Tiga Catatan Penting Soal Yogya Tertib Merokok

Ketika pertama kali mendengar kabar soal Yogya Tertib Merokok, saya langsung mencari tahu apa maksudnya. Maklum, dari hampir semua kebijakan pemerintah daerah soal ‘tertib merokok’, kebanyakan isinya melulu soal kawasan tanpa asap rokok. Namun, setelah saya menjelajah di internet mencari maksud Yogya Tertib Merokok, saya menjadi simpati terhadap kebijakan Walikota Yogyakarta.

Dari hasil pencarian saya, ada tiga poin catatan yang saya anggap penting untuk dibagikan. Mengingat ini kebijakan untuk melindungi masyarakat yang tidak merokok juga masyarakat yang merokok, ada baiknya tiga poin ini dikaji lebih dalam. Berikut adalah tiga poin tersebut.

  1. Persuasif

Ini adalah poin penting pertama, persuasif. Bukan apa-apa, kalau sebelum-sebelumnya kebijakan Pemda melulu soal larangan, bersifat represif, dan tidak memberikan ruang bagi perokok, maka dalam kebijakan/kampanye ini Pemda Yogyakarta lebih persuasif terhadap masyarakat. Pemda Yogyakarta lebih mengajak para perokok agar lebih tertib dalam merokok.

Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, menyatakan kalau inilah “saatnya menghormati yang tidak merokok”. Sebagai walikota, Haryadi pun merokok. Ia tahu kalau untuk berhenti merokok adalah hal yang sulit. Maka dari itu, ketimbang melarang masyarakat untuk merokok lebih baik dilakukan ajakan untuk menghormati yang tidak merokok.

Saya yakin dengan metode persuasif, upaya pengendalian sosial masyarakat akan lebih efektif ketimbang menggunakan metode represif. Biar bagaimanapun juga, tindakan-tindakan represif tidak banyak mendapat simpati dari masyarakat. Karenanya, hal ini menjadi penting untuk ditiru Pemda lainnya dalam menerapkan kebijakan soal rokok.

  1. Tidak Dilibatkannya Komunitas Perokok

Ketika membaca berita-berita tentang kebijakan ini, saya tidak menemukan keberadaan komunitas perokok yang diajak ikut serta melakukan kampanye tertib merokok. Saya menemukan beberapa komunitas anti rokok macam Muhammadiyah Tobacco Crysis Center yang diajak terlibat dalam kegiatan ini. Tapi kenapa komunitas perokok seperti Komunitas Kretek tidak diajak?

Saya yakin kalau Pemda Yogya mengetahui keberadaan Komunitas Kretek, mengingat komunitas ini pernah beberapa kali bersentuhan dengan pemerintah daerah terkait kebijakan-kebijakan mengenai rokok. Kalaupun bukan Walikota, pastinya dinas kesehatan yang terlibat dalam kebijakan ini tahu.

Selain itu, Komunitas Kretek sendiri sudah aktif mengkampanyekan etika merokok sejak 2011. Bahkan hingga sekarang, Komunitas Kretek masih melakukan kampanye terkait etika merokok. Karena itulah keberadaan Komunitas Kretek menjadi penting dalam kampanye etik bagi para perokok. Bukan malah melulu diisi orang-orang yang secara aktif kerap melarang-larang masyarakat untuk merokok.

  1. Ketersediaan Ruang Merokok

Inilah poin paling penting yang perlu dibahas, yakni ketersediaan ruang merokok. Sejak dulu, keributan dan konflik yang terjadi terkait masalah merokok adalah perkara ruang merokok. Masalah ini tidak pernah selesai dibahas karena tidak jelasnya batas antara ruang merokok dan kawasan tanpa rokok. Padahal, kalau perkara ini telah jelas tak bakal lagi ada konflik yang terjadi antara dua jenis masyarakat, baik yang merokok maupun tidak merokok.

Terkait kebijakan Yogya Tertib Merokok, pertanyaan terbesar yang perlu dijawab oleh pemerintah adalah dimana ruang merokok untuk masyarakat Yogya?

Kalau urusan tidak boleh merokok di angkutan umum atau dalam ruangan di tempat publik macam  kantor atau kampus, itu sudah jelas tidak boleh. Namun terkait tafsir merokok di tempat umum macam jalanan atau taman sama sekali masih buram.

Bagaimana mungkin seorang mahasiswa, macam saya, yang tidak boleh merokok dalam gedung kampus tapi masih saja dilarang merokok di taman kampus, ruang terbuka yang sirkulasi udaranya jelas-jelas lancar. Atau bagaimana nasib seorang pekerja yang sudah tidak boleh merokok di ruangan tapi masih dilarang juga untuk merokok di depan bassement? Ini perlu segera dijawab oleh Haryadi Suyuti.

Karena, sekali lagi, masalah-masalah yang timbul karena merokok adalah persoalan ruang yang belum selesai pembahasannya. Apabila perkara ruang merokok sudah selesai dan dimana para perokok boleh dan tidak boleh merokok sudah jelas, maka saya yakin tidak bakal lagi terjadi konflik diantara mereka.

(Visited 355 times, 2 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Opini