadikan kretek sebagai salah satu bentuk komunikasi non-verbal dalam kehidupan sehari–hari. Kretek menjadi sarana yang sering dipakai untuk mengawali sebuah pembicaraan dan dengan kreteklah batasan–batasan kelas dalam kehidupan sosial serasa tidak berarti.

Jatuh bangun Industri kretek nasional sejak mulai populer dikalangan masyarakat bawah di wilayah Kudus telah mengalami kisah yang panjang. Hingga saat ini, Industri kretek telah menjadi suatu jaringan industri besar yang mampu menyerap ribuan tenaga kerja. Tidak hanya tenaga kerja disektor hilir yang langsung bersentuhan dengan produk akhir berupa kretek, namun juga tenaga kerja disektor hulu seperti petani tembakau dan cengkeh yang tidak kalah banyak jumlahnya. Pada akhirnya, kenyataan bahwa peranan industri kretek sangat besar dalam menyokong perekonomian negara tidak dapat dipungkiri.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Kretek Indonesia (GAPPRI) tahun 2001, jumlah tenaga kerja yang bekerja disektor ini berjumlah 180 ribu orang dan meningkat menjadi 190 orang pada tahun 2002. Jumlah tersebut tentunya terus meningkat mengingat permintaan akan produk kretek semakin meningkat.

Dilain pihak, hingga tahun 2003 industri kretek Indonesia dikuasai empat perusahaan besar. Perusahaan – perusahaan tersebut adalah PT. Gudang Garam Tbk., PT. H.M. Sampoerna Tbk., PT. Djarum Tbk., dan PT. Bentoel. Sementara itu industri kretek dalam skala mikro kecil menengah yang berjumlah lebih dari 200 perusahaan hanya mampu menjangkau 25–30 persen pasar domestik.

Hal tersebut merupakan konsekuensi dari struktur pasar oligopoli, dimana perusahaan–perusahaan besar memiliki pangsa pasar yang besar. Setiap produsen bisa menjual produknya keseluruh wilayah. Dalam kasus perusahaan besar, kemampuan mereka untuk menjangkau pasar yang luas sangat dimungkinkan dengan kemampuan modal yang tinggi. Namun hal ini menjadi sulit bagi produsen–produsen skala kecil yang memiliki modal terbatas.

Mekanisme oligopoli juga menuntut produsen untuk menetapkan harga yang relatif tetap dan hanya akan naik pada kondisi tertentu. Untuk dapat memperoleh keuntungan, para produsen akan melakukan diferensiasi produk dengan harga yang beragam.

Implikasi dari diferensisi produk ini berupa munculnya berbagai varian produk kretek, dan Sigaret Kretek Mesin Mild (ringan) menjadi varian dominan saat ini. Dalam hal penggunaan cengkeh, SKM Mild hanya menggunakan sebanyak 0,25 gram perbatang, jauh lebih sedikit dari penggunaan SKT sebanyak 0,70 gram perbatang. diharapkan akan semakin meningkat seiring pertumbuhan industri SKT.

Namun, sebagai salah satu pemasok bahan vital dalam industri kretek, produsen cengkeh harus dihadapkan pada mekanisme–mekanisme yang menurunkan posisi tawar mereka terhadap konsumen dalam hal ini perusahaan rokok. Terlebih lagi, atas alasan efisiensi, produksi kretek tangan mulai tergantikan dengan mesin.  Penggunaan cengkeh dalam industri kretek ini diperkirakan akan terus menurun seiring dengan bergesernya komposisi konsumsi sebagai akibat dari perubahan selera konsumen yang lebih memilih SKM Mild dan rokok putih.

Kasus yang paling anyar terjadi di Jawa Timur. Sebuah pabrik produksi kretek tangan yang sahamnya dimiliki asing ditutup. Hasilnya, ratusan buruh dirumahkan.  Alasannya untuk efisiensi karena pangsa kretek tangan mulai menurun. Tindakan ini dilakukan perusahaan untuk menekan ongkos produksi dan meningkatkan keuntungan sebesar – besarnya. Namun, pada akhirnya kesejahteraan petanicengkeh, tembakau, dan buruh yang kemudian dikorbankan.

Kompleksitas pemain yang terlibat dalam industri kretek ini telah meletakkan kretek pada posisi yang strategis. Kretek telah menjadi penopang bagi jutaan orang yang menggantungkan pendapatan mereka dari sektor ini. Perjalanan panjang kretek juga telah menjadikannya bagian tak terlepaskan dari kebudayaan nusantara. Kebiasaan melinting yang sangat akrab bagi masyarakat jawa akhirnya melahirkan istilah tingwe (kependekan dari bahasa Jawa, ngelinting déwé yang berarti melinting sendiri, untuk diartikan sebagai lintingan tangan).  Selain itu terdapat jugta rokok klembak menyan asal Cilacap dengan tambahan klembak dan menyan yang identik dengan kesan.

Sumber Foto: Eko Susanto (Flickr)