Alangkah Gawatnya Republik Porno Itu

Bukan. Bukanlah kabar mengejutkan jika Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengeluarkan Pergub Nomor 1 Tahun 2015 tentang Larangan Penyelenggaraan Reklame Rokok dan Produk Tembakau pada media luar ruang yang sedianya diterbitkan sejak Januari lalu. Dimana Gubernur periode sebelumnya pun  Fauzi Bowo, pernah menerbitkan peraturan senada terkait Kawasan Tanpa Rokok. Kepada siapa ‘monumen’ semacam itu dipersembahkan, dari situ kepentingan politik suatu rezim dapat terbaca arahnya.

Dan juga bukan sesuatu yang mengagetkan terkait respon koordinator koalisi smoke free Jakarta, Dollaris Suhadi, yang menuding adanya kejanggalan dalam pertemuan Menko Polhukam yang lalu dengan sejumlah pihak lantaran tidak melibatkan Kementerian Kesehatan yang pada konteks ini sangat berkepentingan dalam mendesak suksesi FCTC di Indonesia. Sebuah traktat internasional titipan asing yang mengancam kelangsungan sektor pertembakauan kita.

Boleh jadi masyarakat umum cuma bisa senyam-senyum, ketika Ahok pun melancarkan jurus pembenarannya dengan membilang, “Menteri Perdagangan melarang alkohol aja boleh kok. Aku cuma ngelarang iklan rokok loh, bukan ngelarang jual rokok.” Padahal bukan rahasia umum lagi di balik terbitnya sebuah peraturan, pelarangan terhadap bahaya suatu produk tersirat nuansa politik dagang serta kepentingan pat gulipat pasar. Rokok dan aktifitas merokok gencar dilarang di mana-mana, diatur-atur, sementara bahaya junk food ditiadakan, lalu apakabar pencernaan ?

Dan ajaibnya pula, berbagai kampanye anti rokok yang tidak sedikit pula menggunakan media luar ruang. Justru menampakkan sesuatu yang ‘porno’ sekaligus menzalimi kewarasan kolektif kita. Mulai dari menampilkan gambar siswa SMP yang merokok, balita yang disuapi puntung rokok, ibu muda merokok, muatan pesannya kerap mengesankan rokok lebih tinggi dari takdir.

Nah yang ‘porno’ dan mengerikan jika dicermati dri kampanye anti rokok (secara coding-decoding) selain mencirikan aktifitas orang merokok sekaligus pula menampilkan gambar rokok yang rata-rata dari tampilan filter rokoknya, perokok seperti saya bisa dengan segera menebaknya (ah, pantaslah rokok non cengkeh). Jika itu tidak dihitung sebagai iklan yang juga merangsang penasaran awam untuk menirunya (padahal iklan rokok sama sekali tak seporno itu lho broh). Maka alangkah gawatnya kewarasan para penentu kebijakan di republik porno itu.