NU VS Muhammadiyah: Dari Agama ke Kesehatan

Meskipun telah mengalami transformasi sedemikian rupa, perbedaan paham antara NU dan Muhammadiyah akan selalu ada. Namun berbeda dengan perbedaan paham abad ke-20 yang melulu berkenaan dengan isu-isu keagamaan, perbedaan paham di antara kedua organisasi Islam terkemuka di awal abad ke-21 justru berkaitan dengan soal kesehatan. Sekarang masing-masing mempunyai pendapat yang agak berbeda mengenai rokok.

Sementara umumnya orang NU menganggap rokok adalah bagian dari tradisi yang justru harus dipertahankan, tokoh-tokoh Muhammadiyah menyatakan dengan tegas bahwa rokok mengandung nikotin yang berbahaya bagi kesehatan. Pendapat kalangan NU didukung oleh argumen moral ekonomi mengenai keberadaan para petani tembakau. Jika kampanye anti-rokok terus menerus digencarkan, para petani tembakau yang diklaim adalah warga NU itu akan menerima dampak buruknya. Di sisi lain, kalangan Muhammadiyah bergeming dengan argumen medis yang menyatakan bahwa tidak ada alasan sama sekali mempertahankan tradisi yang buruk bagi kesehatan itu.

Dalam perselisihan tersebut rokok adalah simbol kebudayaan. Bagi kalangan NU, merokok adalah aktivitas yang sulit dipisahkan dari kehidupan dunia santri. Entah sejak kapan digulirkan, suatu kesan mengenai hubungan antara rokok dan santri dibangun sedemikian rupa. Kesan ini memang terasa tidak dibuat-buat, sebab jika menengok pesantren-pesantren NU, atau bahkan kantor-kantor NU, kita akan melihat orang-orang merokok di mana-mana. Sebaliknya, di sekolah-sekolah Muhammadiyah dan juga di kantor-kantornya, aturan untuk tidak merokok bisa dilihat dengan mudah.

Saya melihat rokok sebagai simbol kebudayaan merupakan bagian dari perdebatan mengenai modernitas. Bagi kalangan NU, merokok justru meneguhkan identitas yang dilekatkan kepada mereka sebagai organisasi tradisionalis. Identifikasi diri sebaliknya terjadi di kalangan Muhammadiyah. Merokok dianggap tidak modern, sebab modernitas mensyaratkan suatu komitmen hidup sehat yang hal itu pasti tidak akan tercapai jika seseorang masih mengkonsumsi rokok yang mengandung nikotin.

Pergeseran dari paham keagamaan ke kesehatan dalam dinamika relasi NU dan Muhammadiyah menarik diamati lebih lanjut karena hal ini cukup pasti melibatkan kepentingan kapitalisme, yaitu industri rokok dan farmasi. Sementara industri rokok sering dikatakan melakukan pendekatan dengan elit-elit NU, industri farmasi digosipkan melakukan hal serupa dengan elit-elit Muhammadiyah. Relasi antara kalangan industri dan agamawan seperti ini bukan rahasia lagi dalam sejarah sosial keagamaan kita. Bahkan secara teoritis, relasi antara kapitalisme dan agama telah menjadi salah satu pokok dalam wacana teori sosial sejak lama.

Pada akhirnya kita akan menunggu sikap pemerintah sebagai aparat negara. Dalam hal ini kelihatan sekali mereka berdiri di atas dua kaki yang melangkah ke arah yang berbeda. Satu kaki melangkah ke arah sektor penerimaan negara dari industri cukai rokok yang luar biasa, satu kaki lainnya melangkah ke dunia internasional yang didominiasi oleh wacana medis di mana rokok dianggap barang haram yang harus dibuang jauh-jauh ke keranjang sampah sejarah. Langkah-langkah yang saling berseberangan tersebut akan terus membayangi latar dinamika kelompok-kelompok masyarakat, termasuk organisasi-organisasi keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah.