Merokok Ingin Mati, Sudah Merokok Tak Mati-Mati

“Aku milih mateni awakku dewe, daripada leren rokok tapi mateni jutaan sedulurku! (Aku memilih membunuh diriku sendiri, daripada berhenti merokok tapi membunuh jutaan saudaraku!”

Begitulah jawaban tegas kakek saat berbincang dengan keponakannya yang kebetulan berprofesi sebagai dokter. Mbah Kaji, begitulah warga desa sering menyapa kakekku. Sesepuh desa kelahiran 1942 ini sambil klepas-klepus menghisap rokok lintingnya, membalikkan setiap argumen yang dilontarkan Sang Dokter.

“Rokok itu bisa membuat orang meninggal, sakit, dan kecanduan,” Sang Dokter mencecar kakek dengan beragam ancaman –yang katanya—menurut penelitian para dokter. Saat terjadi obrolan tersebut, rumah kakek sedang dipenuhi banyak tamu, pemandangan yang senantiasa ditemui saat Hari Lebaran tiba.

“Aku ngelinting sudah lebih 30 tahun, buktinya aku ndak mengidap penyakit kanker, paru-paru, atau penyakit-penyakit kronis yang selalu dikatakan para dokter. Aku juga masih kuat nyawah dari pagi hingga maghrib tiba,” ujar kakek. Kami tetap diam mendengarkan obrolan mereka berdua.

Kakek menunjuk tumpukan daun tembakau di pojok rumahnya. Kebetulan sekali, saat itu desaku musim panen tembakau. Menurut kakek, orang-orang yang anti terhadap rokok hanya berpikir sempit. Seenak-enaknya menyuruh berhenti merokok tanpa memikirkan dampak besar jika perokok berhenti membakar tembakau.

“Bagaimana nasib jutaan petani dan buruh pembuat rokok jika kami (para perokok) berhenti mengonsumsi tembakau? Sudah berpikir sampai situ? Bukannya malah menguntungkan dokter, kalau para perokok sakit? Ada juga yang bilang, uang untuk membeli rokok lebih baik ditabung. Lihat orang-orang yang tidak merokok, hidup mereka tetap miskin,” canda kakek.

Sang Dokter diam saja. Aku yakin, diamnya bukan karena tidak memiliki argumen, melainkan merasa tidak enak menentang orang yang lebih tua darinya. Melihat muka Sang Dokter, yang kebetulan saudaraku sendiri, tanganku ingin puk puk pundaknya. Melas dan kasihan.

Pro-kontra rokok memang selalu menjadi perbincangan yang selalu menarik. Berbagai sisi, mau ekonomi, agama, kesehatan, selalu timbul berbagai perdebatan. Sampai-sampai (alm) Gus Dur angkat bicara saat MUI mengeluarkan fatwa haram merokok. Menurut Kiai –yang dikenal—nyeleneh tersebut, MUI tak berpikir dalam kerangka luas, mereka hanya berpikir sempit dan terlalu bernafsu mengharamkan rokok.

Kata aktivis anti rokok, “Merokok membunuhmu”, kata-kata yang sudah terpampang di papan-papan iklan dan bungkus rokok. Kampanya yang terlalu dipaksakan, dan terkesan lebay, batinku. Sedang kata kakek, lelaki tua yang selalu menghisap lintingannya sendiri, “Merokok membunuhmu tapi berhenti merokok membunuh saudara dan negaramu!”

“Le, kampanye dokter itu membahahayakan pola pikir masyarakat. Aku merokok, tapi tidak mati-mati. Padahal aku pengen cepet mati daripada melihat negara dipenuhi korupsi yang tak pernah mati ini. Tapi kalo berhenti merokok membunuh saudara dan negaramu itu tidak bisa dibantah. Bayangkan, jika perokok berjamaah berhenti merokok, bagaimana nasib para buruh dan petani tembakau? Siapa yang mau menjamin pekerjaan mereka?” Jawab kakak saat kutanya pasca obrolannya dengan Sang Dokter.

Sambil menawariku rokok lintingnya, kakek terus berujar. Baginya, urusan kesehatan adalah urusan masing-masing. “Dirimu adalah dokter pribadimu. Ia yang mengerti sehat tidaknya badanmu karena rokok. Bukan orang lain. Tapi kalau urusan sehat tidaknya para petani atau buruh, ya, jelas orang lain. Petani dan buruh akan sakit saat tak ada pembeli dan konsumen yang senantiasa mengonsumsi. Logikanya orang tidak pernah sekolah aja bisa seperti ini. Lha kok, otaknya orang-orang pinter malah keblinger.”

Kakek menyuruhku membayangkan, apabila para perokok berjamaah berhenti merokok, berarti pabrik rokok gulung tikar, dan apabila pabrik gulung tikar, berarti para petani hidup tanpa penghasilan. Meski lahan bisa ditanami tetumbuhan yang hasilnya hanya bisa untuk menjaga kompor tetap menyala. “Jika tak ada tembakau, kamu ndak bisa kuliah!” kakek menegaskan.

Kakek memang tak mampu menyebutkan berapa uang yang dihasilkan rokok untuk negara, ia hanya berkeyakinan, bahwa dari rokok dan tembakau Indonesia bisa seperti ini, setidaknya selangkah menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. “Le, kamu boleh menjadi aktivis apapun. Yang penting jangan ikut-ikutan memaksa orang untuk berhenti merokok, karena merokok atau tidak adalah hak. Jangan minta mereka yang tidak merokok untuk merokok dan sebaliknya,” pungkas kakek.

Itulah seklumit kisah pemikiran kakek mengenai rokok. Banyak alasan kenapa orang Indonesia harus merokok. Namun, hanya ada satu alasan kenapa orang Indonesia harus berhenti merokok (versi para anti rokok- yang diam-diam merokok saat buang air besar). Yaitu persoalan kesehatan, yang sebenarnya masih sangat ambigu dan terkesan mengada-ada. Mereka selalu berargumen, rokok dapat membuat hidup manusia menderita, bahkan kaum ekstrimis berfatwa, “Rokok membunuhmu.” Kampanye –semi– ‘haram’ karena mendahului keputusan Tuhan.

(Visited 3,122 times, 16 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Opini