Membedakan Kretek dan Rokok

Masih banyak yang kesulitan untuk membedakan antara kretek dan rokok. Walaupun sebenarnya mudah saja membedakan keduanya, antara kretek dan rokok. Jika dibakar kretek akan berbunyi “keretek, keretek, keretek….” Dan bunyi yang demikian itu tidak akan muncul jika yang dibakar adalah rokok.

Itu pula yang membuat benda ini dinamakan sebagai kretek, campuran cengkeh dalam racikan rokok menjadikan rokok khas Indonesia, kretek atau clove cigarates. Berbeda dengan rokok, kretek yang memadupadankan tembakau dan cengkeh ini adalah temuan seorang pribumi bernama Haji Djamhari, di Kudus pada sekitar dekade 1870-80an. Kretek adalah karya orisinil anak bangsa.

Dan dengan perpaduan cengkeh itu pula, maka tidak ada negara lain yang sanggup memproduksi kretek sebagaimana Bangsa Indonesia. Sebabnya, cengkeh adalah tanaman endemik Nusantara yang tidak bisa dibudidayakan di sembarang tempat. Hanya Indonesia, bangsa kita, yang mampu memproduksi. Terlebih sekarang ini budidaya cengkeh telah tersebar, tidak hanya di Kepulauan Maluku (tempat asal cengkeh), tapi di hampir semua propinsi di Indonesia, dari ujung Sumatera hingga Papua.

Baiklah, bisa jadi, kretek dan rokok merupakan produk olahan dari tembakau. Tapi yang membedakan lagi, tembakau yang digunakan untuk bahan baku kretek merupakan hasil kerja rakyat. Kretek menyerap  97,43 persen tembakau yang dihasilkan dari perkebunan rakyat, sisanya sebesar 2,57 persen lagi dari perkebunan negara. Kemudian, dari bahan baku cengkeh sebagai bahan tambahan kretek mampu menyerap sebesar 96 persen hasil panen petani cengkeh di Indonesia.

Kretek telah berkelindan dalam sejarah Bangsa Indonesia. Di era kolonialisme Belanda, kretek menjadi simbol perlawanan terhadap diskriminasi dalam berusaha, aktivitas ekonomi, yang diterapkan oleh pemerintahan Hidia Belanda. Bahkan di daerah Jawa Timur hingga Jakarta pada era revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, beredar yang disebut sabagai “besek bentoel”. Besek ini berisi rokok dan keperluan lain yang dibagikan kepada pejuang kemerdekaan yang sedang melawan agresi Belanda.

Dari produk bernama kretek ini telah mampu memberikan penghidupan bagi 11 juta petani dan buruh tani di perkebunan-perkebunan tembakau dan cengkeh di seluruh Indonesia. Belum lagi, kretek telah menyerap sekitar 600 ribu jiwa tenaga kerja yang bertugas menghasilkan karya tangan khas Indonesia ini. Serta jutaan jiwa lagi yang pekerjaannya terikat langsung dan tak langsung dengan Industri Kretek, dari sektor transportasi, percetakan, retail, dan iklan.

Dari kretek inilah dihasilkan pendapatan negara yang luar biasa besarnya bagi kas negara. Melalui komponen Cukai Hasil Tembakau (CHT), dihasilkan penerimaan negara sebesar Rp 107,2 triliun pada 2013 (dan sekitar Rp 110 trilun pada 2014). Itu artinya, pendapatan negara yang dihasilkan dari banderol cukai sebesar 8,8 persen dari penerimaan perpajakan APBN yang totalnya sebesar Rp 1.148 triliun. Belum ditambahkan pendapatan dari PPH, Pajak Daerah, dan aneka jenis pajak lain yang dihasilkan dari industri kretek yang besarannya mencapai Rp 150 trilun per tahunnya.

Kretek mampu menjadi pertahanan ekonomi bangsa di masa krisis yang sulit sekalipun, seperti yang menimpa bangsa Indonesia pada tahun 1997-1998, karena tembakaunya dari dalam negeri, cengkehnya dari dalam negeri, kertasnya dari dalam negeri, sausnya dari dalam negeri, dan konsumen terbesarnya dari dalam negeri pula.

Inilah kretek, bukan rokok, yang menjadi sokoguru perekonomian Indonesia. Atau dalam bahasanya WS Rendra, (daya) survival dari kretek ini membantu kekuatan pembangunan Indonesia.