Mengulang Kembali Kejayaan Kretek

Sejarah mencatat industri kretek sebagai salah satu industri yang tangguh menghadapi berbagai badai ujian. Setelah ditinggal berpulang penemunya, Haji Djamhari, tak lantas membuat kretek ditinggalkan pecintanya. Permintaan yang tinggi memunculkan usahawan-usahawan baru dengan cap dagang sendiri di berbagai daerah. Suatu wujud kemandirian yang luar biasa di bawah cengkeraman penjajah. Bahkan manisnya bisnis ini tercium juga oleh pengusaha Tionghoa.

Namun persaingan justru tidak dapat dihindari. Meletuslah kerusuhan di Kudus pada tahun 1918 hingga meluas ke berbagai tempat. Dalam tempo tidak begitu lama, industri ini kembali menggeliat. Pada tahun 1924 cap dagang Bal Tiga milik Nitisemito menjadi primadona karena promosinya yang out of the box di kala itu.

Serangkaian terpaan badai yang menghantam industri kretek tidak hanya datang dari negeri sendiri. Pada tahun 1928 saat industri ini masih bergantung pada impor cengkeh, kegagalan panen di negeri penghasil cengkeh dunia yang membuat harganya terkerek pun turut memukul industri dalam negeri yang justru tengah meningkat permintaannya. Belum lagi membanjirnya rokok putih yang menjadi saingan terberat.

Perekonomian dunia yang morat-marit ditengarai jatuhnya bursa saham di New York pada tahun 1929, mendorong pemerintah menetapkan beban pajak atas hasil tembakau. Maka, sejak tahun 1932 pabrik rokok harus membeli pita cukai yang dalam prakteknya berlanjut sampai sekarang. Lagi-lagi industri kretek terpuruk dan lagi-lagi kembali bangkit.

Sejarah mencatatnya begitu rapi, hanya saja belum banyak masyarakat yang mau meluangkan waktu sejenak menengok masa lampau lewat literatur. Sehingga belum juga menginsafi negeri yang konon sudah merdeka dan berdaulat ini ternyata tunduk oleh health issue yang dibuat-buat oleh negeri saingan dengan produk rokok putihnya dengan memanfaatkan pemerintah, jurnal ilmiah -yang ternyata banyak sekali bertentangan antara satu dan lainnya- dan iklan di media massa.

Sementara kekuatan elemen-elemen masyarakat yang peduli nasib kretek dan bangsa sebatas ‘sesumbar’ di media massa belum cukup kuat untuk membangkitkan kembali kejayaan industri kretek. Perlu langkah tegas untuk menolak pernyataan membunuhmu yang kini didramatisasi dengan gambar sedemikian rupa senonohnya dengan cara yang sama.

Bangsa ini sebenarnya sudah memulainya melalui produk Sehat Tentrem asal Jombang yang berani menegaskan “rokok ini dapat menimbulkan kesehatan” pada kemasannya. Bukan tidak mungkin industri kretek akan kembali berjaya berkat langkah out of the box yang bermunculan dan akan bermunculan berikutnya.

(Visited 252 times, 3 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Opini