Rokok dari Ibu Menteri

Suku Anak Dalam kelaparan, ada yang meninggal, dan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa datang mengunjungi mereka dan memberikan rokok untuk diisap. Inilah kesan yang muncul dari tulisan seorang bernama Ricki Cahyana, seorang yang menyebut dirinya Social Activist dan Social Projector. Ricki menulis di kolom blog warga, Kompasiana, merujuk pada pemberitaan Harian Tribun Pekanbaru, 14 maret 2015.

Tribun Pekanbaru menjuduli beritanya (berita singkat, hanya tujuh paragraf): “Menteri Khofifah Bantu Orang Rimba Rokok dan Bahan Makanan”. Tulisan Ricki juga terdiri dari tujuh paragraf. Bedanya, jumlah kata dalam satu paragraf tulisan Ricki jauh lebih banyak dibanding jumlah kata dalam pemberitaan Tribun Pekanbaru. Dan analisis ini ia beri tajuk: “Dikala Warga Suku Meninggal, Mensos Beri Bantuan Rokok.”

Kedua judul ini sekilas pintas sama. Padahal jelas sudah sangat berbeda. Judul pertama sekadar mengabarkan fakta, judul kedua, menyimpulkan. Jika isinya diperbandingkan, perbedaan ini semakin kontras (untuk tidak menyebutnya berbanding terbalik).

Tribun Pekanbaru menuliskan kalimat langsung Menteri Khofifah. “Ini saya bawakan rokok juga, saya lihat tumenggung suka sekali rokok, ya.”

Lalu Ricki menulis: “Khofifah memberikan bantuan berupa bahan makanan, pakaian dan rokok sebagai bentuk kepeduliannya. Rokok dan masalah gizi jelas tidak ada korelasinya, justru secara langsung menteri memberikan kesempatan warta untuk menikmati kesakitan akibat rokok. Lucunya, kebiasaan buruk warga malah didukung pemerintah.”

Saya tak hendak mereka-reka, pisau analisis macam apa yang digunakan Ricki Cahyana hingga ia berani memberi kesimpulan sedemikian rupa terhadap berita yang berangkat dari fakta (dan malah ada videonya).

Saya juga tidak berminat menebak-nebak, apakah saat menulis yang bersangkutan sedang berkhayal, sedang bermimpi, atau jangan-jangan memang sadar sesadar-sadarnya namun gagal untuk menulis secara objektif lantaran jauh sebelum menulis ia tidak membersihkan pikirannya dari syakwasangka dan curiga, hingga ia dengan gegap gempita meyakini, bahwa rokok (mungkin beberapa bungkus jumlahnya) yang diberikan Khofifah pada tumenggung (tetua adat) merupakan bentuk dukungan pemerintah terhadap rokok.

Dan tentu saja saya juga tidak mau mencari sebab, kenapa kesimpulan yang kelewat canggih dari Ricki ini kemudian menyebar secara viral, dimuat ulang oleh berbagai media massa (terutama sekali media massa online) dengan beragam pengayaan termasuk komentar pedas dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia yang menyebut bahwa tindakan Khofifah amat sangat memalukan, lantas ramai-ramai dikunyah di media sosial.

Kecenderungan seperti ini sudah lumrah terjadi. Kemudahan yang diberikan sosial media secara tragis justru semakin menjerumuskan masyarakat kita kepada perilaku malas membaca, malas membuat pembanding-pembanding, tapi kian gemar menyimpulkan, menghakimi, mengejek, dan memaki. Lantas dengan enteng tertawa-tawa, saat ternyata apa yang telah mereka simpulkan, apa yang mereka hakimi, ejek, dan maki, bukanlah kenyataan sebenarnya.

Saya tak akan membahas itu semua sebab hanya akan jatuh percuma. Ricki tentunya akan punya seribu satu macam pembelaan dan dia memang berhak untuk melakukan hal itu. Pula demikian (meminjam istilah Jaya Suprana) kelirumologi-kelirumologi yang dipampangkan di media sosial. Saya ingin bicara soal rokok Ibu Menteri Khofifah saja.

Jauh sebelum rokok jadi isu sensitif di negeri ini, di Padangsidempuan, Tapanuli Selatan, Sumut, kurang lebih 27 tahun lalu, saya mendapati hal yang tak hilang dari benak sampai sekarang. Kala itu saya dan orangtua baru pindah. Belum genap satu pekan. Satu siang, pintu rumah kami diketuk orang. Begitu pintu dibuka, seorang laki-laki (yang belakangan saya tahu merupakan tetangga yang tinggal di ujung jalan) menyodorkan sebungkus rokok. Ayah saya tergeragap, dan mengatakan, “maaf, saya tidak merokok.”

Tetangga persis di depan rumah, yang melihat peristiwa itu, berteriak. “Pegang rokoknya, Pak”, dan ayah saya, dengan wajah kian bingung, memegang rokok yang disodorkan kepadanya. Lelaki tetangga jauh tadi pun tersenyum. Lantas setelah menyalami ayah saya, menambahkan. “Jangan lupa, Bapak, datang ke rumah saya hari Sabtu nanti. Anak saya disunat,” ujarnya.

Rokok sebagai pengganti surat undangan, sungguh mati, baru saya tahu pada hari itu. Kadang ia digantikan sirih. Namun, setidaknya sampai saat saya masih berdomisili di sana, adalah rokok yang paling sering saya jumpai.

Di daerah-daerah lain, rokok juga sudah menjadi budaya yang tak dapat dipisahkan. Dalam The Story of Java, Sir Thomas Stanford Raffles, mengutip Babad Ing Sangkala, memaparkan bahwa tembakau telah masuk dan ditanam di Jawa pada masa akhir pemerintahan Panembahan Senopati di Mataram sekitar tahun 1600-an. Kemudian menyebar ke Pati, Kudus dan Madura. Dua daerah terakhir, sampai hari ini, masih hidup dari tembakau.

Suku Anak Dalam bukan penanam dan penjual tembakau. Tapi mereka perokok, dan kebiasaan ini, tidak akan berubah menjadi lebih baik atau lebih buruk, dengan atau tanpa rokok dari Ibu Menteri Khofifah.

Pertanyaannya, apakah tindakan Khofifah salah? Bagi Temenggung Suku Anak Dalam pastinya tak salah. Batang-batang rokok yang dikemas pabrik ternama itu barangkali akan jadi kemewahan tersendiri bagi mereka. Sebaliknya, para aktivis antirokok, tentu saja, akan memandang tindakan ini nista senista-nistanya. Khofifah, sebagai pejabat pemerintah, sebagai menteri, dianggap menganjurkan laku merokok dan tidak peka, atau bahkan tidak menghargai jargon yang telah mereka lahirkan dengan segenap daya pikiran: Merokok Membunuhmu.

Dan sebagian kalangan, seperti yang juga sudah sangat sering terjadi pascariuh-rendah Pemilu Presiden tahun lalu, menghubung-hubungkan hal ini dengan tagline pemerintah pimpinan Joko Widodo, Revolusi Mental. Tentu saja, tendensinya adalah semata mengolok-olok.

 

Sebelumnya dimuat di Tribun Medan

(Visited 202 times, 1 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Opini

Tags: