YLKI, Rokok, dan Menteri Sosial

Ini tentang Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa. Bu menteri ini mendatangi orang Rimba di Jambi yang dikabarkan kekurangan pangan, lalu memberi bahan-bahan makanan, pakaian dan rokok. Kejadiannya Jumat , dua pekan silam, tapi media baru menghebohkannya Jumat kemarin atau sepekan kemudian, dan yang dihebohkan bukan usaha Khofifah membagikan makanan dan pakaian, melainkan pembagian rokok kepada para temenggung atau kepala suku.

Gara-garanya adalah siaran pers Tulus Abadi dari YLKI yang dikirimkan ke banyak meja redaksi. Dalam siaran pers itu, Tulus mempersoalkan pembagian rokok oleh Khofifah. Katanya, usaha Khofifah adalah sesuatu yang tragis, menyalahi aturan, bertolak belakang dengan program mengurangi kemiskinan, yada yada…

Dan bisa ditebak, judul-judul dan isi berita yang ditulis wartawan yang tidak tahu perkara yang sebenarnya, menjadi semacam pendapat YLKI dan Tulus. Mengggiring pendapat umum seolah tindakan Khofifah adalah dosa besar, dan karena itu harus dikecam, dan benar, di media sosial, banyak yang mengecam Khofifah.

Usaha bu menteri membagikan bahan makanan dan pakaian lantas disingkirkan, seolah tidak pernah ada. Tertutup oleh tuduhan Tulus soal rokok yang sekali lagi, sebetulnya hanya dibagikan oleh Khofifah kepada para temenggung dan terbatas.

Untuk melengkapi suaranya, Tulus tak lupa menuduh Khofifah disponsori oleh industri rokok besar untuk mempromosikan produknya. Sebuah tuduhan yang mungkin saja benar, mungkin saja setengah benar, mungkin saja justru insinuasi.

Satu hal yang sudah benar, tidak setengah benar, dan bukan insinuasi adalah, YLKI merupakan salah satu LSM penerima dana dari Bloomberg Initiative untuk berkampanye anti-rokok. Tiga tahun lalu, jumlah yang diterima mencapai Rp 5,5 miliar, dan karena itu Tulus dan YLKI niscaya [akan] bersuara keras soal rokok. Mungkin sangat keras.

Dan bukan kebetulan pula, bila siaran pers yang dikeluarkan YLKI bertepatan dengan pengumuman dari Bloomberg Philantropies dan Bill and Melinda Gates Foundation yang dikeluarkan di Dubai pada hari yang sama tentang dana baru anti-rokok yang dipersiapkan hingga Rp 4 triliun. Andai pun Tulus dan YLKI hendak mencari muka, tentu tak ada yang keliru. Mencari muka bukanlah aib.

Karena itu menarik untuk didengar, akan sekeras apa suara Tulus berteriak tentang rokok, bila YLKI kembali kecipratan dana baru dari Bloomberg. Saya hanya berdoa, mudah-mudahan suaranya tidak serak.