Dinamika Kehidupan Tembakau

Tembakau  merupakan salah satu tanaman yang dapat tumbuh dengan baik di beberapa wilayah Indonesia. Lombok, Temanggung, dan Madura adalah segelintir tempat yang menjadi komoditas tembakau. Namun, pemanfatan tanaman ini yang sebagian besar untuk rokok menjadi kontroversi antar beberapa pihak.

Beberapa saat yang lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Lombok dan melihat salah satu desa yang menjadi komoditas tembakau. Dusun Paok Rengge, Desa Waja Geseng, Lombok Tengah menjadi salah satu tempat pemasok tembakau Lombok. Kehidupan warga di sana bergantung pada pertanian tembakau.

Setiap tahunnya, 20% dari 128 kepala keluarga di dusun ini bisa menghasilkan 80 ton tembakau dari luas lahan 40 hektar. Satu ton tembakau kering yang mereka hasilkan tersebut rata-rata dihargai  Rp35 juta. Bisa dibayangkan beraapa penghasilan yang mereka dapatkan setiap tahunnya.

Hal inilah yang membuat petani di Dusun Paok Rengge bertahan menanam tembakau. Tanaman semusim itu dapat menanggung kehidupan mereka selama setahun penuh. Salah satu petani, Sukirman, mengatakan dirinya tak pernah sukses menamam tanaman lain kecuali tembakau. Percobaannya untuk menanam sayuran lain tak pernah sesukses tembakau.

Tekstur tanah dan kondisi alam Lombok yang relatih kering memang cocok untuk menaman tembakau yang tak memerlukan banyak air. Tak hanya itu, pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian pun sampai saat ini hanya pada pertanian tembakau. Tak ada pihak yang melakukan pendidikan pertanian lain kepada masyarakat Lombok termasuk pemeritah. Padahal, Lombok adalah masyarakat petani.

Petani tembakau Lombok pun sangat bergantung pada industri rokok karena semua hasil panen mereka hanya ditampung oleh industri rokok. Pemberdayaan dan pengetahuan pertanian tembakau pun diberikan oleh industri. Pemerintah tak pernah memberikan pemberdayaan apalagi bantuan dana terhadap para petani ini.

Faktor-faktor itu lah yang membuat mengapa petani tembakau Lombok bisa dikatakan sangat bergantung pada industri. Karena memang sampai saat ini tak ada pihak yang betul-betul memperhatikan mereka kecuali pemberdayaan dari industri. Padahal, masyarakat Lombok sangat bergantung pada pertanian.

Jika dilihat tembakau sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal. Produk turunannya tak hanya rokok tapi juga bisa berupa obat-obatan hingga minyak wangi. Namun, sampai sekarang sedikit yang sadar akan potensi tersebut. Petani tembakau pun hanya bisa bergantung pada industri rokok.

Di sisi lain, rokok merupakan produk yang masih dan selalu menjadi kontoversi bahkan di tingkat kementerian sekali pun. Produk yang menjadi gantungan hidup petani tembakau ini berisiko menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa pertanian tembakau menjadi kontroversi.

Melarang pertanian tembakau sebenarnya bukan cara yang bijak untuk mengurangi berbagai risiko yang ditimbulkan produk turunan tembakau tersebut. Begitu pula dengan pendiskriminasian petani tembakau yang tak dapat bantuan sama sekali dari pemerintah. Justru, jika pemerintah ingin mengendalikan tembakau seharusnya mereka lah yang berada di garda depan untuk membantu dan memberdayakan para petani.

Jika dibuat peraturan pengendalian tembakau maka buatlah yang tak merugikan petani pun tak menimbulkan risiko besar terutama bagi kesehatan. Kebijakan tersebut bisa dibuat misalnya dengan pengendalian jumlah ekspor dan impor, inovasi produk turunan, sampai dengan harga dan pajak yang adil untuk berbagai sektor.

Kini, memang hal itu belum terjadi dan semoga bisa ada jalan tengah yang baik bagi kehidupan tembakau di negeri ini. Sekitar dua juta pekerja yang memiliki keluarga di Indonesia saat ini bergantung pada tembakau. Maka, tak bisa begitu saja mereka diabaikan, yang dibutuhkan adalah solusi bukan kontroversi.

(Visited 371 times, 1 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Opini