Ketangguhan Industri Kretek Pada Masa Krisis

Memasuki tahun 2016, kondisi perekonomian tak kunjung membaik. Perlambatan ekonomi yang terjadi sejak tahun lalu serta dimulainya era Masyarakat Ekonomi Asean membuat banyak pengusaha ketar-ketir. Akibatnya, PHK dimana-mana.

Sejak memasuki tengah tahun 2015, pemecatan sepihak sebagai dampak efisiensi menjalar ke daerah-daerah. Hampir di seluruh sektor industri mengalami gelombang PHK. Puluhan ribu pekerja terkena dampaknya. Meski begitu, ada satu sektor industri yang tidak terlalu terdampak perlambatan ekonomi dan melakukan PHK besar-besaran, yakni industri kretek.

Secara keseluruhan memang ada dua pabrik kretek yang ditutup oleh satu perusahaan, Sampoerna. Namun hanya Sampoerna, yang kini sudah dimiliki korporasi asing Philip Morris, yang melakukan hal ini, sedangkan beberapa perusahaan besar lainnya tidak.

Industri kretek sendiri sudah pernah membuktikan kalau mereka mampu bertahan dalam kondisi sulit seperti yang terjadi saat krisis moneter pada tahun 90-an. Saat itu begitu banyak perusahaan tumbang, PHK terjadi dimana-mana, namun industri kretek tetap tegak berdiri dan mampu menjadi penyuplai keuangan negara yang kala itu tengah goyah.

Menurut WS Rendra, dalam kesaksiannya di Mahkamah Konstitusi dalam sidang perihal Pengujian UU Nomor 32 Tahun 2002 terhadap Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, menyebutkan:

“Kretek itu sekarang dalam masa krismon bisa bertahan dengan baik karena cengkehnya dari dalam negeri, kertasnya dalam negeri, tembakau dalam negeri, saosnya dalam negeri, lalu konsumennya yang terbesar dalam negeri, sehingga akhirnya menjadi suatu kekuatan ekonomi yang baik. Tentu saja sebagai seniman dan budayawan saya sangat menghargai, sangat mempertimbangkan sekali proses pembangunan. Maka saya menganggap bahwa survival dari rokok kretek ini membantu kekuatan pembangunan Indonesia.”

Begitu pula yang terjadi pada kondisi perlambatan ekonomi yang terjadi saat ini. Kretek tetap bertahan dan masih menghidupi jutaan orang yang terlibat dalam industri ini. Bahkan, industri tembakau berhasil memberikan sumbangsih yang besar bagi penerimaan negara melalui cukai berkat angka RP 139 Triliun. Karenanya, Kementrian Keuangan memberi penghargaan bagi beberapa perusahaan penyumbang cukai terbesar.

Meski begitu, industri tembakau yang berperan besar dalam kehidupan jutaan orang serta memberi sumbangan besar bagi penerimaan negara tetap saja dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Ketika kondisi krisis, pemerintah membuat beberapa paket kebijakan untuk memudahkan kehidupan banyak industri, namun tidak bagi industri tembakau.

Sepanjang perjalanan bangsa dan negara, industri tembakau melulu dipersulit melalui beragam regulasi serta kampanye-kampanye negatif tentangnya. Agak miris memang, mengingat sumbangsih industri kretek yang besar, pemerintah justru semakin menjadi membuat beragam regulasi yang malah akan mematikan industri kretek, terlebih industri skala rumahannya.

Andai nantinya industri yang tahan banting ini akhirnya roboh, maka kita sudah tahu siapa saja yang bertanggung jawab atas matinya kehidupan jutaan orang yang bergantung pada industri ini.