Nicotine War: Tembakau Sebagai Bahan Bakar Masa Depan

Beberapa waktu lalu beredar sebuah berita yang ditulis oleh VOA Indonesia, tentang daun tembakau yang dapat digunakan sebagai bahan bakar, etanol. Berita tersebut dimuat pada tanggal 13 Januari 2016, dengan judul “Tembakau, Bahan Bakar Masa Depan?”.

Jika kita pernah membaca sebuah buku karya Wanda Hamilton yang berjudul Nicotine War, mungkin kita akan mengkerutkan dahi sembari berucap “Hmmm,” ketika kita membaca artikel tersebut di atas. Seperti mengiyakan apa yang pernah dianalisis oleh Wanda Hamilton, bahwasanya kampanye besar-besaran anti tembakau bukan untuk kepentingan kesehatan secara murni. Namun sangat kuat kepentingan penguasaan modal atas tembakau, termasuk di Indonesia yang merupakan salah satu negara penghasil tembakau.

Pada berita tersebut dituliskan bahwa menurut Julian Bobe dari perusahaan Tyton Bio Energy Systems, bahwa saat ini di Amerika telah menghasilkan sekitar 52,5 miliar liter etanol yang sebagian besar dihasilkan dari tanaman Jagung. Namu Tyton Bio Energy Systems telah berhasil membuat etanol dari bahan baku tanaman Tembakau.

“Dengan jagung kita bisa mendapat lebih dari 1050 liter tapi kalau menggunakan tembakau kita bisa memperoleh 3500 per 0,4 hektar,” ujar Bobe.

Bahan bakar etanol seringkali dijadikan sebagai bahan tamabahan bensin, sehingga menjadi bahan bakar biofuel yang lebih ramah lingkungan. Produksi etanol dunia untuk bahan bakar transportasi telah meningkat pesat. Dari 17 miliar liter pada tahun 2000, menjadi 52 liter pada tahun 2007. Dan pada tahun 2010, produksi etanol dunia mencapai angka 86,9 miliar liter, dimana Amerika Serikat sendiri menjadi produsen paling besar yang menguasai 57,5% total produksi etanol dunia.

Maka tak heran jika Amerika Serikat, perlindungan terhadap pertanian di sektor pertembakauan begitu baik. Negara bagian Virginia merupakan penghasil tembakau salah satu penghasil tembakau terbesar di Amerika. Saat ini produksi tembakau Amerika Serikat mencapai angka sekitar 372 ribu ton, negara nomor 4 terbesar di dunia yang memproduksi tembakau.

Peneliti Institute for Global Justice (IGJ) Salamudin Daeng mengatakan, pelbagai proteksi tarif dan nontarif diberikan baik kepada petani maupun industri pengguna tembakau. Subsidi kepada petani tembakau di Amerika Serikat sepanjang 1995 hingga 2009 mencapai 944 juta dolar AS. Menarik, karnea Amerika Serikat adalah salah satu negara yang memberikan uang besar untuk kampanye anti tembakau di dunia, walaupun mereka sendiri belum juga menandatangani Framework Convention of Tobbaco Control (FCTC).

Wanda Hamilton dalam bukunya mengatakan bahwa isu kesehatan sebenarnya hanya digunakan sebagai dalih untuk memerangi produksi tembakau di berbagai belahan dunia. Termasuk di Indonesia yang merupakan produsen tembakau terbesar nomor 6 di dunia dengan jumlah produksi kurang lebih 164 ribu ton per tahunnya.

Berkaitan dengan berita bahwa saat ini di Amerika Serikat sedang digalakan produksi etanol yang menggunakan bahan baku tanaman tembakau. Maka semakin kuat analis Wanda Hamilton, tentang kepentingan lain dibalik isu kampanye anti tembakau bagi kesehatan. Tujuan akhirnya tentu adalah penguasaan dan monopoli produk pertanian tembakau oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat.

Jika kampanye anti tembakau telah berhasil, produksi tembakau semakin menurun, peruntukan tembakau sebagai bahan baku rokok dan juga konsumsinya semakin menurun, maka hanya negara-negara majulah yang masih memproduksi tanaman tembakau dalam jumlah yang besar. Dominasi inilah yang ingin dilakukan, agar dapat menguasai pasar dunia, baik diperuntukan sebagai produk rokok maupun etanol sebagai bahan bakar.

Dan selanjutnya, negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia akan kembali menjadi negara yang mengimpor tembakau untuk berbagai kebutuhannya.

Sebuah metode yang pernah juga diterapkan oleh negara-negara maju untuk menghancurkan produksi minyak kelapa di Indonesia. Seperti tertuli dalam buku Membunuh Indonesia, minyak kelapa dianggap buruk bagi kesehatan, sehingga petani kelapa di Indonesia hancur dan miskin. Lalu Amerika Serikat datang dengan menawarkan produk minyak kedelai yang dianggap lebih baik daripada minyak kelapa.

Produksi tembakau sebagai bahan bakar etanol cukup potensial untuk semakin membesar, mengingat saat ini dunia sedang berlomba-lomba untuk memproduksi bahan bakar yang bukan berasal dari energi fosil. Rupanya tembakau menjadi salah satu alternatif bahan pembuatan etanol, yang terus dikembangkan oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat.

Tembakau yang mempunyai potensi tersebut harusnya dapat dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia, untuk diberikan berbagai perlindungan terhadap stakeholder pertembakauan. Bukan terus dipersulit atau diberangus perlahan-lahan. Agar kita tidak lagi menyesal pada akhirnya nanti, jika Tulus Abadi dan sekawannya berhasil menghilangkan tembakau dari bumi Nusantara.